Gadis Mesir Menitikkan Air MaTA

      Comments Off

 

Gadis berparas cantik berbusana abaya, kostum panjang khas wanita Arab, warna hitam dipandu kerudung putih itu sesekali mengusap titik-titik air mata di balik kacamata hitamnya yang anggun.

Aminah Mahmoud namanya, berusia 23 tahun, didampingi dua teman perempuan sebaya duduk di pojok emperan bagian belakang Rumah Sakit Rabiah Adawiyah, Kairo Timur, membaca Al Quran pada hari Selasa (10/9).

Abdel Fatah Mahmoud, 20 tahun, adik Aminah, bersama seorang rekan pria sebaya, juga sedang membaca Al Quran di pojok lain bagian belakang Masjid Rabiah Adawiyah.

Bagian belakang rumah sakit ini memang bersebelahan dengan bagian belakang Masjid Rabiah Adawiyah, tempat terjadinya tragadi kemanusiaan akibat serbuan aparat keamanan terhadap aksi duduk ribuan pendukung presiden terguling Mohamad Moursi pada tanggal 14 Agustus 2013, yang menewaskan 836 orang.

Mereka khusyuk mengaji Al Quran kendati di hadapan mereka terlihat para pekerja sibuk melakukan renovasi Masjid Rabiah Adawiyah yang hangus terbakar pada hari tragedi pertengahan bulan silam tersebut.

“Kami sedang berdoa untuk ayah kami yang sampai sekarang belum ketahuan keberadaannya sejak pengusiran paksa,” tutur Abdel Fatah dalam perbincangan dengan ANTARA. Melihat adiknya sedang berbincang dengan orang asing, Aminah segera mendekati ANTARA dengan wajah penuh curiga, “Enta mabahist?” (apakah kamu mata-mata?). “Bukan, saya wartawan dari Indonesia, negara sahabat akrab Mesir.”

Sekilas wajahnya yang sendu memaklumi pekerjaan wartawan. Namun, dengan ramah Aminah meminta agar mereka tidak diwawancarai. Kecurigaan Aminah ini dapat dimaklumi karena khawatir bisa menjadi persoalan bagi diri mereka sendiri di tengah maraknya penangkapan terhadap petinggi dan anggota Ikhwanul Muslimin pendukung Moursi.  Kendati demikian, dari jawaban singkat Abdel Fatah, tampaknya ayah mereka adalah salah satu korban tragedi berdarah Bundaran Rabiah.

Alun-alun ini dinamai Bundaran Rabiah karena berhadapan dengan Masjid Rabiah Adawiyah, perempatan Jalan Nasr dan Jalan Thairan.  Masjid ini memiliki fasilitas publik berupa Rumah Sakit Rabiah dan Daarul Munasabat Rabiah atau gedung pertemuan.

Kalangan mahasiswa Indonesia kerap memanfaatkan Daarul Munasabat ini untuk acara pertemuan, dan juga berobat di Rumah Sakit Rabiah karena biayanya cukup murah. Nama Masjid ini diambil dari nama seorang wanita sufi terkenal dari Irak, Rabiah Adawiyah, wafat 796 Masehi.

Saat tragedi tersebut, Masjid Rabiah ikut teribakar, semua isinya termasuk semua Kitab Suci Al Quran hangus jadi abu. “Ada ribuan buku, sebagian besar Kitab Al Quran semuanya terbakar, begitu pula karpet empuk yang baru dibeli menjelang Ramadan lalu,” kata Ahmad, petugas Masjid Rabiah.

Selain masjid, Gedung Daarul Munasabat–yang sebelumnya dijadikan sebagai pusat rumah sakit lapangan Ikhwanul Muslimin saat aksi duduk–juga hangus terbakar. Rumah Sakit Rabiah tidak ikut terbakar. Namun, ditutup sejak hari tragedi 14 Agustus, dan baru beroperasi kembali pekan lalu. “Waktu ditutup 14 Agustus malam, semua pasiennya dipindahkan ke Rumah Sakit Taamin, Jalan Thairan,” kata seorang satpam.

Hingga Selasa (10/9), Bundaran Rabiah belum dibuka untuk lalu lintas publik. Beberapa tank tempur dan pasukan tentara masih mengawal alun-alun yang biasanya padat lalu lintas itu. Para pekerja bangunan sibuk memperbaiki jalan, trotoar, masjid, dan Gedung Daarul Munasabat.

Belasan wartawan asing dan lokal, termasuk ANTARA, pada hari Selasa (10/9) ingin masuk ke dalam masjid yang masih ditutup dengan kain warna hijau namun dihambat. Kebetulan saja apartemen penginapan ANTARA berada di dalam lingkar Bundaran Rabiah, hanya berselang tiga gedung dari Masjid Rabiah Adawiyah.

Tragedi pertama terjadi di Markas Garda Republik, yang terletak di unjuk paling utara Jalan Thairan yang menghubungkan Bundaran Rabiah pada hari Senin, 8 Juli 2013, menewaskan 214 orang.

Peristiwa Garda Republik ini ANTARA tidak melihat langsung karena letaknya sekitar 3 kilometer dari Bundaran Rabiah, dan hanya menyaksikan mayat bergelimpangan di ruang Darul Munasabat, tempat medis lapangan Ikwanul Muslimin.

