Pelabuhan Mulai Tinggalkan Sistem Manual

      Tidak ada Komentar

Medan ( Berita ) : Sejumlah pelabuhan di Indonesia mulai meninggalkan sistem manual karena sedikit semi sedikit beralih ke sistem berbasis internet yang mengintegrasikan seluruh pelayanan kepelabuhanan yang disebut Inaportnet.
Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Bay Muhammad Hasani dalam diskusi di Medan, Sumatera Utara, Minggu [21/08] , mengatakan pelabuhan yang menerapkan sistem Inaportnet pada 2016 adalah Pelabuhan Makassar, Belawan, Surabaya, dan Tanjung Priok. “Tahun ini akan diterapkan di empat pelabuhan, yang pertama Makassar, Belawan sedang proses, Surabaya menyusul dan September Tanjung Priok,” katanya.
Bay menilai proses penerapan Inaportnet cenderung cepat karena hanya butuh sosialisasi dua bulan di Makassar dan dua minggu di Belawan. Sementara, lanjut dia, untuk di Surabaya masih dalam tahap koordinasi dengan Pelindo III. “Kami menunggu sistem dari Pelindo III yang akan diintegrasikan dan dioperasikan ke Inaportnet,” katanya.
Namun, dia menargetkan Agustus ini sistem Inaportnet di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya bisa rampung.
Sama halnya di Surabaya, dia mengatakan untuk Pelabuhan Tanjung Priok juga masih dalam tahap koordinasi dengan PT Pelindo II. “Secara umum, 80 persen sudah siap,” katanya.
Bay menjelaskan dengan Inaportnet proses izin masuk keluarnya kapal bisa dilakukan dengan cepat maksimal hanya 1,5 jam dan sudah tidak perlu lagi tatap muka dengan petugas karena semuanya sudah tersistem.
Singkatnya, Inaportnet tersebut berupa portal elektronis yang terbuka dan netral untuk memfasilitasi pertukaran data dan informasi pada layanan kepelabuhanan secara cepat, aman, dan mudah.
Portal tersebut terintegrasi dengan instansi pemerintah terkait, badan usaha pelabuhan, dan pelaku industri logistik untuk meningkatkan daya saing komunitas logistik Indonesia.
Inapornet merupakan sistem layanan tunggal yang mengintegrasikan layanan kebutuhan administrasi perkapalan di seluruh instansi terkait di pelabuhan. Selain itu, sistem tersebut memungkinkan pengurusan administrasi online terintegrasi untuk surat izin kelaikan berlayar, surta izin kesehatan kapal, surat bebas karantina, izin masuk dan keluar bagi pekerja kapal, serta berbagai hal lain yang diperlukan sebuah kapal untuk sandar atau berlayar.
Tujuan utama dari penerapan inaportnet, yaitu untuk mengurangi waktu sandar kapal di pelabuhan. Namun, Bay menambahkan Inaportnet juga mencegah masuknya kapal bodong karena sistem akan menolak apabila dalam pendaftaran kapal datanya tidak sesuai. “Seluruhnya sudah menggunakan sistem, tidak mungkin ada kesepakatan, kalau kapal itu belum terdaftar sudah pasti ditolak,” katanya.
Inaportnet akan tersebar di seluruh unit pelaksana teknis serta terintegrasi Badan Usaha Pelabuhan, seperti Pelindo I,II,IIIdan IV, Kantor Bea dan Cukai, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Kantor Karabtina Tumbuhan, Kantor Karantina Ikan dan Kantor Imigrasi di Pelabuhan.
Secara umum Inaportnet direncanakan akan diterapkan di seluruh pelabuhan Indonesia, namun dalam waktu dekat ini akan diterapkan di 16 pelabuhan, yaitu Belawan, Batam, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, Tanjung Emas, Bitung, Dumai, Panjang, Banten, Tanjung Uban, Balikpapan, Banjarmasin, Sorong, Manggar dan Ambon.
Ditemui terpisah, Wakil Ketua Umum Insa Bidang Luar Negeri Suyono menyambut baik dengan penerapan Inaportnet yang terua digenjot oleh Kemenhub. “Sistem ini akan mempercepat seluruh proses, diharapkan turut andil untuk menekan biaya logistik,” katanya. (ant )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>