Simpang Jernih ‘Surga’ Mafia Kayu

IDI ( Berita ) : SimpangJ ernih adalah kecamatan paling ujung di bagian timur selatan. Letaknya sangats trategis, diapit oleh sejumlah kabupaten seperti Blangkejeren dan Gayo Lues (selatan), Aceh Tamiang (timur) dan juga berbatasan langsung dengan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Baru – baru ini, Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL) Aceh menyatakan, kerusakan hutan KEL di Simpang Jernih semakin parah. Selain akibat penebangan hutan secara liar dengan dalih dijadikan perkebunan ilegal, pembabatan hutan juga kerap dilakukan masyarakat setempat dengan alasan faktor ekonomi yang kabarnya 100 persen penduduk Simpang Jernih bertahan hidup dari hasil kayu.

Hal tersebut terbukti dengan pengakuan salah seorang tokoh adat dan pemuka agama Tgk M Idris alias Aman Genap. Dia mengaku, 100 persen penduduk di Simpang Jernih bekerja sebagai penebang kayu hutan.

Namun belakangan masyarakat setempat mulai ragu-ragu dengan pekerjaan tersebut, sebab Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) melarang masyarakat menebang kayu, sebab undang-undang tidak membenarkan pe

nebangan kayu hutan secaraliar. “Kalau hutan tidak ditebang, masyarakat mau makan apa, sementara pekerjaan lain tidak ada. Katakanlah ada yang berladang dengan menjadi petani sawah, tapi persentasenya tidak seberapa,” kata Aman Genap, baru-baru ini.

Dia mengaku, sejak Simpang Jernih dihuni penduduk yang mayoritas suku Gayo itu, masyarakat hanya mampu bertahan hidup dengan hasil kayu hutan. Ketua LSM Komunitas Aneuk Nanggroe Aceh (KANA) Muzakir, Senin (26/12) mengatakan, Simpang Jernih sejak menjadi ‘surga’ para mafia kayu meski dibenarkan di sana telah dibangun Polsek dan ditempatkan personelnya, tetapi wilayah yang cukup luas dan dikelilingi sungai diduga menjadi ‘lahan basah’ kelompok tertentu dalam aksi penebangan hutan dilindungi seperti pembabatan KEL.

“Kita akui ada lembaga ataupun instansi yang mengawasi Simpang Jernih, tapi sangat tidak masuk akal ketika wilayah yang luas itu hanya dijaga beberapa personel keamanan.

Jadi, jangan heran jika selama ini Simpang Jernih surga para mafia kayu dari berbagai kalangan, ”beber Muzakir. Dia berani mengatakan hal tersebut dikuatkan dengan pernyataan Direktur Eksekutif LembAH tari, Sayed Zainal sebagaimana dilansir Waspada edisi Senin (26/12). Menurut Muzakir, banjir di kawasan Aceh Timur pekan lalu juga akibat penampungan debit air yang sudah tergolong rendah, sehingga air di pegunungan turun dan meluap ke permukiman penduduk di kawasan pesisir.

“Letak Simpang Jernih berdekatan dengan Aceh Tamiang dan Langkat (Sumatera Utara) membuat mafia lancer dan aman dalam bisnis kayu hutan,” kata Muzakir lagi sembari menambahkan, jika hutan terus dibabat, maka banjir bandang berpotensi di Aceh Timur akan kembali terjadi seperti tahun 2006 lalu dan akan melenyapkan sebagian besar Aceh Timur, seperti Lokop, Peunraun, Ranto Peureulak dan Birem Bayeun serta Ranto Selamat.

Untuk itu, harap Muzakir, instansi terkait dan Polisi Hutan (Polhut) tidak tinggal diam dan segera menyikapi persoalan dan dugaan penebangan kayu yang kian merajalela di pedalaman Aceh Timur yakni di Simpang Jernih.

“Jika peralatan penunjang kurang seperti mobil patroli, maka Polhut Provinsi Aceh bisa membantu dan fokus ke Aceh Timur dalam mengusir para mafia kayu,” kata Muzakir. Bupati Aceh Timur Muslim Hasballah baru-baru ini juga mengakui banjir yang terjadi di Aceh Timur akibat penebangan hutan sepanjang 30 tahun yang silam. Namun, selama pemerintahannya penebangan hutan dengan alasan alih fungsi lahan juga dibenarkan menjadi penyebab banjir. (WSP/b24)