Total Anggaran Rp 8 Triliun, 8 Juta Siswa Miskin Dapat Bantuan

Jakarta ( Berita ): Sebanyak 8 juta siswa miskindi seluruh Indonesia akan menerima dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) 2013/2014. Untuk itu pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) siap menggelontorkan anggaran sebesar Rp 8 triliun.
“Paling lambat April harus sudah sampai kepada siswa miskin,” kata Mendikbud Mohammad Nuh dalam sosialisasi BSM kepada seluruh Kepala Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten seluruh Indonesia di Hotel Jayakarta, Jakarta, Minggu (24/3) malam.
Ditegaskan Nuh, BSMd imaksudkan sebagai upaya mencegah angka putus sekolah akibat ketidak mampuan orangtua menyediakan biaya sehari-hari para siswa. Sejumlah keperluan seperti untuk ongkos ke sekolah, membeli buku tulis dan semua biaya di luar biaya operasional sekolah.
Sedangkan Biaya Operasional Sekolah (BOS) sudah ada program tersendiri. Berdasarkan data BPS 2013,rata-rata nasional angka putus sekolah usia 7–12 tahun mencapai 0,67 persen atau 182.773 anak; usia 13–15 tahun sebanyak 2,21 persen atau 209.976 anak dan usia 16–18 tahun semakin tinggi hingga 3,14 persen atau 223.676 anak.
Untuk itu, anggaran BSM terus ditingkatkan. Bahkan kenaikannya signifikan dari Rp 3,99 triliun tahun 2012 menjadi Rp 8 triliun pada 2013. Kenaikan anggaran ini akan masuk dalam APBNP 2013. Jumlah penerimanya juga naik dari 6,08 juta anak melonjak menjadi 8 juta anak.
Kenaikan itu disebabkan besaran bantuan per siswa pun naik sesuai jenjangnya. BSM untuk SD pada 2012 Rp 360.000 per anak per tahun akan naik menjadi Rp 560.000 per anak per tahun. Adapun BSM untuk SMP adalah Rp 570.000 per anak per tahun menjadi Rp 780.000 per anak per tahun.
Untuk SMA/SMK sebesar Rp 1 juta sudah diputuskan mulai berlaku tahun ini melalui Pendidikan Menengah Universal (PMU). Hal baru lainnya adalah, BSM akan diintegrasikan dengan semua jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Jika, sebelumnya, penerima BSM di tingkat SD belum pasti menerima bantuan serupa di tingkat SMP maupun SMA, maka ke depan program ini terintegrasi.“Tahun ini yang membedakan, kita ingin diintegrasikan antar jenjang. Yang di SD dapat BSM, anak-anak yang lulus SD ini di SMP dapat lagi.
Kemudian yang menerima BSM di SMP begitu masuk SMA juga dapat lagi. Jadi program ini dikaitkan dengan program pengentasan kemiskinan yang di bawah pengawasan Wakil Presiden,”kata Mendikbud.
Untuk memastikan kesiapan penyaluran dana BSM ini di daerah, maka Mendikbud langsung mengundang seluruh dinas pendidikan kabupaten/kota se-Indonesia di Jakarta .“Karena kita tidak ingin ada anak SD drop out, atau lulus tidak melanjutkan ke SMP, MTS dan seterusnya. Makanya selama dua tiga hari ini kita berkumpul bersama membicarakan tentang kesiapan teknis. Kita ingin tahu operasionalnya seperti apa di daerah,” imbuh Nuh.
Dikatakan Mendikbud Mohammad Nuh, biaya paling besar bagi peserta didik diperlukan saat mereka baru masuk sekolah atau awal semester,yakni bulan Juni hingga Juli. Karena itu Mendikbud menginginkan penyaluran bantuan bagi siswa kurang mampu ini berjalan tepat waktu.
“Kebutuhan siswa pada Januari sampai relatif kecil.Kebutuhannya baru menumpuk pada akhir Juni hingga Juli. Artinya BSM itu harus sudah cair dan disalurkan sebelum Juli. Karena kalau cairnya Agustus - September sudah terlambat,”tegas dia.(WSP/dianw)