Perambahan Hutan Lindung Yang Dilakukan PT. TPL Di Pakpak Bharat Terus Berlanjut

Bupati: Kami Akan Turun Kelokasi
Pakpak Bharat (Berita): Perambahan Hutan Lindung yang dilakukan PT. TPL di daerah Pakpak Bharat terus berlanjut. Hanya sekitar 300 meter dari lokasi hamparan perambahan hutan yang mencapai ribuan hektar, terdapat plang merek yang dibuat oleh Pemerintah bertuliskan kawasan hutan negara dilarang menebang atau memungut hasil hutan alias kawasan hutan lindung.
Dan aneh, saat Media melakukan pantauan langsung kelokasi, Senin, (8/4) pada salah satu plang merek yang dibuat oleh Pemerintah Pakpak Bharat tersebut terlihat dicabut dan dibuang ke dalam hutan oleh oknum-oknum yang tidak bertangungjawab.
Berjalan masuk ke dalam hutan dari Desa Kuta Jungak Kecamatan Siempat Rube, kab. Pakpak Bharat dengan kendaraan roda empat gardan 2, hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam langsung sampai ke hamparan penebangan hutan aktivitas PT. Toba Pulp Lestari (TPL). Bukan hanya kayu-kayu besar berukuran drum, namun sem,ua jenis kayu yang terdapat dilokasi terbabat habis dan diporak-porandakan alat berat milik PT. TPL untuk diolah dan ditanami pohon-pohon sesuai program pihak PT. TPL.
Berniat hendak melakukan konfirmasi langsung ke pihak PT. TPL di salah satu Camp yang disebut Base Camp RDA53, setiba di gerbang masuk yang dipasang plang, security langsung melarang dan mengatakan harus mendapat ijin dari Humas yang kebetulan sedang berada dilokasi menghadapi warga Pakpak Bharat yang datang kelokasi melakukan protes sebagaimana dikatakan Satpam, sembari berlalu menghubungi oknum Humas PT. TPL. Hanya beberapa menit, security langsung melarang wartawan mengambil gambar dan berusaha mengusir dari lokasi. “Urusan tidak jelas tidak boleh masuk” tegas Muhammad Farozi Satpam PT. TPL.
Merasa tidak mendapat hasil konfirmasi, Berita langsung menemui Sitanggang yang disebutkan Humas yang berada dilokasi. Namun disayangkan, yang ditunjukkan justru arogansi dan hardikan. Sembari mengambil foto Sitanggang, Waspada berusaha mengorek informasi dengan melempar beberapa pertanyaan seputar penebangan yang terjadi dikawasan tersebut. Tetapi respon Sitanggang justru berlebihan, ia mengklaim bahwa PT. Toba Pulp Lestari (TPL) miliki ijin melakukan penebangan hutan di kawasan hutan lindung Kabupaten Pakpak Bharat. Saat ditanyakan terkait status hutan yang dirambah tersebut, apakah hutan lindung atau hutan APL, Sitanggang tidak memberikan jawaban. Namun dengan nada keras ia menjawab, “Semua penebangan ini resmi dan kami punya ijin bekerja disini” tegas Sitanggang, sembari menghadang dan berusaha merampas kamera yang berisi foto-foto yang sempat diambil sebelum bertemu Sitanggang.
Bukan hanya itu, dengan nada mengancam, Sitanggang juga langsung memanggil oknum Brimob bermarga Sembiring yang juga berada dilokasi, tanpa basa-basi oknum Brimob dengan senjata laras panjangnya menghardik, “Ini resmi dan apa urusan anda ambil foto dari lokasi ini. Orang ini tidak senang difoto-foto, hapus semua gambar itu” ujar Sembiring.
Merasa terancam karena langsung dikerumuni sejumlah Satpam bersama oknum Brimob berpakaian lengkap dan bersenjata laras panjang, tiga wartawan yang turun kelokasi yakni wartawan Waspada, Wartawan Berita Sore dan wartawan Tribun Merdeka Pakpak Bharat langsung membuka kamera dan menghapus beberapa foto yang dipaksa oleh Sitanggang. Sementara puluhan warga Pakpak Bharat yang berada dilokasi saat kejadian tersebut hanya diam menyaksikan ulah para Satpam dan oknum Brimob yang mengaku ditugaskan di PT. TPL.
Saat ditanya tugas oknum Brimob dilokasi tersebut, apakah sebagai pengaman atau humas, ataupun sebagai alat pihak TPL, ia hanya diam dan memelototi. “Ini semua resmi, dan saya tau maksud saudara datang kelokasi ini, kita sama-sama orang lapangan sudahlah, dame-dame ajalah” ujarnya melembek. Setelah menghapus sejumlah foto, akhirnya kerumunan para Satpam dan Brimob mundur satu-persatu setelah Sitanggang menyuruh mundur dan mengijinkan pulang ke tiga wartawan.
Sekitar 1 KM dari lokasi pintu gerbang masuk kawasan Base Camp RDA53 ke arah Parbuluan Kabupaten Dairi terdapat ratusan kayu gelondongan yang ditumpuk dipinggir jalan menggunakan alat berat. kayu-kayu tersebut diduga kuat diambil dari wilayah Kabupaten Pakpak Bharat dan ditampung dilokasi tersebut sebelum diangkut ke pabrik kayu milik PT. TPL di Porsea.
Dilain pihak, saat Waspada mengkonfirmasi langsung Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolando Berutu, MBA melalui telefon selularnya mengungkapkan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir perambahan yang dilakukan oleh PT. TPL apabila telah keluar dari wilayah kerja yang diberikan ijinya. “Dan bila ada penebangan hutan diwilayah kami diluar ijin, maka kami akan segera lakukan pengecekan kelokasi” ujarnya. Saat ditanya kontribusi pihak PT. TPL kepada Kabupaten Pakpak Bharat, ia menjelaskan bahwa pihaknya hanya menerima dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility). “Selain itu tidak ada, dan trimakasih atas informasi teman-teman wartawan, kami juga akan melakukan peninjauan kelokasi” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, Kadis Kehutanan Pakpak Bharat belum berhasil dikonfirmasi terkait teknis dan luasan ijin pengelolaan yang dikantongi pihak PT. TPL diwilayah Pakpak Bharat
Dalam beberapa tahun terakhir jajaran Kepolisian Pakpak Bharat telah melakukan beberapa kali penangkapan kayu dari wilayah Kuta Jungak Kec. Siempat Rube dan dari kawasan Hutan Lindung Delleng Sibarteng yang dilakukan oleh masyarakat Pakpak Bharat. namun tindakan hukum terhadap pihak PT. TPL masih sebatas upaya melakukan cek lokasi. Dimana kedua kawasan tersebut merupakan jalan lintas Propinsi setelah sebelumnya jalan tersebut sudah diserahkan Pemerintah Pakpak Bharat kepada pihak pemerintah Propinsi. (Jan)