2013, Harga Kakao Madina Melorot

MADINA (Berita): Sejak pemberlakuan regulasi baru bea keluar terhadap komidi kakao oleh pemerintah, petani di Madina (Mandailing Natal) ikut terpuruk. Soalnya, harga biji kako kering sejak selasa Kemarin sudah berada di level 15.000 per kilo gram di tingkat pedagang pengumpul. Tiga minggu sebelumnya harga masih bertengger di kisaran 20.000 per kilo gram.
Darwin (38) petani kakao di Desa Hutagodang Muda, Kecamatan Siabu menjawab Berita Kamis (18/4) menyatakan melorotnya harga kakao ini berakibat terhadap pendapatan petani.
Darwin mengatakan, sebelum diterapkan BK (bea keluar) kakao ini, harga kakao masih dikisaran Rp.20.000 per kg, bahkan sempat mencapai Rp.27.000 per kg. “Kamipun menjadi heran harga jual kakao kering kita tidak pernah lagi mencapai 20.000 per kilo, bahkan untuk tiga minggu terekhir mencapai 15.000 per kilo,” ujarnya.
Hal senada disampaikan petani lain, Mahyudin (42), dikatakannya harga jual kakao semakin hari terus menurun, bahkan pernah mencapai harga 14.000 per kilo gram. Sementara tantangan hama penyerang bagi tanaman kakao makin banyak yang membutuhkan banyak biaya.
“Biaya kita untuk pembelian pupuk dan biaya perawatan lainnya, tidak pernah turun, malah cendrung naik. Sementara harga jual kita terus turun, makanya kami mengharapkan ada perbaikan harga, minimalnya 20.000 per kilo, kalau bisa tentu labih dari segitu,” harapnya.
Sementara itu, pedagang pengumpul, Tolib Nasution di hari yang sama mengatakan harga pembelian kakao dari petani di kisaran 15.000 hingga 17.000 per kilo gram. Dan mereka menjualnya kepada toke besar dengan harga 18.000 per kilo gram.
Dijelaskannya, harga beli dari petani itu tergantung dari kualitas kakao kering yang diproduksi petani. Sehingga muncul variasi harga antara 15.000 hingga 17.000 per kilo gram.
“Kalau harga kakao ini sudah turun dalam tiga minggu terakhir ini, katanya akibat penerapan BK kakao yang diterapkan pemerintah pusat. Dan soal harga, kita mengikut kemauan pasar. Jika harga bagus, kita pun akan menaikannya. Saya pikir terkait BK ini perlu menjadi perhatian bersama untuk menurunkannya,” harapnya. (Isk/Mfr)