Berinteraksi Dengan Alquran, Tindak Lanjut 212.

      Tidak ada Komentar

Sejatinya harapan dari pembelaan umat Islam terhadap Alquran dengan satu aksi damai akan melahirkan aksi berikutnya dalam bentuk berinteraksi dengan Alquran secara benar

Pasca aksi Bela Alquran, Bela Islam 212 yang berjalan aman dan tertib dapat dipastikan akan menorehkan tinta emas amat bersejarah dalam perjalanan umat ini. Lanjutan aksi yang bermartabat tersebut adalah munculnya aksi berikutnya dalam bentuk konkrit. Paling tidak dengan peristiwa ini kita dapat memetik hikmah berharga, bagaimana sebenarnya umat ini membela kitab sucinya dan berinteraksi denganNya.

Karena membela Alquran ketika dinistakan adalah hak dan kewajiban kita untuk memeliharannya dalam bentuk aksi, agar kemuliaan dan nilai nilai Alquran terwujud dalam konstitusi. Tetapi pemeliharaan terhadap Alquran yang lebih konkrit lagi adalah pemeliharaanNya dalam bentuk perilaku dan pemahaman yang sesungguhnya. Meskipun Alquran telah dijamin oleh Allah pemeliharaanya sebagaimana Firman Allah SWT: Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Alquran dan Kami juga yang memelihranya (QS. Al Hijr: 9).

Namun penjagaan manusia tetap diikutsertakan. Alasannya penggunaan kata “Kami” di dalam ayat diatas bukan berarti penjagaan Alquran hanya diserahkan kepada Allah SWT tanpa campur tangan manusia. Pemeliharaan manusia juga dilibatkan dalam menjaga kesucian dan kemurnian Alquran.

Hal itu dapat difahami dari kata “Kami” yang diartikan dari bahasa Arab nahnu biasanya diartikan untuk menunjukkan kemuliaan dan keagungan (litta’zhim), bukan untuk menunjukkan adanya campur tangan makhluk dalam urusan Tuhan seperti banyak digunakan di berbagai ayat yang menggunakan kata jamak dalam penciptaan Langit dan Bumi, penciptaan manusia dan sebagainya.

Tetapi dalam persoalan penjagaan Alquran, kata “Kami” adalah sebagi isyarat yang menunjukkan bahwa ada campur tangan manusia dalam penjagaannya dengan tidak mengurangi ke Mahakuasaan Allah SWT dalam pemeliharaanNya. Hikmah dari keterlibatan manusia dalam pemeliharaan Alquran agar manusia turut mulia dalam kemuliaan Alquran.

Dari defenisi Alquran yang disepakati oleh para ulama yaitu sebagai kalam Allah yang mu’jiz (melemahkan) diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, berbahasa Arab, tertulis di mashaf, beribadah membacanya, dinukilkan dengan jalan mutawatir diawali dengan sunah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas juga dapat disimpulkan bahwa di sana ada peran manusia yaitu menulisnya di lembaran kertas.

Berikutnya, indikator adanya campur tangan manusia dalam pemeliharaan Alquran adalah dengan memberikan kemudahan kepada manusia unruk menghafalnya, sebagaimana firman Allah SWT: sesunhgguhnya Kami mudahkan Alquran untuk diingat/dihafal (QS. Alqamar: 17). Ayat ini empat kali diulang dalam surah tersebut.

Motivasi baca Alquran juga cara efektif terhadap pemelihraan Alquran, dimana membacanya bernilai ibadah meskipun tanpa niat. Tidak seperti ibadah shalat dan lainnya harus disertakan niat. Seorang Muslim harus mampu membaca Alquran dengan baik, karena setiap satu huruf yang dilafalkan bernilai pahala, Nabi Muhammad SAW bersabda: Barang siapa yang membaca Alquran, maka baginya sepuluh kebaikan, bukanlah ‘’alif lam mim’’ adalah satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.

Bacaan yang benar selain bertujuan untuk memelihara Alquran seabagaimana dialeg aslinya juga dapat menjadi obat penawar bagi hati seorang Muslim yang dirundung kegelisahan menghadapi problematika kehidupan. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah al-Isra’ ayat 82: Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Lebih penting dari semua itu dalam upaya pemeliharaan Alquran adalah, penghayatan dan pemahaman makna tersurat dan tersirat dalam dari Alquran. Dimulai dari mengetahui arti ayat yang dibaca, kemudian memahami isi kandungannya. Dengan mengetahui arti ayat yang dibaca, maka seseorang akan membaca dengan penuh kekhusu’an, pada gilirannya Alquran akan terpelihara dalam karakternya.

Sebaliknya, seseorang yang tidak mengetahui arti ayat yang sedang dibaca, laksana keledai membawa berbagai bentuk buku-buku di atas punggungnya (Kalhimâru yahmi asfârôn) namun tetap diberi pahala oleh Allah SWT. Pemeliharaan Alquran bagi yang tidak memahmi isi kandungan Alquran adalan pemeliharaan dalam bentuk fisik.

Penguasaan keilmuan tentang Alquran akan mengokohkan keyakinan kita tentang kebenaran Alquran sebagai panduan dalam kehidupan. Ini juga dapat diartikan sebagai pemeliharaan Alquran dalam bentuk pedoman.

Nabi Muhammad SAW tidak hanya memerintahkan kepada umatnya untuk membaca dan menghayati Alquran, lebih dari itu Nabi SAW menyuruh umatnya mengamalkan isi kandungan Alquran dalam kehidupan sebagai kitab pedoman untuk menjalani kehidupan.

Sejatinya harapan dari pembelaan umat Islam terhadap Alquran dengan satu aksi damai akan melahirkan aksi berikutnya dalam bentuk berinteraksi dengan Alquran secara benar. Wallahu’alamu bishshawab. ***** ( H. Muhammad Nasir Lc, MA )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>