Jakarta ( Berita ) : Pengamat Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam mengatakan saat ini Indonesia membutuhkan cadangan devisa lebih besar seiring dengan turunnya nilai tukar rupiah pada triwulan II-2012. “Tingginya kebutuhan cadangan devisa diperlukan di antaranya untuk menolong turunnya nilai tukar rupiah,” kata Latif di Jakarta, Jumat [13/07].
Dia mengatakan, saat ini Indonesia mengalami penurunan cadangan devisa sampai dengan akhir Juni 2012 mencapai 106,5 miliar dolar AS dari akhir April 2012 yang masih mencapai 116 miliar dolar AS.
Menurut data Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah pada triwulan II-2012 masih mengalami tekanan depresiasi yang dipengaruhi oleh dinamika krisis di Eropa. Rupiah secara “point-to-point” melemah sebesar 2,65 persen menjadi Rp9.393 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 2,27 persen menjadi Rp9.277 per dolar AS. “Jika penurunan terus membengkak, BI harus melakukan intervensi dengan menggelontorkan cadangan devisa ke pasar untuk menahan adanya inflasi,” katanya.
Menurut latif , kebutuhan itu juga diindikasikan dari perkembangan impor Indonesia yang cukup besar, sementara di sisi lain perkembangan ekspor Indonesia masih rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa impor Indonesia meningkat sebesar 17,4 persen dari periode yang sama tahun 2011. Sementara hingga periode Januari-Mei 2012 nilai ekspor Indonesia baru mencapai 1,5 persen.
Meski demikian, dia mengatakan pinjamanan yang diberikan ke IMF tidak mempengaruhi cadangan devisa Indonesia. “Logikanya Indonesia hanya menginvestasi bukan memberi bantuan atau membayar jadi tidak mempengaruhi cadangan devisa Indonesia,” kata Latif. (ant )
You must be logged in to post a comment Login