Persoalan Pendidikan Bukan Pada Kurikulum

MEDAN (Berita): Persoalan pendidikan kita bukan terletak pada kurikulum atau mutu guru, melainkan kentalnya ketidakpedulian kita pada usaha meningkatkan mutu pendidikan. Yang diperlukan dari kita di masa sekarang adalah mengaktifkan kembali budaya gotong royong membangun pendidikan.
"Semua orang bisa berpartisi, entah sebagai guru, pemerintah, pihak swasta, LSM, wartawan, atau apa pun bentuknya," kata Ketua Umum Gerakan Indonesia Berkibar (GIB) Shafiq Pontoh dalam kegiatan diskusi bertemakan Empowering Local Communities through Education, di Hotel Swiss-Bell Jalan S Parman Medan, baru-baru ini.
Untuk itu, menurutnya, penguatan jejaring sosial dan kolaborasi antar lembaga diperlukan. Sebab, jika bekerja sendiri beban akan terasa sulit atau mungkin mustahil. Tetapi jika dikerjakan secara gotong royong sesuai kemampaun dan potensi masing-masing, beban seberat apa pun akan lebih mudah ditangani.
Shafiq mencontohkan bagaimana mengatasi persoalan infrastruktur sekolah. Jika jejaring kuat, tinggal meminta rekan arsitektur untuk mendesain gedung, pihak swasta turut mendukung, komunitas wujudkan.com yang mengeksekusi. Namun, partisipasi masyarakat lokal tentu saja dibutuhkan.
Sedang media ambil peran lewat pemberitaan tentang mutu pendidikan. Wartawan turun ke lapangan melaporkan kondisi ril pendidikan dan sebisa mungkin mengangkat topik tentang mutu pendidikan. Mencari dan menuliskan profil guru-guru idola di daerah masing-masing juga penting dan menarik.
Gerakan Indonesia Berkibar merupakan inisiatif dari beberapa teman, yang dibangun sebuah organ yang bisa memberikan kontribusi dalam pembangunan pendidikan yang lebih baik. Pihaknya bersama-sama bergandengan tangan dan menjalankan program ini.
“Semakin banyak informasi yang bisa kita kumpulkan maka semakin cepat kita memberikan solusi dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia,” jelasnya.
Saat ini tercatat sudah 37 institusi yang terdaftar bergabung dalam GIB yang mengalokasikan dana corporate social responsibility (CSR) untuk perbaikan kualitas pendidikan. Selain itu, berbagai komunitas yang juga ikut membantu dalam memberikan informasi pentingnya pendidikan.
Menurutnya, Indonesia Berkibar bukan organisasi, institusi atau LSM, melainkan hanya sebuah gerakan kepedulian dalam bidang pendidikan.“Kami tidak ada menerima bantuan. Dan disini tidak menjadi tempat pengumpulan bantuan. Kami hanya sebagai penghubung antara pemerintah, swasta, dan masyarakat,” pungkasnya.
Sementara Perwakilan PT Wilmar Budi J Harsono menyatakan, sejak awal perusahaannya tidak menempatkan pendidikan sebagai bentuk program CSR-nya. Namun, terakhir menjadi pilihan utama karena investasi jangka panjang yang paling baik dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah pendidikan.
“Sebab, kami perusahaan kami berada hampir di setiap provinsi yang juga menggunakan SDM lokal. Maka sudah selayaknya kami turut memikirkan dalam menyiapkan SDM itu,” jelasnya. May Utilissima Siregar, Pengurus Dian Bersinar Foundation yang turut jadi narasumber menjelaskan, cukup banyak anak-anak miskin usia sekolah yang tinggal di kawasan rel kereta api Medan yang butuh kepedulian setiap orang. Lewat rekaman video, ia memperlihatkan bagaimana anak-anak rel kereta api berjuang untuk belajar di tengah kerasnya kota.
May percaya, akan ada orang-orang hebat kelak muncul dari sana. Keyakinan itu diaminkan tiga narasumber lain dan seluruh peserta diskusi. Shafiq menanggapi, keterbukaaan informasi seperti yang ditampilkan Dian Bersinar diharapkan datang dari masyarakat agar nanti dengan kekuatan jejaring dan kolaborasi bisa dicarikan solusi konkrit.
Wali Kota Medan melalui Sekretaris Daerah Kota Medan Saiful Bahri Lubis menyampaikan Pemerintah Kota Medan mengapresiasi Gerakan Indonesia Berkibar yang turut membantu pemerintah dalam mendorong partisipasi korporasi maupun komunitas dalam mendukung kualitas pendidikan.
Pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik oleh peran pemerintah saja. Untuk itu perlu intervensi yang terintegrasi dengan berbagai pihak yang berkompeten misalnya dengan mengusung kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat,” katanya.(aje)