Oleh karena itu, ANTARA menggunakan kata “bentrokan” dalam berita peristiwa Garda Republik meskipun beberapa sumber mengatakan tragedi itu terjadi akibat serangan aparat keamanan terhadap pengunjuk rasa pro Moursi.

Berbeda dengan di Garda, dua kali tragedi berikutnya, yaitu pada  hari Sabtu 27 Juli 2013 di Menassah dan tragedi Bundaran Rabiah pada tanggal 14 Agustus, ANTARA melihat langsung kejadiannya sehingga dalam berita menyebut, “aparat menyerang pro Moursi”.

Menassah di Jalan Nasr tempat Makam Pahlawan Tak Dikenal dan Makam Mendiang Presiden Anwar Saddat itu hanya berjarak sekitar 400 meter dari penginapan ANTARA.  Laporan resmi Kementerian Kesehatan Mesir menyebutkan peristiwa Menassah pada tanggal 27 Juli menewaskan 84 orang, sementara di Bundaran Rabiah pada tanggal 14 Agustus menewaskan 836 orang. Ikwanul Muslimin menyebut korban tewas pada tanggal 14 Agustus mencapai 2.684 orang.

Tragedi Rabu, 14 Agustus, itu berkecamuk di jalan persis di depan apartemen gedung penginapan ANTARA. Rabu pagi itu sekitar pukul 7.00 waktu setempat atau pukul 12.00 WIB, aparat keamanan dari polisi dan tentara mulai menyerang ke Bundaran Rabiah.

Sekitar sejam menjelang serangan, ANTARA sengaja mencari sarapan pagi di Bundaran Rabiah yang diwarnai para penjual keliling beragam jenis makanan.  Tiba-tiba terdengar tembakan beruntun dari berbagai arah. Tak lama kemudian, ambulans mondar-mandir membawa korban tewas dan cedera ke Masjid Rabiah.

ANTARA sempat menghitung 38 mayat berserakan di luar Masjid Rabiah. Namun, petugas melarang wartawan masuk ke dalam ruang Daarul Munasabat dan mengatakan, “Di dalam ada 120 mayat.”

Setelah melihat korban dan darah berceceran, ANTARA berusaha kembali ke penginapan di tengah tembakan memekakkan telinga dari berbagai penjuru, termasuk dari helikopter. Saat tertatih-tatih kembali ke penginapan, beberapa kali secara spontan ANATARA tiarap bersama orang-orang sekitar setiap tembakan terdengar begitu dekat.

Seorang wanita berlari mengejar gerobak yang mengangkut korban sambil berteriak histeris, “Gozi, gozi” (suamiku, suamiku). Di dekat gedung apartemen, hanya berkisar 3 meter di samping kanan ANTARA, terlihat seorang pria berjubah putih jatuh terkena tembakan, darah muncrat di baju bagian perutya.

ANTARA terus berlari ke arah apartemen di sebelah kiri jalan. Sesampai di gedung apartemen, semua kaca pintu gerbang gedung telah dipecahkan pengunjuk rasa untuk berusaha menyelamatkan diri, tetapi terhalang oleh pintu lapis besi.

Di dalam apartemen, asap gas air mata memenuhi semua ruangan. Seorang tetangga apartemen bermurah hati membagikan masker antiasap gas air mata.

Sekitar pukul 17.00, pasukan telah menguasai Bundaran Rabiah dan ribuan pengunjuk rasa mulai meninggalkan tempat itu setelah selebaran pengumuman dilemparkan dari helikopter bahwa mereka dijamin keamanannya saat kembali ke rumah masing-masing.

Pada saat bersamaan, televisi Mesir menyiarkan taklimat dari Istana Presiden menetapkan jam malam mulai Rabu (14/8) selama sebulan dari pukul 19.00–6.00. Sekitar pukul 18.00, ANTARA sempat turun ke jalan memantau suasana dan terlihat kobaran api di mana-mana menjalar ke tenda-tenda pengunjuk rasa. Begitu pula, Masjid Rabiah pun dilalap api.

Selain masjid dan tenda-tenda, kios-kios pinggir jalan juga terbakar, termasuk sebuah pom bensin (SPBU) di Jalan Thairan dekat Masjid Rabiah. Beberapa sumber penduduk sekitar Masjid Rabiah mengungkapkan bahwa bersamaan dengan pengunjuk rasa meninggalkan bundaran, aparat keamanan sengaja membakar Masjid Rabiah dan Gedung Daarul Munasabat yang di dalamnya banyak mayat dan korban luka bergelimpangan.

Belakangan, Menteri Dalam Negeri Mohamed Ibrahim mengakui bahwa  pembakaran itu dilakukan untuk mencari senjata gelap milik pengunjuk rasa, dan melenyapkan tempat persembunyian petinggi Ikhwanul Mulimin yang dicari, termasuk Mohamed Belatagi yang ditangkap beberapa waktu kemudian.

Namun, Mendagri yang membawahi lembaga kepolisian itu tidak menjelaskan lebih jauh mengenai bukti senjata gelap tersebut, yang sebelumnya dituduhkan bahwa ada senjata berat diselundupkan ke bundaran untuk mempertahankan diri. ( ant/ Munawar Saman Makyanie )