Direksi Baru Bank Sumut Harus Beri Perubahan

PLT Gubsu Gatot Pujo Nugroho menjabat tangan Gus Irawan Pasaribu usai keluar dari ruang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Bank Sumut di lantai 10 gedung Bank Sumut Jl.KH Zainul Arifin – Jl. Imam Bonjol Medan, Kamis (14/6) malam. Rapat yang dimulai sejak pukul 09:00 ini berakhir hingga pukul 21:45. ( Repro/ WSP / Surya Efendi )

MEDAN (Berita): Kalangan karyawan di lingkungan Bank Sumut berharap situasi kerja di bank ‘flat merah ‘ itu berubah paska pergantian jajaran Direksi yang diputuskan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), kemarin.
“Kami ingin bank ini tetap sehat, jangan ada lagi riak-riak politik di sini, sehingga karyawan bisa bekerja maksimal,” ujar salah seorang karyawan golongan rendah di lingkungan bank Sumut tersebut menjawab wartawan, di sela-sela RUPSLB yang digelar sejak pagi hingga pukul 22.00 wib itu.
Sebagaimana kekhawatiran beberapa kalangan yang pernah dilansir beberapa media sebelumnya, menjelang Pemilihan Gubsu (Pilgubsu) tahun 2013,  Gus Irawan, Direktur Utama PT Bank Sumut  tiga periode yang jabatannya berakhir 17 Juni 2012, ini diduga telah memanfaatkan bank milik Pemprovsu tersebut sebagai kenderaan politik. Pasalnya Gus disebut-sebut akan maju sebagai salah seorang bakal calon (balon) dalam Pilgubsu tersebut.
Kasak kusuk memanfaatkan Bank Sumut untuk memuluskannya menuju ‘Sumut I” itu membuat kondisi di internal bank itu ricuh. Meski tidak diumbar secara terang-terangan, namun kericuhan itu terpendam dan hanya beredar kecewa dari mulut ke mulut karyawan.
Informasi yang diperoleh Berita dari beberapa pegawai Jum’at (15/6), Gus yang barusan mengakhiri jabatannya sudah lebih dulu membentuk ‘tim sukses’ justru di lingkungan Bank Sumut untuk memuluskan langkahnya menuju “Sumut 1″.
Tim sukses yang merupakan pejabat di Bank Sumut itu bergerak ke sana kemari sehingga meninggalkan tugasnya mengurus bank. Bahkan  saat menjelang habis jabatan, Gus justru menaikkan jabatan para tim sukses setingkat lebih tinggi yang dinilai sangat tidak wajar seperti Tj. Informasi yang diterima, kerja karyawan tersebut di luar kantor terus, dengan alasan untuk urusan lobi-lobi di bidang pemasaran.

Sedangkan seorang karyawan lainnya, Er langsung dari Asisten V, meski baru setahun di Bank Sumut, jabatannya naik langsung menjadi Asisten IV. Awalnya Er bertugas mengelola majalah Bank Sumut.

Begitu pula MR, TS dan EA yang ditugaskan untuk menagih kredit macet namun, kenyataannya keluar kantor untuk urusan pribadi Gus menuju Sumut I. “Tentu saja, para pegawai yang bekerja keras mengurus bank menjadi kecewa dengan kondisi tersebut,” kata karyawan yang tak mau disebut identitasnya itu.

Beberapa karyawan yang menjadi tim sukses sang Dirut itu terkesan habis-habisan bekerja untuk Gus seperti IP, yang fungsinya mengkordinir pimpinan cabang, termasuk cabang pembantu untuk menyediakan dana buat menggelar kegiatan Gus ‘berkampanye’ di beberapa kawasan. Di ujung berakhirnya masa jabatan, Gus berkampanye ke daerah dengan kedok acara perpisahan.

Biaya untuk kampanye ‘terselubung’ itu  diperkirakan mencapai Rp100 juta yang dibebankan ke setiap kantor cabang. Ada 27 kantor cabang di daerah ini, sehingga total dana Bank Sumut yang harus dikeluarkan sekira Rp 2,7 miliar.

Tim sukses juga mengedarkan formulir dukungan terhadap Gus untuk jadi Gubsu kepada seluruh pegawai tetap dan outsourcing Bank Sumut. Para pegawai itu disuruh mengisi formulir; ‘nama, nomor KTP/NIK, tempat tgl lahir/umur, alamat dan tanda tangan’.

