Sistem Full Day School Perlu Persiapan Matang

      Tidak ada Komentar

 

MEDAN (Berita) : Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang baru, Muhadjir Effendy yang berniat merombak model pembelajaran dengan menerapkan sistem sekolah hari penuh (full day school) untuk pendidikan dasar (SD dan SMP) baik negeri maupun swasta perlu didukung persiapan yang matang. Salah satunya, yaitu persiapan fasilitas sekolah yang memadai.

Namun demikian, bila sistem ini diberlakukan maka secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya. Sehingga, tidak menjadi liar di luar sekolah, ketika orangtua mereka masih belum pulang kerja.

Pengamat pendidikan dari Dewan Pendidikan Provinsi Sumatera Utara (DPPSU), Prof Dr H Syaiful Sagala MPd menilai, banyak hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan sistem tersebut. Terutama, persoalan fasilitas sekolah.

“Full day school dari segi ide sangat bagus. Asalkan, sekolah memiliki kesiapan fasilitas dan tenaga. Saya belum yakin apakah kebijakan ini dapat diterapkan di sekolah negeri di Medan,” ujar Syaiful yang dihubungi, kemarin.

Menurutnya, dalam penerapan sistem pembelajaran tersebut siswa tak hanya belajar saja. Sebab, jika itu dilakukan maka akan timbul kejenuhan. Oleh karena itu, diisi pula dengan berbagai aktivitas atau kegiatan yang menunjang keterampilan siswa.

“Dari pagi sampai siang siswa belajar. Setelah itu, siangnya hingga sore diisi dengan aktivitas non belajar. Diisi dengan kegiatan ekstrakulikuler (ekskul) seperti pramuka, menari, melukis atau hal-hal yang berkaitan dengan bakat keterampilan siswa,” katanya.

Tak hanya itu, lanjut Syaiful, dalam sistem ini diisi juga dengan kegiatan yang menyangkut agama. Sebab, ketika siswa belajar penuh di sekolah, waktu untuk belajar tambahan agama sangat jarang dilakukan di luar rumah. Karena mengingat kondisi stamina mereka.

Sementara itu, pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Medan, M Rizal Hasibuan mengatakan ide tersebut cukup brilian bila diterapkan di sekolah negeri yang ada di Medan. Karena, waktu bermain siswa di luar sekolah yang tidak bermanfaat akan berkurang dan diisi dengan kegiatan positif di sekolah.

“Sebenarnya sudah banyak sekolah di swasta sudah menerapkan sistem tersebut. Kemudian, dari hasil penelitian pun juga sudah terbukti efektif dibanding dengan sekolah yang hanya menerapkan sistem pembelajaran seperti biasa. Namun demikian, kebijakan ini perlu didukung oleh persiapan dari sisi fasilitas sekolah,” ungkap Rizal.

Pertama, sebut Rizal yaitu fasilitas kegiatan belajar mengajar di sekolah. Selain itu, perlu juga kreatifitas dari guru dalam memberikan pelajaran. Hal ini dilakukan agar para siswa tidak mengalami kebosanan atau jenuh.

Oleh karenanya, sambung Rizal, dirinya menilai sistem ini dapat diterapkan di sekolah negeri di Medan. “Saya rasa sekolah di Medan diyakini mampu menerapkan kebijakan itu, dengan catatan kembali lagi didukung fasilitas yang memadai. Tak lupa harus dilakukan juga pengawasan atau evaluasi, sehingga kebijakan ini benar-benar efektif,” cetusnya.

Sementara, Kepala SMP Negeri 3 Medan Nurhalimah Sibuea sangat mendukung bila kebijakan itu diterapkan. Akan tetapi, sarana dan prasarana sekolah harus didukung. Misalnya, ruang belajar siswa atau kelas.

“Saat ini terdapat sejumlah sekolah (SMP Negeri) yang membagi dua waktu belajar siswa lantaran keterbatasan kelas. Ada yang masuk pagi dan ada juga yang masuk siang. Karena itu, bila kebijakan ini diterapkan tentunya ruang kelas harus cukup,” tuturnya. (aje)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>