OJK Sumbagut Dorong Perusahaan Jadi Emiten Di Pasar Modal

      Tidak ada Komentar

MEDAN (Berita): Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional (KR) 5 Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) terus menerus mendorong perusahaan yang ada di Sumbagut, khususnya di Sumatera Utara untuk segera menjadi emiten di pasar modal seiring dengan banyaknya potensi perusahaan di daerah ini yang pantas masuk bursa.

“Saat ini kami fokus mendorong perusahaan-perusahaan supaya mau menjadi emiten di pasar modal,” tegas Ahmad Sukro Tratmono, Kepala Kantor OJK KR 5 Sumbagut kepada wartawan usai meresmikan Pusat Informasi Go Public Medan yang terletak di Jalan Asia Medan Kamis (18/8) pagi.

Sukro didampingi Kepala Pusat Informasi Go Public Medan Muhammad Pintor Nasution menambahkan pada tahun ini PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memang fokus terhadap peningkatan jumlah emiten.

Oleh karena itu Kantor Bursa Efek Indonesia Perwakilan Medan diubah namanya menjadi Kantor Pusat Informasi Go Public Medan yang menunjukkan komitmen PT BEI untuk fokus meningkatkan perusahaan yang melakukan go public di pasar modal. Hal serupa juga dilakukan di lima daerah di Indonesia yakni selain Medan di Semarang, Bandung, Surabaya dan Makassar.

“OJK bekerjsama dengan Pusat Informasi Go Public untuk lebih intens melakukan sosialisasi tentang Go Public kepada pemilik perusahaan sehingga jumlah perusahaan terbuka akan meningkat,” kata Sukro.

Ia menyebut emiten yang berasal dari Sumut baru lima yakni PT Bank Sumut (obligasi), PT Bank Mestika, PT TPL, PT PGLI dan terakhir PT Atmindo. Sementara jumlah perusahaan yang terdaftar di Sumut sebanyak 963 perusahaan pada tahun 2013 (sumber BPS).

“Saya berharap dengan relaunching kantor PT BEI Perwakilan Medan menjadi kantor Pusat Informasi Go Public Medan semakin banyak peruahaan dari Sumut menjadi perusahaan terbuka,” kata Sukro.

Menurutnya, per Juli 2016 jumlah perusahaan tercatat di BEI sebanyak 531 emiten. Jumlah ini lebih rendah dari negara-negara Asia seperti Singapura lebih dari 900 emiten, bahkan Malaysia mencapai lebih 1000 emiten pada tahun 2016. “Jadi peningkatan emiten merupakan hal yang sangat penting dilakukan,” tegasnya.

Satu sisi di tengah perekonomian dunia yang masih menghadapi tuntutan global, kinerja Pasar Modal terus menunjukkan arah menggembirakan. Nilai kapatilisasi saham di BEI terus menunjukkan pergerakan positif. Pada 5 Agustus 2016, nilai kapitalisasi pasar saham mencapai Rp5.839 triliun lebih sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini terus menembus rekor-rekor sebelumnya.

Nilai rata-rata perdagangan saham harian, tambah Sukri, juga terus menerus menunjukkan peningkatan. Dalam tujuh bulan pertama tahun ini, nilai perdagangan meningkat sangat signifikan dari Rp5.764 miliar pada tahun lalu menjadi Rp6.159 miliar. “Pergerakan indikator Pasar Modal kita sangat baik dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita. Dari perkembangan indeks di regional, pertumbuhan IHSG aalah tertinggi yaitu sebesar 18,1 persen,” katanya.

Sukro menyebut tantangan yang dihadapi ke depan antara lain keterbatasan jenis produk dan belum optimalnya jumlah investor, termasuk jumlah emiten. Padahal Pasar Modal, memungkinkan perusahaan meraih dana yang dibutuhkan baik untuk operasional maupun pengembangan usaha.

Dengan menawarkan saham, maka kepemilikian dalam perusahaan menjadi luas. Kalau penawaran obligasi, kepemilikian dalam perusahaan tidak berubah, namun perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar obligasi kepada pemegang obligasi.

Pasar Modal, jelas Sukro, tempat efektif perusahaan menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) seperti transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, fairness dan independensi diakomodir dengan baik dalam peraturan-peraturan Pasar Modal. Dengan menjadi perusahaan terbuka di Pasar Modal maka nama perusahaan akan sering muncul di media sehingga semakin lebih dikenal masyarakat.

Kepala Pusat Informasi Go Public Medan Muhammad Pintor Nasution menambahkan selain lima perusahaan yang sudah menjadi emiten di Pasar Modal, pihaknya juga sudah bersosialisasi kepada perusahaan-perusahaan dan ada lima calon emiten di daerah ini. Namun dari lima itu, hanya tiga yang berpotensi, satu diantaranya yakni perusahaan sarung tangan karet akhir tahun ini atau paling lama awal tahun 2017 diharapkan sudah go public di Pasar Modal.

Kendala perusahaan-perusahaan di Sumut belum mau go public, menurut Pintor karena masalah pajak dan tidak sepahamnya para owner perusahaan. Padahal kehadiran di go public justru manfaatnya bisa menyelesaikan pajak dan efek lain kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan itu makin besar. “Kita akan terus dorong perusahaan-perusahaan di daerah ini agar dapat go public,” jelas Pintor.

PT BEI kini mengubah target dari peningkatan jumlah investor menjadi jumlah emiten. Jumlah investor di Sumut saat ini mencapai 20.862, total aset saham Rp 4,237 triliun. Aktivitas di bursa itu, paling banyak orang yang berumur di atas 40 tahun karena pada usia itu merupakan produktif yang mampu menghasilkan dana sendiri. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>