Selain ke pegawai, tim suksesnya juga mengambil copy KTP debitur KPUMSS. Memang debitur KPUMSS itu agaknya menjadi ‘ajang’ bagi Gus untuk pencitraannya seolah-olah dia memang dielu-elukan kaum ibu yang mendapat kredit murah.

Padahal kedatangan kaum ibu  di acara para debitur seperti di Jambur Halilintar Padang bulan Medan dikumpulkan oleh cabang-cabang di satu tempat. Mereka dijeput, diberi ongkos dan diberi makan sehingga mau tidak mau datang ke acara tersebut.

Gus juga kerap membuat spanduk berkedok Bank Sumut tapi bergambar dirinya seperti spanduk penerimaan setoran uang kuliah “Politeknik Negeri Medan’ (Polmed) yang ada di seluruh kantor.

Para karyawan Bank Sumut berharap direksi mendatang lebih ketat mengawasi tim sukses yang beredar di luaran untuk urusan Gus tanpa mengerjakan tugasnya meningkatkan kinerja bank.

Serius
Sementara itu kepada wartawan, usai berakhir jabatannya sebagai Dirut Bank Sumut, kemarin, Gus Irawan menyampaikan keseriusannya mencalonkan diri dalam Pilgubsu 2013 nanti.  ’Ditanya serius, ya saya serius mencalonkan diri,” ujar Gus yang juga Ketua Umum KONI Sumut ini.

Pada kesempatan itu dia juga menyampaikan Bank Sumut di bawah kepemimpinannya selama ini justru maju pesat. Sekarang kata Gus Aset Bank Sumut mencapai Rp 21 triliun, setelah dipimpinnya selama 12 tahun. “Saat awal saya menjadi Dirut Bank Sumut, aset bank ini hanya Rp 1 trilun,” katanya lagi. Menurutnya jika Bank Sumut bukan  milik pemeritah, tentu bank ini ketika itu sudah “almarhum”, karena memiliki kredit macat mencapai 83 persen. Bank Sumut juga mengalami kerugian Rp 30 miliar.

Dia bahkan mengatakan di periode awal kepemimpinannya sebagai dirut di era tahun 2000 hingga 2004 merupakan masa survive atau dalam kondisi bertahan hidup. Hingga kemudian dari tahun ke tahun memperoleh laba di tahun pertama, Rp 10 miliar, tahun kedua menyusul Rp 20 Miliar , hingga tahun berikutnya mencapai angka Rp 60 Miliar. “Bank Sumut terus mengalami perkembangan signifikan hingga saat ini mendapat predikat bank sehat dari BI dan BUMD terbaik dari majalah info bank,” paparnya.

Rizal Pahlevi
Usai rapat RUPS Luar Biasa Pelaksana Tugas Gubernur Sumut Gatot Pudjo Nugroho mengumumkan, Rizal Pahlevi Hasibuan ditetapkan menjadi Plt Dirut Bank Sumut. Gatot selaku pemegang saham pengendali kepada wartawan usai memimpin RUPSLB tersebut menjelaskan Plt Dirut diberi mandat melaksanakan tugas mulai 17 Juni 2012 hingga ditetapkannya direksi definitif periode 2012 – 2016.

RUPSLB yang itu juga menetapkan Rudi Dogar Harahap selaku Plt Direktur Pemasaran dan H Zenilhar selaku Plt Direktur Umum dengan masa tugas yang sama dengan mandat yang diberikan kepada Plt Dirut. RUPSLB yang berlangsung alot itu dihadiri para bupati dan walikota selaku pemegang saham, juga menetapkan pemberhentian dengan hormat Direksi Bank Sumut 2008 – 2013 yang berakhir masa baktinya, pada 17 Juni 2012.

Selain Gus Irawan Pasaribu selaku Direktur Utama, direksi lain yang diganti yakni, HM Yahya selaku Direktur Umum dan H Zenilhar selaku Direktur Pemasaran. Gatot juga menjelaskan RUPSLB berhasil menetapkan Rizal Pahlevi Hasibuan selaku Komisaris Independen Bank Sumut yang definitif karena telah memiliki izin dari Bank Indonesia.

Sementara Barata Kesuma MBA ditetapkan menjadi Komisaris Independen periode 2009 – 2013 yang akan bertugas sejak Keputusan RUPSLB sampai dengan ditetapkannya Komisaris Independen yang definitif.

RUPSLB juga menetapkan sistem dan besaran gaji maupun fasilitas lainnya untuk para direksi, serta menetapkan pengesahan sistem dan prosedur pemilihan penggantian anggota direksi Bank Sumut definitif.(irm/lin)