Ratusan tenaga kontrak Terancam Dipecat, Mengadu Ke DPRK Aceh Tamiang

KUALASIMPANG( Berita ): Ratusan tenaga kontrak ( Pekarya) Pertamina Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (27/12) mendatangi DPRK Aceh Tamiang mengadukan nasib mereka yang terancam dipecat.

Mereka diduga telah diintimidasi  Pertamina Rantau melalui vendor ( perusahaan pemasok tenaga kerja kontrak) diperusahaan penghasil minyak dan gas ( migas). Pantauan Waspada, kedatangan ratusan karyawan kontrak itu menggunakan sepeda motor berkumpul di halaman gedung wakil rakyat tersebut.

Namun, tidak ada seorangpun pimpinan dewan yang menyambut kedatangan 275 orang tenaga kontrak itu. Menurut Ketua Komisi ADPRK Aceh Tamiang, Bukhari,SE kepada ratusan tenaga kontrak, Ketua DPRK Aceh Tamiang, Ir Rusman dan Wakil Ketua ,Drs H.Armand Muis sedang ada urusan tugas ke luar kota,sedangkan Wakil Ketua, Nora Idah Nita sedang sakit.

Mereka disambut Ketua Komisi A, Bukhari dan Sekretaris Komisi A, Jafar Ketong di Ruang Banmus DPRK Aceh Tamiang dengan utusan perwakilan tenaga kontrak yaitu Muhammad Zein B, Anjasmara, Syahruddin, Syamsuddin Halim, Adral, Nyakman, Muhammad Hatta, Ruslan, Darwin, Amir.

Penuhi Panggilan Sidang Utusan tenaga kontrak itu mengungkapkan, ratusan tenaga kontrak Pertamina Rantau itu pada hari Jumat (23 Desember 2011) memenuhi panggilan sidang  ke VIII agenda siding menghadirkan saksi-saksi dari pihak tergugat ( PT Pertamina EP Field Rantau) di Pengadilan Negeri Hubungan Industrial (PHI) di Banda Aceh  untuk menyelesaikan perselisihan Hubungan Industrial Pekerja Kontrak PTPertamina EP Fiel Rantau dengan Perusahaan PT Pertamina EP Field  Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.

Masih menurut pengakuan dari delegasi, ketika mau berangkat ke Banda Aceh untuk menghadiri sidang, mereka telah membuat surat pemberitahuan ke PT Pertamina EP Field Rantau dan kepada masing-masing vendor ( baca :Perusahaan yang memasok mereka untuk bekerja) di Pertamina Rantau. “ Sebagai warga negara Indonesia yang mematuhi hukum, maka kami sebanyak 275 orang pergi ke Banda Aceh untuk memenuhi surat panggilan menghadiri siding di Banda Aceh, “ terang delegasi.

Namun, ungkap mereka, setelah mereka pulang dari Banda Aceh , ternyata pada tanggal 24 Desember 2011 pihak PT Pertamina Rantau menerbitkan surat yang ditujukan kepada vendor yang isinya menyatakan kami semua telah mangkir massal dan semua diskorsing selama tiga hari serta ada ancaman intimidasi yang menyatakan surat tersebut merupakan surat peringgatan terakhir karena meninggalkan lokasi pekerjaan tanpa izin dari perusahaan.

“ Hal ini namanya sengaja mencari-cari kesalahan pada kami, sebab sebelum berangkat kami sudah membuat surat pemberitahuan ,tetap kenapa kami ketika itu tidak dilarang berangkat ke Banda Aceh, namun kenapa begitu kami pulang dari Banda Aceh langsung diskorsing dan diintimidasi Pertamina dan vendor,” kecam tenaga kontrak itu kemarin.

Karena itu mereka memohon kepada DPRK Aceh Tamiang untuk segera memanggil PT Pertamina Rantau .” Perusahaan sudah mengintimidasi dan berbuat sewenang-wenang kepada kami yang selama ini mengabdi untuk perusahaan itu, bahkan kami terancam mau dipecat ,” pinta mereka. Bukhari dan Jafar Ketong menyatakan nanti pihaknya akan berkoordinasi dengan pimpinan dewan dan Pemkab Aceh Tamiang untuk memanggil Pertamina Rantau dan vendor. (WSP/b23)