BI: Tutup Tahun Bank Harus Perhatikan ATM

      Tidak ada Komentar

difiKepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara Difi Ahmad Johansyah kepada wartawan di Medan Jumat (9/12). (Berita Sore/Hj Laswie Wakid )

* Kebutuhan Uang Kartal Rp 2,4 Triliun

MEDAN (Berita): Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara meminta perbankan pada tutup tahun 2016 ini agar senantiasa memperhatikan pemenuhan ATM nya agar tidak terjadi gangguan di mesin ATM tersebut sekaligus transaksi peredaran uang berjalan lancar.

“Menjelang tutup tahun 2016 dan banyak hari libur maka diimbau perbankan agar perhatikan ATM tak boleh kosong,” tegas Difi Ahmad Johansyah, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara kepada wartawan di Medan Jumat (9/12).

Saat itu Difi didampingi Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Dadal Angkoro, Kepala Tim Advisory Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Daerah Budi Trisnanto dan Kepala Kasir Faisal. Difi menyatakan BI sudah mengirimkan surat ke perbankan yang mengimbau agar jangan terjadi kekosongan kas pada ATM. “BI mendorong perbankan untuk menarik uangnya termasuk uang lusuh,” kata Difi.

Kebutuhan Uang

Mengenai kebutuhan uang, Difi mengatakan menjelang natal dan tahun baru 2016,  Kebutuhan uang kartal di Medan sekitarnya mencapai Rp 2,4 triliun, meningkat 4 persen dibanding tahun lalu Rp 2,3 triliun.

Difi menyebut untuk memperlancar tugas pemenuhan uang kartal, BI sudah melaksanakan pelayanan penarikan oleh perbankan sejak 5 Desember – 30 Desember 2016. Juga bisa menukar melalui kas keliling mulai 19 Desember 2016.

Dengan memperhatikan proyeksi kebutuhan uang kartal untuk melayani masyarakat dalam perayaan natal dan tahun baru, Difi mengimbau perbankan agar tetap memonitoring ATM-ATM nya supaya tak terjadi kekosongan di mesin ATM.

Ia menambahkan uang masuk (inflow) di Sumut sebesar Rp27,08 triliun, sedangkan uang keluar (outflow) Rp13,2 triliun. “Uang masuk lebih besar dari uang keluar,” tegas Difi.

Namun menurutnya, karakteristik dua provinsi di Sumatera; Sumut dan Sumbar hampir sama yakni uang masuk lebih besar dibanding uang keluar. “Kondisi ini terjadi karena memang dua provinsi itu merupakan daerah perdagangan. Jadi besarnya uang masuk ke Sumut banyak berasal dari luar daerah ini,” katanya. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>