Chairuman Ajak Perangi Ideologi Tak Sesuai Pancasila

*Eksponen 66 Terbitkan Buku  “Bangga Sebagai  Pelaku Penumpas PKI”

MEDAN (Berita) : Anggota DPR-RI, DR Chairuman Harahap SH MA  meminta masyarakat turut bersama-sama melawan ideologi yang tidak sesuai dengan Pancasila. “Kita boleh berbeda-beda, berbeda partai politik, berbeda sikap dan pandangan namun kita harus punya satu gerakan sebagai satu paham dalam bernegara,” kata mantan Deputi Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia, pada kegiatan silaturrahmi dan buka puasa bersama dengan eksponen 66, di Medan Club, Kamis (9/8).
Pernyataan itu disampaikannya menyikapi ‘warning’ pendapat Komnas HAM tentang peristiwa tahun 1965, Gerakan 30 September/PKI, yang menyatakan seolah-olah telah terjadi pelanggaran HAM berat ketika itu. “Komnas HAM mendesak agar peristiwa berdarah itu diusut” kata bakal calon Gubernur Sumut dari Partai Golkar ini, seakan menyesalkan pendapat tersebut.
Namun, kata Chairuman, secara Undang-Undang HAM, untuk mengusut peristiwa masa lalu  harus melalui rekomendasi DPR RI. “Kasus Trisakti saja tidak bisa diusut karena tidak ada rekomendasi DPR, konon pula kasus G30S/PKI,” ujarnya.
Dia juga menyesalkan sikap Komnas HAM melihat peristiwa G30/S-PKI hanya dari sisi pemberantasannya saja. “Harusnya kita juga melihat, bagaimana ketika itu markas TNI di obrak-abrik oleh komunis, juga peristiwa Bandar Betsi, apakah itu bukan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh gerakan itu?,” tanya Chairuman.
Chairuman juga minta agar masyarakat memahami karena G-30/SPKI bukan proses yang berdiri sendiri, namun sebagai peristiwa pertarungan komunis dan non komunis. Selain itu, kata Chairuman istilah G30S/PKI, memang dinamai oleh kaum permberontak tersebut yang akhirnya bisa ditumpas oleh para pahlawan revolusi.
Pembahasan terkait G30S/SPKI, mengemuka dari keprihatinan organisasi Eksponen 66 terhadap situasi masa lalu tersebut. Sebagaimana disampaikan Ketua Eksponen 66 H Marzuki yang mengaku prihatin dengan terbitnya buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI” karangan Ribka Tjiptaning Proletariati.
Menurut Marzuki, pihaknya prihatin karena justru buku tersebut justru menjadi bacaan setengah wajib di kampus-kampus. Buku tersebut, kata dia seolah-olah menggambarkan, penumpas G30S/PKI sebagai bandit.”Seakan-akan mereka yang memberontak itu pahlawannya. Jadi kita sebagai bagian dari Eksponen 66 yang mengalami peristiwa tahun 1965 itu juga harus menciptakan buku berjudul,” Kami bangga sebagai pelaku penumpasan G-30S/PKI,” kata Marzuki, mantan anggota DPRD Sumut dari Partai Golkar ini.
Dia menegaskan sebelum hari bersejarah tersebut yang akan jatuh pada tanggal 30 September nanti pihaknya sudah menerbitkan buku, “Kami Bangga Sebagai Pelaku Penumpas PKI”.

Puluhan Anak Yatim

Sementara pada silaturrahmi dan buka puasa bersama tersebut, turut mengundang puluhan anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan di Medan. Hadir juga pada silaturahmi tersebut mantan Sekdaprovsu, RE Nainggolan, para pengurus Eksponen 66 di antaranya Yusuf Pardamean Nasution Azwir Husein. Silaturahmi juga diisi tausiah dari Al Ustad Azwir Bin Ibnu Azis yang mana dalam tausiahnya menyampaikan untuk berhati-hati dalam memilih seorang pemimpin.(irm)

You must be logged in to post a comment Login