G-20 Sepakat Perkuat Sistem Moneter Internasional

Jakarta ( Berita ) :  Negara-negara anggota G-20 menyepakati program kerja di 2011 terkait penguatan sistem moneter internasional yang mencakup langkah-langkah penanganan aliran modal yang berpotensi menimbulkan ketidakstabilan di masing-masing negara maupun secara regional atau global.

Siaran pers Bank Indonesia yang diterima di Jakarta, Senin [21/02], menyebutkan Pemerintah Indonesia dalam pertemuan di Paris, Perancis 18 – 19 Februari lalu itu diwakili oleh Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Republik Indonesia Agus D. Martowardojo.

G-20 juga menyepakati perbaikan pengelolaan likuiditas secara global untuk meningkatkan kemampuan pencegahan dan penanganan krisis baik di tingkat negara maupun regional dan global.

Dalam pertemuan itu, para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G-20 menyampaikan tekad untuk merespon tantangan yang ada secara konsisten dan terkoordinasi, mengatasi akar penyebab krisis, serta memulihkan pertumbuhan ekonomi global dan Indonesia mendukung upaya tersebut yang telah dimulai pada Washington Summit 2009 yang lalu.

Sebagai perwujudan dukungan dan tekad tersebut, G-20 menyepakati untuk mengatasi ketidakseimbangan perekonomian global melalui asesmen bersama atas serangkaian indikator yaitu utang pemerintah dan defisit fiskal, pertumbuhan simpanan swasta dan utang swasta, ketidakseimbangan eksternal yang terdiri dari neraca perdagangan dan aliran bersih pendapatan investasi dan transfer, dengan memperhatikan kebijakan nilai tukar, fiskal, moneter dan lainnya.

Negara-negara G-20 juga membahas isu mengenai perbaikan sistem moneter internasional yang saat ini dipandang masih memiliki sejumlah kerentanan.

Untuk itu, dalam pembahasan sistem moneter internasional, Indonesia menyampaikan dukungan agar terdapat kemajuan dalam perbaikan sistem moneter internasional khususnya terkait upaya mengatasi volatilitas arus modal.

Sebagai bagian dari koordinasi kebijakan secara global untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan dan berimbang, G-20 pada tahun 2011 ini merencanakan untuk mengevaluasi kembali arah dan pencapaian dari komitmen-komitmen masing-masing negara pada Seoul Summit 2010, antara lain dengan cara sejauh mana masing-masing negara konsisten dengan panduan indikatif yang akan disepakati pada pertemuan bulan April 2011 mendatang.

Terkait kelanjutan reformasi di sektor keuangan, negara G-20 menegaskan rencana implementasi standar Basel III untuk perbankan sesuai tenggat waktu yang telah disepakati. Disamping itu, G-20 akan bekerjasama dengan institusi dan fora internasional lainnya untuk menghasilkan rekomendasi dan tindak lanjut yang konstruktif dalam menghadapi masalah gejolak harga komoditas energi dan pangan seperti melalui regulasi dan supervisi pasar derivatif komoditas tersebut.

Selain upaya untuk meningkatkan kualitas pengaturan transaksi di pasar komoditas tersebut, G-20 juga menggarisbawahi permasalahan di pasar komoditas pangan perlu ditangani dengan meningkatkan investasi di sektor pertanian. (ant )