Banyak BKM Belum Berfungsi

      Tidak ada Komentar

EldinWALI Kota Medan Dzulmi Eldin Menyampaikan Kata Sambutan Sekaligus Menutup Acara Seminar Manajemen Masjid Di Hotel Grand Kanaya Medan, Sabtu (20/8). (Repro/WSP/Rizky Rayanda/C )

MEDAN ( Berita ) : Dalam pengelolaan masjid, banyak Badan Kenaziran Masjid (BKM) yang tidak berfungsi, bahkan ada masjid yang BKM pun tidak ada. Lebih ironi, pelaksanaan shalat berjamaah kadang tidak ada (tidak rutin setiap waktu).

Hal tersebut dikatakanTohar Bayoangin Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Sumut yang menjadi pembicara dalam Seminar Manajemen Masjid Harian Waspada di Hotel Grand Kanaya Medan, Sabtu (20/8).

Hadir dalam acara tersebut Wali Kota Medan Dzulmi Eldi, dan Pemimpin Umum Harian Waspada Hj.Rayati Syafrin. Selain Tohar yang menyajikan materi tentang “Profil Masjid Di Sumatera Utara”, seminar yang bekerjasama dengan Fakultas Dakwah UIN SU ini juga menghadirkan pembicara lain Dr Nana Rukmana (Manajemen Masjid Dalam Menghadapi Modernitas dan Tantangan Global), dan Prof Abdullah ( Revitalisasi Fungsi Masjid).

“Ada juga masjid yang belum memiliki sertifikat,hanya memiliki alas hak,bangunan masjid yang tidak memiliki IMB, dan BPN yang masih melihat sebelah mata dalam pengurusan sertifikat masjid.S

elain itu masih banyak masjid yang belum dikalibrasi (SK penentuan arah kiblat),” ujar Tohar. Isu aktual masjid lainnya, lanjut Tohar, adalah SKBKM belum jelas dan ada hanya SK kepala desa/masyarakat, daftar inventaris masjid/aset belum ada, banyak masjid belum memilikikas (buku kas), masih ditemu-kan juga masjid yang belum memiliki AD/ART, RKT dan visi misi, tidak memiliki nomor rekening bank atas nama BKM masjid dan stempel, keterbatasan kemampuan membuat proposal dan persyaratannya.

Sementara Dr Nana Rukmana D. Wirapradja yang merupakan Ketua Umum Masjid Raya Bani Umar Graha Bintaro Raya Tangerang mengatakan, membangun masjid tidak terlalu sulit. Siapapun dapat melaksanakan asalkan mempunyai kemauan dan sumber daya yang memadai.

Bagian yang sulit, kata Nana, adalah memeliharanya agar masjid itu tetap baik, terawat, dan indah. Masalah pemeliharaan ini merupakan kelemahan dan kekurangan umat Islam yang menjadi pengurus BKM.

Diakuinya, banyak masjid yang dibangun dengan baik, megah dan indah, tetapi kini masjid-masjid itu tidak terawat dengan baik, rusak dan kotor. “Saya tekankan, tempat yang sangat penting dipelihara kebersihan dan keindahannya adalah ruangan untuk shalat, tempat wudhu dan toilet. Yang disebut terakhir ini paling parah keadaan kebersihannya maupun pemeliharaannya oleh sebagian besar masjid diIndonesia. Sehingga seringkali tercium bau kotoran dan najis menyengat hidung para jemaah,” kata Nana.

Apabila kebersihan dan keindahan masjid dapat dijaga dengan baik, itu berarti umat Islam benar-benar bertanggungjawab terhadap rumah Allah SWT. Masjid yang terjaga kebersihan dan keindahannya merupakan salah satu cara memakmurkan masjid, karena kebersihan dan keindahan ini berpengaruh besar kepada orang yang melakukan ibadah.

Nana juga menyinggung soal mikrophone bahwa keberadaan microphone masjid.Suara merdu, indah lantuan azan mampu menggetarkan hati umat beragama lain hingga akhirnya memeluk Islam. Nana yang pernah mengislamkan pasangan suami istri,dan mengislamkan seorang putri pendeta hanya karena suara merdu ayat-ayat suci Alquran dan suara azan dar imasjid.

Karenanya menegaskan agar pengurus masjid dipilih dengan seleksi ketat, seperti muazin dan imamnya. Nana menekankan suara mikrophone yang jelek ditambah suara muazin yang cempreng (tidak enak didengar) hanya akan menambah kebencian umat beragama lain kepada Islam, termasuk mengganggu kenyamanan umat Muslim yang berada disekitar masjid.

Sedangkan Prof Abdullah merasa miris dengan fungsi masjid saat ini yang tidak dimanfaatkan secara optimal jamaah. Dikatakannya, masjid mempunyai fungsi amat luas, yaitu sebagai sentral kehidupan Muslim dalam berbagai aspeknya. Namun saat ini sebagian fungsi masjid tidak dapat dilaksanakan lagi, sehubungan dengan pengembangan sarana dan prasarana kehidupan terutama dengan adanya lembaga atau institusi modern.

Kondisi saat ini fungsi masjid hanya dimanfaatkan sebagai tempat ibadah saja. Padahal katanya, fungsi masjid sangat relevan digunakan sebagai tempat pendidikan dan dakwah, tempat pelaksanaan ibadah sosial,sumber informasi dan wahana memecahkan masalah social dan ekonomi umat.

