Kini Ramadhan Fair Menjadi Budaya Kota Medan

      Comments Off

“TAK TERASA, sebulan lagi Ramadhan”. Seperti itulah ucapan dalam benak masyarakat muslim Kota Medan. Penuh harap, bersyukur sekaligus ajang mempersiapkan dan membersihkan diri menyambut datangnya bulan suci yang penuh nikmat, berkah dan penuh dengan hidayah, mengharap pengampunan dari Tuhan. Setiap tahun, berdasarkan kalender Arab, bulan suci ini disambut suka cita oleh warga muslim di dunia.

Jika bulan Ramadhan akan tiba, tentu orang Islam menyibukkan diri dengan segala aktifitasnya. Masjid-masjid pun ikut berbenah, karena akan menjadi tempat dilaksanakannya Shalat Tarawih, Tadarus (membaca ayat-ayat suci Al Quran usai Tarawih), Nuzulul Quran, serta kegiatan-kegiatan yang bernuansa Ramadhan lainnya.

Pemerintah pun tak ketinggalan. Semua kebutuhan bahan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng dan lain sebagainya, harus diupayakan tetap aman selama bulan Ramadhan. Bahkan jauh hari, pemerintah telah menyiapkan stok tambahan, agar sembako tidak mengalami kekurangan.

Itu semua seperti tradisi tahunan, aktifitas yang tidak bisa dihilangkan dan mengakar dari generasi ke generasi. Tetapi, rutinitas itu merupakan hal yang biasa, yang tentu saja menjadi suatu kewajiban bagi umat Islam di dunia, khususnya Kota Medan. Nah, masyarakat Kota Medan yang reliji, sangat ingin melihat dan merasakan adanya perubahan dari rutinitas itu. Mereka rindu dengan hal-hal yang baru, yang menjadi daya tarik mereka sendiri.

Jika di daerah lain di Indonesia, khususnya luar Kota Medan, memiliki tradisi-tradisi tahunan dalam menyambut setiap hari besar Islam, seperti Maulid atau juga Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, maka warganya dengan dukungan dari pemerintah selalu menggelar semacam pawai obor, tabligh akbar atau kegiatan-kegiatan reliji lainnya. Agar nuansa relijius di daerah itu tetap melekat dan menjadi pedoman hidup bagi masyarakatnya.

Bagaimana dengan Kota Medan sendiri? Meskipun kegiatan bernuansa reliji pernah dilakukan, namun itu tidaklah menjadi agenda rutin masyarakatnya dan juga agenda rutin bagi Pemerintah Kota Medan. Pengajian di masjid-masjid besar sering dilakukan oleh komunitas-komunitas muslim. Buka puasa bersama di Pemko Medan dan Rumah Dinas Walikota Medan, memang setiap Ramadhan selalu dilaksanakan, tetapi itu hanyalah bersifat intern, karena tidak menjangkau masyarakat Kota Medan seluruhnya.

Dari latar belakang itulah, Pemerintah Kota Medan membuat gagasan baru yang menjadi agenda rutin tahunan ibukota Sumatera Utara ini, yakni “Ramadhan Fair”. Ide membuat Ramadhan Fair tak lepas dari peran mantan Walikota Medan, Drs H Abdillah Ak MBA, yang ingin menata para pedagang berjualan jajanan berbuka puasa di sepanjang Jalan Amaliun, Kelurahan Kota Matsum II, Kecamatan Medan Kota. Konon, kehadiran para pedagang yang telah berjualan selama empat generasi itu kerap mengganggu kelancaran arus lalu lintas di kawasan tersebut, hingga memacatkan Jalan Sisingamangaraja II, tepatnya di perempatan Masjid Raya Al Mashun.

Maka, Abdillah kemudian memaparkan semacam blueprint (cetak biru), untuk merelokasi para pedagang Amaliun ke Jalan Masjid Raya, yang membelah Masjid Raya Al Mashun dengan Taman Sri Deli. Di jalan itulah, Pemerintah Kota Medan menggelar jajanan berbuka puasa sekaligus diisi dengan kegiatan-kegiatan bernuansa Islami, selama sebulan penuh. Dan terwujudlah keinginan Abdillah itu, dengan terlaksananya Ramadhan Fair I pada tahun 2004. Sebagai penanggungjawabnya adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Medan.

Ternyata, gagasan mantan Walikota Medan, pada masa itu mendapat tanggapan positif dari masyarakat Kota Medan. Warga kota pun mendukung kegiatan itu karena Ramadhan Fair dikemas se sesansional mungkin. Para pedagang makanan dan minuman berbuka puasa dan pedagang pakaian diberi tempat berupa stand-stand yang mencapai ratusan. Stand-stand itu berdiri di atas trotoar Jalan Masjid Raya, yang ditutup selama satu bulan.

