Sektor Pertanian Masih Bermasalah

      Tidak ada Komentar

BANDA ACEH ( Berita ) : Akademisi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Dr Mukhlis Yunus minta Pemerintah Aceh memprioritaskan pembangunan sector pertanian yang masih masalah dan mengganjal perlu segera dibenahi.

“Biaya produksi, nilai jual dan cara memasarkan hasil produksi, alat produksi petani terutama ketersediaan lahan sebagai alat produksi kebutuhan yang terus berkurang karena terjadinya alih fungsi lahan secara besar-besaran sepuluh tahun terakhir,“ katanya.

Banyak petani beralih profesi menjadi buruh tani menyusul ketidak tersediaan lahan, kata dosen senior Unsyiah Banda Aceh, DR Mukhlis Yunus kepada Wartawan , Minggu (21/8). “Akibatnya petani tidak memiliki penghasilan tetap alias menjadi pekerja serabutan atau upahan,” katanya.

Ketersediaan alat produksi yang masih menjadi dilema, sementara Aceh selalu didengungkan daerah kaya, qanun atau regulasi khusus mengatur kepemilikan tanah tidak ada, baik untuk perseorangan maupun perusahaan terbatas.

“Pemerintah Aceh diharapkan membuat regulasi agar ada kepastian dan jaminan bagi rakyat memiliki tanah,” kata Direktur Magister Manajemen Unsyiah ini. Jika tidak segera dilakukan, para pemodal, baik lokal maupun luar, dengan leluasa mengambil alih lahan tidur atau hutan untuk disulap menjadi perkebunan.

“Kalau itu terjadi, penduduk setempat jadi buruh di negeri sendiri. Jadi perlu ditetapkan regulasi membatasi luas kepemilikan lahan petani atau masyarakat tidak mencari pekerjaan di kota,” ujarnya.

Alat produksi harus menjadiperhatian pemerintah mengingat mayoritas rakyat Aceh petani. “Biaya produksi salah satu dari sekian keluhan petani, seperti pupuk dan pestisida setiap musim tanam naik, namun tidak diikuti harga gabah. Bahkan tidak hanya mahal biaya produksi, tapi kelangkaan pupuk menjadi penghambat aktifitas produksi,” kata dosen Fakutas Ekonomi Unsyiah itu.

Jangan Abaikan Petani Ketua Umum Serikat Tani Islam Indonesia (STII) Aceh Ir.M. Amin Affan, M.Si meminta pemerintah memperhatikan petani. “Jangan abaikan petani,kita makan kebanyakan dari hasil petani,“ ujarnya.

Dicontohkan, selama ini pupuk bersubsidi urea untuk petani sering langka dan harga tinggi membuat petani kewalahan. “Di Aceh mayoritas masyarakat petani, kebun dan pelaut.

Pemerintah harus memajukan tiga sektor itu, sehingga ekonomi masyarakat bisa maju,“ ungkapnya.Dikatakan, petani di Aceh berkisar 80 persen, namun aneh masyarakat masih menikmati hasil impor, disebabkan bantuan pemerintah tidak tersalurkan sebagaimana mestinya. Bahkan,terkadang tidak sampai ke petani.(WSP/b09/I)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>