Upaya Mencegah Aliran Sesat Di Aceh

Provinsi Aceh yang kini sedang melaksanaakan syariat Islam sempat dikejutkan dengan berkembangnya aliran “Millata Abraham” yang dinilai bertentangan dengan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Warga Aceh yang fanatik dengan Islam tersebut sempat tidak percaya bahwa pengikut Milata Abraham di daerah itu sudah mencapai 700 orang.

Kontan saja elemen masyarakat Aceh menentang dan melakukan berbagai aksi unjuk rasa agar Pemerintah Aceh mengambil sikap tegas terhadap ajaran yang dinilai menyesatkan tersebut.

Atas desakan masyarakat, akhirnya Pemerintah Aceh mengeluarkan Peraturan Gubernur yang menyebutkan Milata Abraham merupakan aliran sesat dan dilarang di daerah “Serambi Mekah” ini.

Dengan keluarnya Pergub tersebut sebanyak 139 pengikut Millata Abraham bertaubat dan berjanji tidak akan terpengaruh dengan aliran tersebut.

Sebagai bukti mereka kembali ke Islam yang sesungguhnya, sebanyak 139 orang itu disyahadatkan kembali oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU/MUI) Aceh Tgk. H. Muslem Ibrahim di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Peristiwa tersebut sepertinya menjadi pelajaran bagi umat Islam di Aceh, sehingga mereka tidak mau lagi kecolongan sehingga aliran sesat tersebut berkembang di daerah ini.

Oleh karena itu, sebanyak 25 organisasi masyarakat dan kepemudaan di Aceh akan memantau aktivitas ratusan mantan pengikut Millata Abraham yang telah kembali bertaubat. Pengawasan itu guna memastikan mereka sudah benar-benar meninggalkan ajaran sesat itu.

“Kita tidak ingin setelah disyahadatkan mereka mengulangi perbuatan sama,” kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Aceh Ramli A. Rasyid.

Menurut dia, pascapensyahadatan, masyarakat Aceh masih curiga dengan aktivitas mereka. Apalagi, kata Ramli, beredar kabar bahwa pensyahadatan itu sebagai trik mereka agar bisa leluasa dalam bergerak.

Ramli juga meminta Pemerintah Aceh melalui dinas terkait lebih proaktif melakukan pembinaan secara ketat bagi mantan pengikut Millata Abraham.

“Kita juga meminta masyarakat untuk melakukan syahadat ulang terhadap ratusan pengikut Millata Abraham di desa masing-masing. Pensyahadatan di mesjid raya belum betul-betul khidmat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Siswa Kader Dakwah (Iskada) Aceh Marwidin Mustafa menambahkan pengawasan aktivitas mantan pengikut Millata Abraham setelah disyahadatkan ulang merupakan kewajiban bersama masyarakat.

“Namun, 25 lembaga ini harus lebih fokus. Jangan sampai aqidah Islam sedikit demi sedikit dikikis dari dalam dengan kepura-puraan mereka,” kata Marwidin.

 

Upaya pencegahan

Terungkapnya ajaran Milata Abraham di Banda Aceh ternyata mendapat tanggapan dari berbagai pejabat daerah dan kalangan masyarakat, agar ajaran tersebut tidak menyebar luas ke kabupaten/kota di Aceh.

Kepala daerah dan organisasi mengadakan sosialisasi upaya pencegahan agar umat Islam tidak terpangaruh dengan jaran sesat.

Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar mengatakan, banyaknya remaja Aceh yang terpangruh dengan aliran sesat, karena memang ilmu agamanya dangkal.

“Sebenarnya anak-anak kita yang terpengaruh itu pintar dan orang tuanya pejabat, tapi karena ilmu agamanya sedikit, maka mereka mudah terpengaruh,” katanya.

Oleh karen itu ia mengusulkan perlunya penambahan pelajaran agama di sekolah-sekolah umum agar siswa memiliki pemahaman yang tinggi, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan ajaran-ajaran yang bisa mendangkalkan aqidah Islam.

“Saya rasa porsi pengajaran agama di sekolah-sekolah umum mulai SD sampai SMA bahkan perguruan tinggi perlu ditambah agar anak-anak kita memiliki kepahaman agama yang tinggi, sehingga tidak mudah terpengaruh,” katanya.

Wagub menyatakan, pelajaran agama di sekolah-sekolah umum sekarang sepertinya tidak efektif lagi, yakni dalam sepekan hanya 90 menit, sehingga sangat sedikit sekali anak-anak memproleh pendidikan agama.

Oleh karena itu, perlu ditambah pelajaran agama di sekolah-sekolah umum, khususnya lagi di perguruan tinggi, agar anak-anak dan mahasiswa memiliki dasar-dasar kefahaman agama yang kuat, sehingga apabila ada ajaran-ajaran yang menyimpang dari Islam mereka tidak mudah terpengaruh, kata Muhammad Nazar.

Wagub menyatakan, untuk menambah pelajaran agama ini tidak mungkin mengandalkan anggaran dari APBN, tapi perlu tambahan dana dari APB Aceh atau APB kabupaten.

Untuk itu, ia berharap DPR Aceh perlu mendorong program ini, sehingga pendidikan agama anak-anak Aceh bisa lebih meningkat lagi.

