Nagan Raya Fokus Benahi Infrastruktur Irigasi

Banda Aceh ( Berita ) :  Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, kini memfokuskan pengunaan dana otonomi khusus 2013 senilai Rp168 miliar untuk pembangunan infrastruktur irigasi dan jalan guna mendukung sektor pertanian.

“Semua dana otsus akan kita fokuskan kepada pembanggunan infrastrukstur jalan, irigasi pertanian, jembatan, perkebunan rakyat dan rumah dhuafa,” kata Bupati Nagan Raya H T Zulkarnaini di Jeuram, Kamis [03/01].

Ia menjelaskan, sarana irigasi dan jalan merupakan kebutuhan mendasar di wilayah itu sebagai pondasi menggerakkan percepatan pertumbuhan ekonomi rakyat. Sementara Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) 2013 senilai Rp645 miliar hanya disisihkan sekitar Rp120 miliar untuk fisik, sehingga dengan total anggaran Rp273 miliar diharapkan mampu memacu pertumbuhan ekonomi daerah.

Sebutnya, sarana infrastruktur di kabupaten berusia hampir 11 tahun itu masih sangat kurang, karena itu butuh upaya perencanaan dan kerja kerja keras semua pihak untuk mendorong percepatan pembangunan.

“Bila hanya mengandalkan dana APBK, Nagan Raya tidak akan mampu memacu percepatan pembanggunan, karenanya kita masih membutuhkan dana APBA dan APBN,” imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan, sumber daya alam yang paling potensial di daerah itu adalah perkebunan, pertanian dan perikanan, akan tetapi masih sangat kurang sarana pendukung seperti jalan dan irigasi.

Untuk itu, Pemkab Nagan Raya sudah membuat perencanaan selama 2013 memfokuskan pembanggunan infrastruktur sehingga mampu mengundang ketertarikan investor luar menanamkan modal ke daerah penghasil minyak kotor kelapa sawit itu.

Kata dia, Nagan Raya juga memiliki potensi objek wisata alami pegunungan daerah dataran tinggi, akan tetapi masih cukup sulit mempromosikan daerah itu, karena medan jalan tidak mendukung.

“Untuk kita bangun dengan dana daerah tidak memungkinkan, karena itu lintas Beutong-Takengon itu merupakan jalan nasional penghubung Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Tenggah,” katanya menambahkan.

 

Satu rencana kerja

Sementara itu pada bagian lain Bupati Zulkarnaini menyarankan Pemerintah Aceh untuk dapat merealisasi sisa dana otsus Aceh sejak 2008 hingga berakhir 2027 senilai Rp650 triliun dalam satu perencanaan masa kerja.

“Bila dana otsus hampir Rp700 triliun itu dibuat dalam satu rencana kerja, maka saya yakin Aceh dapat berubah dalam seketika, karena bila terus diolah dalam perencanaan sampai 20 tahun masa kerja, maka pasti akan ada dana yang tidak terserap dan ada pemotongan,” katanya.

Menurut dia, dana otsus Aceh begitu besar agar difokuskan untuk infrastruktur jalan lebih maksimal hingga berukuran 18 meter menghubungkan seluruh bagian lingkar 23 kabupaten/kota di Aceh lebih besar manfaatnya dari pada menunda-nunda pembangunan.

Kemudian pembangunan pelabuhan samudera berkelas internasional di bagian barat selatan dan utara Aceh serta menyisihkan untuk pelabuhan bebas Sabang sehingga setiap hasil daerah tidak dapat diganggu daerah lain.

Selanjutnya kebutuhan mendasar lain adalah, otsus yang begitu besar dapat dipergunakan membangun bandar udara berkelas internasional di beberapa daerah, sehingga sarana transportasi seluruh Aceh dapat lancar.

“Dana sebesar itu masih lebih bila dipergunakan dalam satu rencana masa kerja, karena ketiganya ini merupakan pondasi awal merubah Aceh dari ketertinggalan pembangunan,” imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan, sia-sia bila Pemerintan Aceh membangun rumah dhuafa dan memberikan bantuan cuma-cuma kepada masyarakat apabila kebutuhan mendasar untuk kemandirian ekonomi rakyat tidak tersedia.

Kata Zulkarnaini, begitu sering ditemukan kasus daerah Aceh yang berkontribusi menghasilkan hasil bumi, namun produknya dimanipulasi dan diolah daerah lain, karena masih ketergantungan menggunakan fasilitas mereka.

Seperti ekspor CPO, Nagan Raya masih harus melalui pelabuhan Belawan, Sumut, namun akhirnya kepercayaan negara luar terhadap kemurnian produk Aceh diragukan kualitasnya.

“Bila semua itu dilaksanakan Pemerintah Aceh, biarlah PT Arun diambil pemerintah pusat, karena masih banyak peluang lain dapat dimanfaatkan Aceh bila infrastruktur sudah maksimal,” katanya menambahkan.

Katanya juga, apabila ketiga sarana tersebut mampu direalisasi dengan dana otonomi kusus Aceh, seiring itu pula investor dari berbagai penjuru negara berdatangan menanamkan modalnya di provinsi ujung barat Indonesia itu. (ant )