Even Organizer (EO) sebagai penyelenggara Ramadhan Fair pun memanjakan para pengunjung dengan berbagai macam kegiatan berupa MTQ, Azan, Beduk, Nasyid, Ceramah Agama dan Nuzul Quran, dengan meminta masing-masing kecamatan mengirimkan pesertanya. Artis-artis terkenal ibukota dan mancanegara, seperti Opick, Arman Gigi, Ebiet G Ade, Debu, Maya KDI dan Raihan dari Malaysia serta banyak artis lainnya ikut serta mengisi kegiatan sembari menghibur masyarakat Kota Medan.

Setiap hari, ribuan pengunjung memadati arena Ramadhan Fair, yang memiliki keindahan seperti Taman Sri Deli dan megahnya Masjid Raya Al Mashun yang bernilai historis, sedangkan diujung jalan terlihat Istana Maimun. Lokasi yang cocok untuk meningkatkan daya tarik wisata reliji bagi wisatawan lokal dan mancanegara.

Ramadhan Fair Jadi Dua

Tahun-tahun berlalu, tampuk kepemimpinan dari Walikota Medan, Drs H Abdillah Ak MBA, telah berpindah. Namun Ramadhan Fair tetap terlaksana setiap tahunnya. Pasca ditinggal Abdillah, Pemerintah Kota Medan dikendalikan oleh Drs H Afifuddin Lubis MSi, yang menjabat sebagai Penjabat (Pj) Walikota Medan. Tentu karena sudah menjadi agenda rutin, Ramadhan Fair tetap terlaksana selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan.

Setahun menjabat, Afifuddin Lubis pun pensiun dari Pegawai Negeri Sipil dan melepaskan jabatan sebagai Plt Walikota Medan, di tahun 2009. Sebagai penggantinya, Gubernur Sumut ketika itu, H Syamsul Arifin SE, menunjuk Staff Ahli Pempropsu, Drs H Rahudman Harahap MM.

Tak lama, Drs H Rahudman Harahap MM pun terpilih menjadi Walikota Medan bersama Drs HT Dzulmi Eldin S MSi, sebagai Wakil Walikota Medan, lewat Pemilihan Kepala Daerah Langsung (Pilkadasung) Kota Medan, dua putaran, pada 2010. Digenggamannya, Kota Medan mulai berbenah. Seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) diminta serius mendukung program-programnya dalam memajukan Kota Metropolitan ini.

Namun bagaimana dengan Ramadhan Fair? Drs H Rahudman Harahap MM, tidak akan pernah melupakan even tahunan milik masyarakat Kota Medan itu. Walikota Medan ini bahkan meningkatkan even itu dengan membuat dua Ramadhan Fair sekaligus di Kota Medan. Satu lagi di kawasan Medan bagian utara, tepatnya di Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli.

Karena Walikota Medan, Drs H Rahudman Harahap MM, sangat menginginkan masyarakat di kawasan Medan bagian utara itu, ikut juga merasakan momentum Ramadhan Fair di bulan suci Ramadhan, seperti yang dirasakan oleh sebagian besar warga Kota Medan. Kebijakan Rahudman Harahap membagi dua pelaksanaan Ramadhan Fair, telah menciptakan rasa adil bagi masyarakat Medan bagian utara.

“Ramadhan Fair milik semua warga Kota Medan. Masyarakat yang di Kecamatan Medan Belawan, Medan Marelan, Medan Deli dan Medan Labuhan juga bisa menikmatinya, tak perlu jauh-jauh datang ke Masjid Raya. Jadikan Ramadhan Fair ini ikon Kota Medan yang dilaksanakan setiap tahunnya,” ucap Walikota Medan, H Rahudman Harahap MM, ketika membuka Ramadhan Fair VIII tahun 2011, di Lapangan Mabar, ketika itu.

Kini masyarakat Kota Medan bagian utara itu, mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Walikota Medan, Drs H Rahudman Harahap MM. Mereka juga berharap kepada Walikota Medan, agar Ramadhan Fair IX yang digelar bulan depan tetap digelar di kawasan Medan bagian utara ini, mengingat begitu besarnya antusias masyarakatnya yang rindu dengan tradisi-tradisi bernuansa reliji yang sudah lama memudar.

Masyarakat Kota Medan pun pada umumnya, patut berbangga karena Ramadhan Fair telah menjadi ikon Kota Medan dan menciptakan tradisi kebudayaan modern yang dilaksanakan setiap tahun. Kini, harapan warga kota ini tertumpu kepada Walikota Medan, Drs H Rahudman Harahap MM, agar tetap melestarikan Ramadhan Fair sebagai tradisi budaya Kota Medan dan kalau perlu harus diklaim sebagai budayanya orang Medan yang mendapat pengakuan dunia. Semoga!!! ***** ( Donny Philli ) (Tulisan ini untuk diikutsertakan pada Lomba Tulisan menyambut HUT Kota Medan ke 422, yang digelar wartawan unit Pemko Medan)