Format Persaudaraan Dalam Alquran

      Tidak ada Komentar

 

Untuk mengeksiskan ukhuwah islamiyah di era globalisasi ini hanya dapat dilakukan dengan mengefektifkan lembaga-lembaga sosial keagamaan

Alquran adalah kitab suci yang sarat dengan berbagai petunjuk khususnya petunjuk yang mengatur persaudaraan manusia.

Mengingat pentingnya persaudaraan maka Alquran membuat statement bahwa kehadirannya merupakan petunjuk bagi sekalian manusia. Statement ini mengindikasikan bahwa petunjuk persaudaraan dalam Alquran tetap aktual untuk diaplikasikan di era globalisasi ini.

Persaudaraan dimaksud di sini bukan bersaudara dalam persamaan tetapi bersaudara dalam perbedaan. Bersaudara dalam perbedaan terdapat dalam Alquran melalui kata ummat yang diawali dengan kullu atau menggunakan kata jamak yaitu umam.

Kemudian Alquran menegaskan bahwa Allah SWT mampu menjadikan manusia satu umat namun hal dimaksud tidak akan pernah dilakukan-Nya.

Menurut al-Syawkani (w. 1250 H) bahwa perbedaan suku, bangsa dan lain-lain bukan untuk dijadikan kebanggaan sekalipun antara satu suku dengan suku lainnya memiliki keunggulan.

Pernyataan ini menunjukkan kebaikan dan kemuliaan pada prinsipnya tidak ditentukan secara kolektif akan tetapi ditentukan oleh nilai-nilai ketakwaan individual.

Pernyataan satu umat dapat dilakukan melalui ikatan masa, tempat dan keyakinan, demikian menurut al-Ashfahani. Kemudian dapat juga diartikan dengan satu pendapat, satu kecenderungan bahkan satu agama.

Keengganan Tuhan menjadikan satu umat bertujuan agar manusia bebas dan berlomba-lomba dalam kebaikan sehingga muncul kreativitas untuk meningkatkan kualitas, demikian menurut Quraish Shihab.

Menurut Hamka (w. 1981 M) bahwa perbedaan martabat dan perbedaan warna kulit tidak ada dan bahkan orang-orang yang mengedepankan warna kulit ini adalah orang-orang yang berpikir mundur.

Ajaran Islam menjadi rahmat bagi kemanusiaan karena mempersamakan hak semua manusia di muka pengadilan dan undang-undang. Karena itu pokok ajaran Islam yang hendak dicari adalah kemuliaan di sisi Tuhan karena iman dan amal salih bukan karena kelompok.

Menurut Muhammad ‘Abduh (w. 1905 M) untuk menjalin persaudaraan maka masing-masing pihak harus dapat menghormati pihak lainnya (terlebih lagi pihak yang berbeda dengannya).

Kebutuhan masing-masing orang dalam jama’ah kepada yang lain adalah suatu hal yang tidak diragukan lagi. Semakin banyak yang dibutuhkan dalam kehidupan maka semakin bertambah kebutuhan kepada pertolongan orang lain.

Implikasinya, akan terbangun hubungan dari rumah tangga kepada golongan, dari golongan kepada bangsa dan kemudian kepada jenis manusia di seluruh dunia dalam bentuk hubungan yang lebih luas.

Setiap manusia memiliki hak untuk berpikir dan berhak pula untuk meyakini kebenaran pikirannya, karena itu tidak ada hak istimewa bagi seseorang untuk memasung pemikiran orang lain.

Relasi yang manusiawi ditandai dengan kerjasama untuk saling menjaga perasaan dan kepercayaan, dan adapun kecurigaan dan khianat merupakan titik awal yang buruk dalam membangun komunikasi lintas batas (yang diperdebatkan).

Pada prinsipnya, kehadiran arus globalisasi ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya persaudaraan karena kajian terhadap perbedaan-perbedaan yang ada tidak lagi membawa daya tarik untuk diperbincangkan.

Oleh karena itu, menjalin persaudaraan di era arus globalisasi ini bukanlah hal yang sulit jika masing-masing pihak tidak kaku ketika memahami dan menghormati keberadaan orang lain.

Ketika arus globalisasi ini melanda kehidupan yang ditandai dengan luasnya jangkauan informasi maka kelihatan bahwa praktek-praktek keagamaan sudah mulai beragam. Padahal praktek-praktek yang beragam ini sudah ada dari dahulu tetapi tidak terpublikasikan karena keterbatasan media. Sebagai contoh, penetapan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal selalu disahuti dengan perbedaan.
Perbedaan penetapan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal adalah salah satu dampak dari arus globalisasi dan hal ini bukan terlalu prinsip karena hanya didasarkan kepada pertimbangan ijtihad (jika salah dapat satu pahala dan jika benar dapat dua pahala). Agaknya terlalu “konyol” jika sebagian pihak ingin menjadikan perbedaan ini untuk meretas kesucian ukhuwah islamiyah.
Karena itu, perbedaan-perbedaan yang ada ini tidak lagi pada tempatnya untuk diperbincangkan karena tidak ada kaitannya dengan ukhuwah islamiyah tetapi yang perlu untuk dilakukan adalah mensyukuri perbedaan-perbedaan yang ada.
Dengan demikian, untuk membangun landasan ukhuwah islamiyah bukan dengan menyatukan perbedaan akan tetapi mengeksiskan ukhuwah ketika berbeda.
Untuk mengeksiskan ukhuwah islamiyah di era globalisasi ini hanya dapat dilakukan dengan mengefektifkan lembaga-lembaga sosial keagamaan.

Adapun hal yang paling urgen untuk kita pikirkan dalam membangun ukhuwah islamiyah di era globalisasi ini adalah bahwa zakat dan wakaf kita belum berdaya untuk mendongkrak angka kemiskinan sehingga terjadi kesenjangan yang dapat merusak persaduaraan.

Penutup

Berdasarkan paparan-paparan di atas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pertama, untuk mengaplikasikan ukhuwah islamiyah di era arus globalisasi ini dapat dilakukan dengan memprioritaskan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan masyarakat.

Hal ini dapat ditandai dengan menumbuhkembangkan ibadah-ibadah sosial yang memiliki akses dengan kehidupan masyarakat karena persoalan yang dihadapi di era globalisasi ini bukan ibadah langit akan tetapi ibadah bumi.

Kedua, berani melakukan reinterpretasi terhadap ajaran-ajaran Islam yang selama ini selalu dipahami secara normatif khususnya ajaran yang berkaitan dengan ukhuwah islamiyah.

Dalam tataran ini, Islam harus dipandang secara utuh dan universal bukan dengan cara pandang yang bersifat parsial dengan mengemukakan sekat-sekat mazhab, organisasi, partai dan kedaerahan.

Ketiga, adapun faktor-faktor yang menyebabkan umat Islam terkesan sulit menjalin ukhuwah adalah; 1). tidak berani melepaskan diri dari tradisi pemahaman yang ada. 2). kajian-kajian tentang ajaran Islam belum mencerminkan kepribadian Indonesia dan masih terkontaminasi dengan pengaruh budaya luar. 3).

Prioritas kajian masih pada perbedaan paham dan belum fokus kepada sosial kemanusiaan. ***** ( Achyar Zein : Ketua Program Studi Ilmu Hadis PPs UIN SU )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>