“Masalah agama merupakan masalah penting, jangan dianggap remeh, semua pihak perlu memikirkan hal ini, sehingga anak-anak kita tidak terjerumus pada hal-hal yang bertentangan dengan Islam,” katanya.

Ia juga mengharapkan agar meunasah dan masjid di Aceh lebih diberdayakan lagi untuk kegiatan pengajian.

Hal senada juga disampaikan Bupati Aceh Tengah H Nasaruddin yang menganjurkan warganya untuk menggalakkan pengajian di meunsah atau surau dan masjid guna menangkal aliran sesat.

“Saya rasa tidak ada jalan lain untuk mencegah aliran sesat, kecuali memperbanyak pengajian di mana-mana,” katanya.

Menurut Bupati, maraknya perkembangan aliran sesat akhir-akhir ini dipicu dari semakin lunturnya budaya keagamaan yang diwariskan oleh para pendahulu.

Orang tua dan juga anak-anak lebih mementingkan nonton sinetron ketimbang mengaji. “Padahal, dulu budaya mengaji sangat mengakar dalam masyakat kita, khususnya waktu antara shalat Magrib dan Isya, sehingga anak-anak tidak kosong dari ilmu dan pengetahuan agama,” kata Nasaruddin.

Menurut dia, membendung aliran sesat ini tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak saja, namun semua elemen dalam menjaga akidah umat, karena upaya pemerintah saja tanpa dukungan pihak lain termasuk masyarakat, tidak akan memberikan dampak apa-apa.

Orang nomor satu di Aceh Tengah tersebut  mengajak ibu-ibu pengajian, tokoh masyarakat dan ulama sebagai garda depan menangkal aliran sesat yang kini telah menjadi isu nasional, dengan senantiasa mengggalakkan  pengajian, mengkaji, menelaah kandungan Al Quran dan Hadist secara paripurna.

Saat ini aliran serta paham sesat dan menyimpang sedang tumbuh subur dan berkembang di negeri ini. Belum selesai masalah satu aliran sudah muncul aliran yang baru.

Selain merusak akidah dan citra Agama Islam, aliran-aliran ini merusak tatanan sosial, merusak hubungan keluarga, persatuan umat, cara berpikir masyarakat, dan bahkan ada yang mengancam kelangsungan NKRI, katanya.

Terakhir Bupati mengharapkan pengajian ini terus dapat dipertahankan dan berkembang serta menjadi benteng bagi masuknya aliran sesat di Aceh Tengah.

Pembinaan

Seorang tokoh ulama dan masyarakat Aceh Tgk H Imam Suja menyatakan, Pemerintah Aceh dan semua elemen masyarakat agar ikut membina mantan pengikut aliran Millata Abraham, sehingga mereka tidak kembali lagi kepada ajaran yang bertentangan dengan Islam.

“Pensyahadatan kembali terhadap mantan pengikut Millata Abraham tidak cukup, tapi harus dilakukan pembinaan secara kontinyu, sehingga akidahnya benar-benar sesuaidengan Al Quran dan Hadist,” katanya.

Imam Suja’ yang juga Penasihat DPW Muhammadiyah Aceh itu menyatakan, bila ratusan mantan pengikut Millata Abraham tidak dibina secara selektif, maka dikhawatirkan mereka akan mengembangkan ajarannya kepada orang lain.

“Kalau tidak dibina secara intensif, maka saya khawatir ajaran Millata Abraham bisa berkembang,” katanya.

Karena itu, Pemerintah dan MPU Aceh dimintanya agar tidak tinggal diam, dan memikirkan bagaimana masa depan anak-anak Aceh yang telah bertobat tersebut, katanya.

“Memang, sangat lucu, kalau sampai orang Aceh, akidahnya bisa terpengaruh. Ini masalah serius, karena apabila tidak ditangani, maka saya tidak tahu apa jadinya generasi kita 10 tahun ke depan,” katanya.

Ketika ditanya apakah mereka itu perlu ditempatkan di pesantren-pesantren, Imam Suja’ menyatakan, cara seperti itu bisa-bisa saja, tapi kan membutuhkan dana yang besar, apalagi anak-anak tersebut bukan orang telantar dan sebagian besar masih sekolah.

“Biarkan mereka tetap sekolah atau kuliah, setelah itu masing-masing anak diwajibkan untuk mengikuti pengajian,” katanya.

Khusus kepada orang tua, Imam Suja’ yang juga mantan anggota DPR RI itu mengharapkan agar memperhatikan pergaulan anak-anaknya.

“Ajak mereka untuk mengikuti pengajian-pengajian, sehingga akidah mereka bisa kembali kepada ajaran Islam yang sesuai dengan Al Quran dan Hadist,” katanya.

Karena bagaimanapun, menurut dia, terjerumusnya anak-anak ke aliran yang menyesatkan tidak terlepas dari kurangnya perhatian dari orang tua, khususnya di bidang pendidikan agama. “Meskipun anak-anak kita pintar, tapi kalau tidak dibekali ilmu agama yang kuat, maka akan tetap terpengaruh, apalagi diiming-imingi uang yang banyak,” katanya. ( ant/ Heru Dwi S )