Batu Pemenggalan Kepala Di Samosir

BATU pemenggalan kepala berusia ratusan tahun yang berdekatan dengan meja batu penyiksaan di Desa Siallagan/Ambarita, Kab. Samosir. ( Repro/WSP/Edison Samosir )

ALKISAH di Samosir, tepatnya di Desa Siallagan, Kec. Simanindo, terdapat cerita masa lalu yang sampai kini masih menyimpan saksi bisu.Saksi bisu itu berupa kursi persidangan yang konon digunakan para Raja Batak di Samosir, di antaranya Raja Sidabutar, Raja Siallagan dan Raja Sidauruk untuk menyidang warga yang melakukan kesalahan; baik ringan mau pun berat.

Kesalahan ringan, misalnya mereka yang mencuri kambing, kerbau dan ternak lainnya. Mereka dihukum mengganti kerugian lima kali lipat dari harga ternak yang dicuri. Jika tidak dapat dipenuhi, hukuman diganti dengan menjadikan pelaku (terdakwa) sebagai pembantu di kerajaan tanpa digaji.

Untuk kesalahan berat seperti membunuh, memperkosa dan menjadi pengkhianat (mata-mata), para raja melakukan sidang dengan memanggil pengetua kampung, dukun, pangulubalang (bodyguard) dan keluarga pelaku.

Di lokasi persidangan, raja akan bertanya kepada dukun untuk melihat, dalam tujuh hari mana hari yang baik untuk menjatuhkan hukuman.Hukuman bagi yang melakukan kesalahan berat, yakni dipenggal kepalanya. Sebelumnya, si pelaku dikurung di penjara kerajaan atau dipasung dengan penjagaan ketat para pangulubalang. Setelah ditentukannya hari yang dianggap baik, pelaku dibawa ke meja penyiksaan untuk melepaskan ilmu hitam yang dimilikinya, selanjutnya dibawa ke lokasi pemenggalan.

Setelah dieksekusi, kepalanya digantung tiga hari di pintu masuk kerajaan, dengan maksud agar masyarakat mengetahui atau mengenal wajahnya. Kemudian dikubur di hutan, sementara tubuhnya dipersembahkan ke Danau Toba. Tujuh hari tujuh malam masyarakat dilarang mengambil air mau pun mandi di Danau Toba, karena diyakini rohnya masih gentayangan.

Legenda kursi batu persidangan ini terjadi sebelum masuknya ajaran agama ke wilayah Batak, di mana masyarakatnya saat itu masih menganut kepercayaan roh nenek moyang.

Kursi batu persidangan di Desa Siallagan direnovasi pada 1938, dan di lokasi yang mirip kerajaan ini juga terdapat kursi raja, kursi pengetua kampung, kursi dukun, kursi terdakwa, rumah raja, penjara atau tempat pemasungan. Juga ada kursi keluarga terdakwa, meja persidangan, patung pangulubalang, tempat pemenggalan dan meja penyiksaan. Semua terbuat dari batu.

Di sini, terdapat juga buku pustaha laklak yang digunakan dukun untuk melihat kekuatan atau kelemahan orang, kalender Batak yang digunakan untuk melihat hari-hari yang baik, tunggal panaluan untuk alat komunikasi raja dengan roh, parang pemenggal kepala dan ulos Batak untuk menutup mata pelaku.

Saksi sejarah lainnya, ditemukannya pohon hariara yang sudah berusia 400 tahun, berlokasi di dekat kursi batu persidangan.

“Wisatawan yang ingin mengetahui lebih jauh, silahkan datang ke lokasi kursi batu persidangan di Huta Siallangan/Ambarita,” tutur Gibson Sinurat (Amani Jupita), local guide saat menjawab Waspada, Selasa (8/1), di lokasi kursi batu persidangan Desa Siallagan, Kec. Simanindo, Kab. Samosir. ( WSP/Edison Samosir )