Musibah…

BOLEH saja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menitikkan airmata. Tak ada yang salah, kalau presiden menangis di depan korban musibah gempa dan tsunami Mentawai. Tapi, apakah musibah yang seperti menjalar di sekujur tubuh ibu pertiwi dapat diatasi hanya dengan tangisan?

Kepiluan yang amat-sangat justru spontan mengumbar ke permukaan begitu musibah terjadi. Sejumlah anak tiba-tiba menjadi yatim. Banyak istri menjadi janda. Harta-benda luluh-lantak. Mereka kehilangan tempat tinggal. Kehilangan orang dikasihi. Kehilangan segalanya.

Kalaupun ada tersisa, hanya sepenggal harapan. Ya, harapan dapat segera melompatkan diri dari penderitaan yang demikian tak terperikan. Kenyataannya, musibah gempa, tsunami, banjir bandang, kapal tenggelam, pesawat jatuh, tabrakan maut, kebakaran dan lain-lain, telah membuat hidup banyak orang terjerembab dalam penderitaan yang tak alang-kepalang.

Kata orang, ada hikmah dari setiap musibah. Itu tentu saja betul. Tapi, sejumlah musibah yang terjadi di negeri ini, seharusnya bisa dijadikan “guru”. Gempa 8,9 skala richter yang disusul tsunami dahsyat di Aceh 26 Desember 2004, misalnya, yang menelan korban jiwa lebih 100.000 orang, seharusnya bisa dijadikan pelajaran.

Kenyataannya, kondisi di Aceh tempo hari terulang saat gempa disusul tsunami di Mentawai, yang terjadi 26 Oktober 2010. Peringatan dini akan terjadi tsunami pasca gempa 7,2 skala richter, tak diketahui masyarakat Mentawai. Kealpaan itu pun harus dibayar mahal. Diperkirakan, 800 orang menjadi korban.

Nah, kewaspadaan seharusnya terus ditingkatkan. Musibah bisa terjadi kapan saja, di mana saja. Tak akan mungkin ada manusia yang mampu mencegah ketetapan Allah. Manusia tak lebih dari sebutir pasir di hamparan pantai. Dialah Yang Maha Kuasa.

Karena itu, bagaimanapun tragisnya musibah yang kita hadapi, kita harus petik hikmahnya. Karena, sekarang ini, banyak orang seperti lupa diri. Ketika memegang tampuk kekuasaan atau memiliki harta berlimpah, sombongnya na’udzubillah. Dia seperti tidak sadar, ini semua hanya titipan.