New York (Berita) : Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengingatkan tragedi serangan di Benghazi, Libya, yang menewaskan Duta Besar AS Christopher Stevens, menjadikan semua pihak harus merasa terpanggil untuk memperkuat komitmen membangun perdamaian dan saling pengertian di antara penganut agama dan keyakinan berbeda.
“Insiden tragis ini memanggil kita semua untuk menegaskan kembali, memperbaharui dan memperkuat komitmen kita untuk membangun perdamaian, saling pengertian di antara penganut kepercayaan dan budaya yang berbeda, serta untuk memelihara dialog antarkeyakinan yang menjangkau kalangan akar rumput,” kata Marty, ketika bertemu dengan Menlu AS Hillary Clinton di Wahington, Kamis seperti dikutip dari laman Departemen Luar Negeri AS.
Menlu Marty Natalegawa dan Menlu Hillary Clinton pada Kamis masing-masing memimpin delegasi kedua negara melakukan Pertemuan Komisi Bersama (JCM) RI-AS yang ketiga setelah mereka bertemu di Washington DC pada tahun 2012 dan di Bali tahun 2011.
Komisi Bersama itu merupakan mekanisme kerangka kemitraan menyeluruh, yang secara resmi diluncurkan tahun 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Barack Obama ketika Obama berkunjung ke Indonesia.
Indonesia kecam
Marty mengatakan Indonesia mengecam cuplikan film yang menghina agama tersebut dan ia mengisyaratkan si pembuat film telah bersikap kebablasan dalam menerapkan prinsip kebebasan.
“…kita diingatkan bahwa penggunaan kebebasan menyatakan pendapat harus dibingkai dalam konteks nilai-nilai moral serta kepentingan publik, seperti yang juga diamanatkan dalam Deklarasi Universal tentang Hak-hak Asasi Manusia,” katanya.
Sebelumnya dalam kesempatan yang sama, Marty juga menyampaikan kembali ungkapan duka cita Indonesia kepada Amerika Serikat atas meninggalnya Duta Besar AS untuk Libya, Christopher Stevens dan tiga diplomat Amerika lainnya dalam serangan ke Konsulat AS di Benghazi, awal pekan lalu.
Serangan itu, seperti yang dilaporkan media, dipicu oleh kemarahan sekelompok Muslim atas cuplikan film “Innocence of Muslims” di YouTube, yang isinya antara lain menggambarkan Nabi Muhammad sebagai tukang main perempuan dan tukang mengelabui.
Menlu Hillary Clinton menyampaikan terima kasih AS atas ungkapan duka cita dari Indonesia.
Ia sepakat bahwa film –yang diproduksi di Amerika oleh seorang warga di California– itu sangat menghina, namun menegaskan bahwa reaksi berbentuk aksi kekerasan juga tidak bisa dibenarkan.
“Tidak ada pembenaran apa pun, betapapun kesalnya seseorang atas materi (film, red) itu, seperti yang sudah saya katakan sebagai materi yang “menyinggung perasaan dan sangat menjijikkan– tidak ada pembenaran apa pun juga bagi penggunaan kekerasan,” tegas Hillary.
Sementara itu, sehari sebelumnya (Rabu, 19/9), Pertemuan Komisi Bersama ketiga diisi dengan pertemuan kelompok kerja Indonesia-AS guna membahas berbagai program kegiatan yang telah berjalan.
Kelompok kerja itu membahas enam bidang program kegiatan, yaitu demokrasi dan masyarakat madani; keamanan; iklim dan lingkungan; pendidikan; energi; serta perdagangan dan investasi. (ant)
You must be logged in to post a comment Login