Prof Raka Sudewi: Penelitian Interdermal Rampung Mei 2011

Denpasar, ( Berita ) :  Seorang guru besar Universitas Udayana Prof Dr dr AA Raka Sudewi, SpSK  menegaskan, penelitian dan ujicoba dengan penyuntikan virus antirabies menggunakan cara baru, diperkirakan rampung Mei mendatang.

Metode baru tersebut disebut suntik “interdermal” dalam menangani penyakit rabies, dan hasil penelitiannya baru akan rampung Mei mendatang, kata Raka di Denpasar, Kamis [10/03].

Rumah Sakit Umum Pusat  (RSUP) Sanglah, Denpasar melakukan ujicoba itu sejak November 2010, jika hasilnya positif akan mampu menghemat  penanggulangan rabies sebesar 60 persen,” kata  Prof Raka Sudewi yang juga ketua tim penanganan rabies RSUP Sanglah, Denpasar.

Ketika tampil sebagai salah seorang pembicara utama dalam sarasehan yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali  serangkaian Hari Pers Nasional (HPN) dan HUT PWI tahun 2011, ia mengatakan, dengan metode suntik “interdermal” mampu menghemat penggunaan vaksin antiraibes (VAR) terhadap korban yang digigit anjing.

Mereka yang digigit anjing selama ini harus diberikan vaksin dua CC, namun dengan cara baru itu hanya cukup 0,8 CC sehingga mampu melakukan banyak penghematan.

“Setelah metode baru itu kami teliti, sekarang kami lakukan uji coba efektifitasnya dibandingkan dengan cara yang lama, dan penelitian itu baru akan selesai Mei mendatang,” ujar Prof Raka Sudewi yang juga Direktur Pascasarjana Unud itu.

Dikatakan, sebanyak 60 orang menjadi relawan dalam ujicoba tersebut, yang terdiri dari 40 orang mendapatkan suntikan virus dengan metode baru dan lama, sedangkan sisanya 20 orang lagi adalah relawan pre-exposure yang tak mendapat suntikan, tapi kondisinya dipantau.

“Para relawan tersebut merupakan para petugas medis di RSUP Sanglah dan mahasiswa FK Unud yang pernah melakukan kontak langsung dengan pasien rabies. Tidak semua dari para relawan tersebut pernah digigit anjing, namun mereka memiliki resiko terpapar virus rabies,” ujar  Prof Raka Sudewi.

Dijelaskan, metode baru “intradermal” adalah suntikan VAR yang dimasukkan dalam kulit, sedangkan metode lama “intramoskuler” menggunakan otot untuk memasukkan VAR.

“Mudah-mudahan penelitian dan ujicoba tersebut membuahkan hasil, sehingga bisa menjadi modal dalam menuntaskan Bali bebas rabies,” harap Prof Raka Sudewi.

Sangsikan Bali Bebas Rabies 2012

Seorang guru besar Universitas Udayana Prof Dr dr AA Raka Sudewi, SpSK menyangsikan keberhasilan jajaran pemerintah provinsi Bali memberantas penyakit rabies di daerah itu. Pemberantasan penyakit itu mendapat dukungan masyarakat Pulau Dewata, katanya di Denpasar, Kamis.

“Daerah yang bisa dinyatakan bebas rabies sesuai panduan dari Kementerian Kesehatan RI maupun organisasi kesehatan dunia (WHO), jika selama dua tahun berturut-turut kasus rabiesnya nihil,” kata Prof Raka Sudewi yang juga direktur program pascasarjana Unud.

Ketika tampil sebagai salah seorang pembicara utama dalam sarasehan yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali  serangkaian Hari Pers Nasional (HPN) dan HUT PWI tahun 2011, ia mengatakan, selama dua bulan, Januari dan Februari 2011 di RSUP Sanglah Denpasar tercatat tujuh orang meninggal dunia akibat rabies.

Kondisi tersebut menurun 50 persen dibanding bulan-bulan pada tahun 2010, karena setiap bulan pada tahun lalu tercatat enam hingga tujuh korban meninggal akibat penyakit anjing gila.

Sementara data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali gigitan anjing pada manusia selama 2008 tercatat 20,013 kasus mengakibatkan 122 orang meninggal meningkat menjadi 45.466 gigitan menyebabkan 125 orang meninggal pada tahun 2009. Sedangkan gigitan pada 2010 tercatat 45.000 mengakibatkan 110 orang meninggal.

Prof Raka Sudewi yang juga ketua tim penanggulangan rabies RSUP Sanglah Denpasar menambahkan, tujuh kasus korban tewas akibat rabies selama dua bulan pertama 2011 hanya yang ditangani RSUP Sanglah saja.

Delapan rumah sakit kabupaten di Bali dalam waktu yang sama tidak tertutup kemungkinan menangani pasien akibat gigitan anjing, sehingga secara keseluruhan di Bali jumlahnya akan menjadi lebih besar.

Oleh sebab itu untuk menjadikan Bali bebas rabies 2012, sangat sulit bisa direalisasi, karena dua tahun sebelumnya harus bebas dari kasus rabies.

Meskipun demikian  untuk menjadikan Bali bebas rabies mulai adanya “lampu hijau”, karena kasus rabies dalam dua bulan pertama 2011 sudah menurun 50 persen.

Kondisi demikian diharapkan dapat ditingkatkan dengan mendapat dukungan peranserta seluruh masyarakat serta kesungguhan Pemprov Bali dalam menangani rabies secara tuntas.

Ketua PWI Bali Bagus Ngurah Rai berharap rumusan sarasehan rabies tersebut dapat menjadi masukan sebagai sumbangan pemikiran kepada pemerintah Provinsi Bali dalam mengentaskan penyakit yang membahayakan itu. ( ant )