Penelitian Tentukan Kualitas Perguruan Tinggi

 

MEDAN (Berita): Perguruan tinggi yang tidak ada aktifitas penelitian identik dengan lembaga kursus, sedangkan staf pengajar yang tidak pernah meneliti dianggap bukan dosen.

Pernyataan itu dilontarkan Prof Dr H Sarmanu MS dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya ketika tampil sebagai pembicara dalam Pelatihan Structural Equation Modeling (SEM) di Gedung Biro Rektor USU, Ruang Senat Akademik Lt III Jalan Dr Mansyur Kampus Medan, Senin [14/1]

Pelatihan dilaksanakan melalui metode teori dan praktek dengan komputer ini diadakan Fakultas Ekonomi Universitas Medan Area (UMA) bekerjasama Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan & Manajemen Sekolah Pascasarjana USU selama dua hari, 14-15 Januari 2013.

Dipandu moderator Ihsan Efendi dari FE UMA yang saat ini menempuh program S3, pelatihan ini juga menghadirkan Dr Hari Basuki Notobroto, dr, M.Kes dari Universitas Airlangga Surabaya. Selama dua hari kedua narasumber tersebut masing-masing akan memaparkan tentang Metodologi Penelitian dan Contoh Penelitian dengan SEM, teori SEM, Praktikum SEM dengan PLS (Partial Least Square) dan Praktikum SEM dengan AMOS. Sedangkan post-test evaluasi angket dirangkai dengan penutupan akan dilakukan direktur PPs USU.

Prof Dr H Sarmanu dalam makalahnya berjudul Metodologi Penelitian dan Contoh Penelitian dengan SEM juga mengungkapkan bahwa perguruan tinggi dan negara yang tergolong maju, penelitiannya juga pasti maju. Menurutnya metodologi penelitian meningkatkan kualitas perguruan tinggi dan kemajuan negara. Namun dia menyayangkan kesadaran masyarakat dan pemerintah terhadap penelitian masih kurang. Mengenai penerapan hasil penelitian diakuinya belum bisa diterapkan, hanya untuk pengembangan ilmu dan tidak ekonomis.

“Yang memprihatinkan penelitian dilakukan hanya sekedar untuk naik pangkat dan untuk mempertanggungjawaban keuangan,” ujarnya.

Selain memaparkan tentang metodologi penelitian, pada pelatihan itu Prof Dr H Sarmanu juga menjelaskan tentang SEM (Structural Equatiton Modeling) atau Pemodelan Persamaan Struktural. Dia menyebutkan, SEM digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, menguji pengatuh langsung dan tidak langsung variabel eksogen terhadap variabel endogen. SEM juga digunakan untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen. Program yang digunakan untuk SEM, kata Prof Sarmanu, adalah AMOS (Analysis of Movement Structure), Lisrel (Linier Structural Relation), dan PLS (Partial Least Square).

Kelebihan SEM itu, menurut Prof Sarmanu cocok untuk variabel laten, praktis dan lebih teliti. Sedangkan kekurangannya butuh sampel besar dan analisis lebih sulit.

Sementara narasumber Dr Hari Basuki Notobroto, dr, M.Kes memaparkan tentang prinsip SEM yang merupakan suatu metode statistika menggunakan pendekatan hypothesis testing atau dikenal dengan istilah confirmatory. Prinsip SEM juga mencangkup pendekatan terintegrasi dari confirmatory factor analysis dan path analysis (analisis jalur).

“Analisis jalur untuk menganalisis hubungan antar variabel dari model kausal yang telah dirumuskan oleh peneliti atas dasar pertimbangan teoritis,” ujarnya. Selain itu analisis jalur juga untuk menguji seperangkat hipotesis kausal dan menginterpretasikan hubungan tersebut, langsung maupun tidak langsung.

Ketua panitia pelatihan yang juga Dekan FE UMA Prof Dr H Sya’ad Afifuddin SE MEc dalam laporannya menyebutkan peserta pelatihan berasal dari kalangan dosen, mahasiswa S2 atau S3, peneliti, akademisi dari UMA, USU, UMSU, Unimed, IAIN, University Kebangsaan Malaysia, staf perencana dan pendataan instansi pemerintah dan swasta antara lain Disnaker Asahan, Kementerian Keuangan, Pemda Aceh.

Prof Sya’ad mengatakan metode pelatihan ini meliputi teori dan praktek bertujuan untuk mendalami SEM, AMOS dan PLS secara bertahap mulai analisis jalur, analisis faktor hingga pemodelan persamaan struktural.

“Pelatihan ini berguna bagi mahasiswa S2 dan S3 untuk menyusun tesis dan disertasi. Selain itu juga bermanfaat untuk para peneliti dan kalangan akademisi,” katanya. Dia menyebutkan SEM merupakan teknik analisis multivariat yang merupakan gabungan antara anlisis jalur dengan analisis faktor. Sedangkan PLS digunakan sebagai alternatif SEM bila persyaratannya tidak terpenuhi. Dengan SEM dan PLS pengolahan data akan lebih tepat dengan cara menguji indikatornya.

Sebelumnya Sya’ad menjelaskan AMOS, SEM atau PLS merupakan suatu sistem untuk analisis dengan cara statistik. Caranya, data dimasukkan ke komputer dengan struktural AMOS maka akan keluar hasil yang signifikan maupun tidak signifikan dapat dibedakan. SEM dan PLS banyak diaplikasikan di berbagai bidang ilmu sosial, ekonomi, psikologi, pertanian, pendidikan, kesehatan, MIPA dan lain-lain. Dia berharap melalui pelatihan ini peserta mampu untuk menggunakan sistem alat canggih tersebut yang sudah menjamur di Jawa, Kalimantan, Makassar dan Malaysia.

Dibuka Purek I Prof Ir Zulkifli Nasution MSc PhD mewakili rektor USU, pelatihan memasuki tahun kedua diadakan ini diikuti 60 peserta, melebihi target panitia yang menetapkan hanya 50 peserta.

Kahumas UMA Ir Asmah Indrawati MP menyebutkan pelatihan seperti ini sudah dua kali dilaksanakan FE UMA yang juga bekerjasama dengan USU. Menurutnya, antusiasme peserta mengikuti pelatihan tersebut karena sangat berguna untuk menyusun skripsi dan disertasi bagi para mahasiswa. (aje)