Harga Cabe Merah Dan Tomat Anjlok, Petani Karo Menjerit

MEDAN (Berita): Dalam tiga minggu terakhir ini harga si pedas cabe merah, cabe hijau dan tomat terus menerus mengalami penurunan hingga ke posisi Rp5.000-Rp6.000 per kg, cabe hijau Rp3.000-Rp4.000 dan tomat Rp3.000-Rp4.000 per kg di pasaran Medan sehingga sejumlah petani di daerah Karo sebagai penghasil cabe merah ‘menjerit’ dan sebagian tidak lagi memanen produksinya.

Hal itu diungkapkan Sejahtera Bangun,47, salah seorang petani warga Desa Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo kepada wartawan di Medan Rabu (21/11).

Di pasaran Medan selain cabe, harga tomat juga anjlok drastis. Namun untuk cabe kecil harganya justru naik dari Rp12.000 per kg (Selasa 20/11), sekarang Rabu (21/11) mencapai Rp18.000 per kg. Akibatnya, petani di daerahnya tidak mau lagi memanen tiga komoditi itu (cabe merah, hijau dan tomat) karena kalaupun dipanen, malahan makin merugi.

Bangun memaparkan kalau harga cabe merah di tingkat petani di bawah Rp8.000 per kg maka tidak ada lagi didapat petani. Artinya, biaya memproduksi cabe untuk satu lobang (satu pohon cabe) berkisar Rp2.500-Rp3.000 per pohon sehingga dengan harga tebus di tingkat petani sekarang sebesar Rp4.500 per kg tentu petani mengalami kerugian. Sebab sebelumnya mencapai Rp13.000 per kg, turun jadi Rp12.000 per kg, anjlok lagi ke posisi Rp10.000 per kg.

Sedangkan harga tebus tomat di tingkat petani sekarang Rp800 per kg, sebelumnya mencapai Rp3.300 per kg dan di pasaran Medan sekarang dijual menjadi Rp3.000 per kg. “Untuk ongkos panen saja tak cukup, malahan nombok sehingga petani membiarkan begitu saja cabe maupun tomatnya,” jelas Bangun.

Bangun sendiri yang sudah menjadi petani cabe sejak tahun 1987 merasakan dampak produksi cabe dan tomat yang berlimpah itu. Cabe miliknya sebanyak 4.000 batang dengan panen maksimal berkisar 800 kg per minggu sehingga diapun mengalami kerugian besar.

Menurut dia, anjloknya harga cabe dan tomat ini karena produksi berlimpah, sedangkan pembeli terbatas. Sedangkan para petani di daerahnya hanya menjual ke Medan dan paling jauh ke Pematangsiantar. “Biasanya pedagang di dua daerah itu yang mengambil cabe di Batu Karang,” jelasnya.

Hal sama juga terjadi di daerah lain seperti Tiga Binanga, Karo. Namun menurut Bangun, petani di Tiga Binanga menggunakan bibit hibrid yang varitasnya bagus. Sedangkan petani di Batu Karang menggunakan bibit lokal yang panen bulan Desember dan awal tanam bulan Agustus, usai menanam padi. “Kami minta pemerintah turun tangan mengatasi berlimpahnya produksi cabe dan tomat,” katanya.

Sebab untuk harga cabe merah yang mahal, jelasnya, pemerintah mencari solusi dengan mendatangkan komoditi itu dari Jawa. “Jadi kalau harga cabe murah yang berdampak pada petani, apa solusi pemerintah?” ungkapnya.

Petani di Karo, jelas Bangun, rutinitas menanam padi pada Juni-Agustus dilanjutkan dengan tanaman cabe (bulan Agutus-Januari). Kemudian pada Pebruari-Agustus tanam padi lagi. Di Desa Batu Karang sendiri ada 1.350 KK yang memiliki lahan pertanian rata-rata 2000 meter dan mata penghasilan utama dominan hanya bertani.

Menanggapi ini Mugiono dari Dinas Pertanian Sumut kepada wartawan manambahkan melimpahnya produksi cabe merah saat ini kemungkinan akibat petani yang serentak menanam cabe. Biasanya menjelang lebaran, harga cabe merah melonjak sehingga faktor kebiasaan petani juga menanamnya saat menjelang akhir tahun dan awal tahun ini. Padahal lonjakan permintaan bahan pangan paling banyak saat menjelang lebaran.

“Banyaknya petani yangt hampir serentak menanam cabe mengakibatkan produksi berlimpah, sedangkan permintaan stabil,” jelasnya. Di Sumut daerah tanam cabe berada di Karo, Samosir, Langkat, Deliserdang, Simalungun, Dairi dan Tapsel. Namun khusus di Karo, paling banyak di Desa Batu Karang. “Melimpahnya produksi ini, petani disarankan membuatnya menjadi tepung cabe atau saos,” katanya. (wie)