“Jadi revitalisasi fungsi masjid dewasa ini mutlak diperlukan,” kata Dekan Fakultas Dakwah UIN SU ini. Merujuk pada fungsi masjid pada masa Nabi Muhammad SAW bahwa masjid menjadi sentral kegiatan keagamaan, kemasyarakatan dan kenegaraan.

Melalui masjid Nabi menyampaikan wahyu dan mendidik umat Islam melalui masjid. Masjid pada masa Nabi juga dimanfaatkan sebagai tempat tinggal beberapa orang sahabat Nabi (bagian tertentu) dan para musafir pun sering memanfaatkan masjid sebagai tempat bermalam.
Testimoni

Pada seminar ini juga dihadirkan tanggapan dan testimoni dari tujuh pengurus masjid di kota Medan yang dapat dijadikan model percontohan bagi masjid yang belum memiliki manajemen masjid yang baik.

Ketujuh masjid yang dijadikan model itu yakni Masjid Raya Aceh Sepakat Jl.Mangkara yang dibawakan oleh pengurus BKM Edy Miswar, Masjid Agung Jl. Diponegoro yang dibawakan oleh pengurus BKM Azwir Ibnu Abdul Aziz, Masjid Al Musannif Jl. Cemara yang dibawakan oleh pengurus BKM Saliman Tarigan, Masjid Musabbihin di Taman Setia Budi Indah yang dibawakan pengurus BKM Maulana Pohan, Masjid Al Jihad Jl. Abdullah Lubis yang dibawakan Ketua Yayasan Masjid Al Jihad Prof Assad. Sedangkan testimoni dua masjid yakn iMasjid Al Osmani Belawan dan Masjid Raya Medan Jl. SM. Raja tidak dapat disajikan, karena pengurus BMK dari kedua masjid tersebut tidak hadir.

Dari testimoni lima masjid digambarkan bahwa harus didorong semangat masjid be-sar untuk membantu masjid kecil. Pengelolaan masjid besar hendaknya dapat ditiru masjid kecil.

Seperti yang dikemukakan Prof Assad bahwa Masjid Al Jihad telah memiliki IMB sejak tahun 1958, masjid ini juga memiliki lahan parker luas sehingga member kenyamanan pada jamaah. Masjid Raya Aceh Sepakat Jl. Mangkara, kata pengurus BKM Edy Miswar, memiliki fasilitas perpustakaan, pengajian ibu-ibu yang bisa menampung hingga 1500 orang termasuk, pemberian makanan berbuka puasa untuk masyarakat Medan, membantu muallaf, juga aktif melaksanakan syiar akad nikah.

Masjid Agung Jl. Diponegoro, kata pengurus BKM Azwir Ibnu Abdul Aziz, awalnya hanya mampu mengumpulkan dana Rp 4 juta perminggu, setelah di bawah manajemen BKM baru saat ini mampu mengumpulkan dana hampir Rp 40 juta setiap dibuka kotak amal pada hari Jumat. Masjid Agung saat ini sedangd irenovasi untuk menjadi ikon masjid terbesar dengan biaya renovasi hampir Rp 400 miliar.

Masjid Al Musannif Jl.Cemara, kata pengurus BKM Saliman Tarigan, lebih mengutamakan kebersihan. Masjid ini telah dilengkapi 20 unit mobil kebersihan untuk membersihkan masjid. Masjid ini juga giat membangun untuk perluasan tempat shalat termasuk juga untuk perhelatan akad nikah dan kegiatan ekonomi lainnya.

Masjid Musabbihin di Taman Setia Budi Indah, kata pengurus BKM Maulana Pohan, saat ini telah mengembangkan Poliklinik Masyarakat (Polimas) yang tujuannya untuk melayani kesehatan jamaah. Untuk kegiatan ekonomi, BKM nya telah membentuk koperasi simpan pinjam dengan dana yang dihimpun mencapai Rp 600 juta. BKM Masjid Musabbihin juga mengembangkan transaksi jual beli gas dan air minum mineral.
“Kami juga sudah mampu memberi honor untuk imam utama masjid sebesar Rp 6 juta per bulan, dan honor untuk imam kedua di masjid ini sebesar Rp 3,5 juta per bulan. Untuk imam utama disediakan sarana perumahan,” jelasnya.

Dari gambaran yang disajikan para pemakalah dan testimoni pengurus masjid dapat disimpulkan bahwa masjid sebagai tempat sujud umat memiliki semangat membangun. Namun semangat membangun itu tidak diikuti semangat memakmurkannya.

Banyak masjid sepi jamaah,bahkan ada masjid yang hanya ramai pada waktu shalat Jumat, shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha saja. Termasuk juga banyak persoalan BKM di antaranya hilangnya kepercayaan terhadap pengurus BKM, konflik di antara pengurus, dan yang paling krusial adalah tidak adanya legalitas (sertifikat) hak milik pada tanah wakaf yang di atasnya terdapat bangunan masjid. Sehingga keberadaan masjid sangat rentan, dan muncullah peristiwa masjid digusur, diruntuhkan,dan dipindahkan.(WSP/m30/J)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>