Pertama di Indonesia, 200 Pengelola Perpustakaan Ponpes Dilatih

MEDAN (Berita): Untuk pertama kalinya di Indonesia, sebanyak 200 pondok pesantren  se-Sumatera Utara mendapat pelatihan tentang pengelolaan perpustakaan oleh Badan Perpustakaan  Arsip dan Dokumentasi (BPAD) Sumut di Aula Hotel Antares Medan, Jalan Sisingamangara Medan,  Rabu (13/10).

Pelatihan ini dibuka Kepala BPAD Sumut, Nurdin Pane SE MAP diwakili Sekretaris Drs  Chandra Silalahi MSi dan dihadiri Ketua Badan Silaturahim Pondok Pesantren Sumatera Utara, Drs H  Yulizar Parlagutan Lubis MPSi.

“Pelatihan pengelolaan perpustakaan kepada 200 pondok pesantren ini merupakan bukti  bahwa visi dan misi Gubsu H Syamsul Arifin SE agar rakyat tidak bodoh sudah masuk melalui pelatihan  pengelolaan perpustakaan untuk pondok pesantren,” kata Chandra Silalahi.

Dia juga menyatakan melalui buku diharapkan masyarakat akan sejahtera karena akan  memiliki pengetahuan dan keterampilan baik melalui pendidikan maupun membaca buku.

Untuk tahun depan, kata Candra sudah dianggarkan dalam APBD Provinsi Sumut untuk 10  ponpes berupa bantuan buku-buku dan mobiler. Nilainya ini mencapai Rp 55 juta per pondok pesantren.

Menurutnya jumlah tersebut sudah bisa untuk sarana minimal sebuah perpustakaan di pondok  pesantren di luar pembangunan gedung.  Pelatihan ini, katanya sebagai tindak lanjut penandatanganan MoU antara BPAD Sumut  dengan Badan Silaturahim Pondok Pesantren Sumatera Utara pada Pesta Buku 2010 yang lalu.

Ketua Badan Silaturahim Pondok Pesantren Sumatera Utara, Drs H Yulizar Parlagutan Lubis,  MPSi mengatakan, secara pribadi dan seluruh komunitas pesantren memberikan apresiasi yang tinggi,  khususnya kepada BPAD Sumut, dan secara khusus kepada Gubsu yang menunjukkan atensi dan  kepedulian mereka kepada keberadaan ponpes di Sumut.

“Sudah banyak yang dilakukan pemerintah provinsi dengan pesantren antara lain pekan  olahraga pesantren, Jambore pramuka antar pondok pesantren. Kini kembali mencatat untuk pertama  kali di Indonesia, Gubsu melalui BPAD Sumut mengadakan pelatihan kepada pondok-pondok pesantren  bagaimana mengelola perpustakaan di Ponpes,” katanya.

Secara harfiah sederhana, lanjutnya di balik kondisi ini membuka keitorisoliran pondok  pesantren terhadap pengembangan keilmuan. “Dengan adanya pelatihan ini berarti pesantren akan  terbuka untuk menerima ilmu-ilmu, dengan ada pelatihan ini pesantren punya perpustakaan, buku-buku,  akan masuk. Masuknnya buku ini menambah wawasan pesantren jadi terbuka,” katanya.
Yulizar mengatakan, komunitas pesantren juga menginginkan ada prestasi yang lebih dari  BPAD Sumut seperti mengadakan pojok kitab kuning.

“Kitab kuning merupakan buku yang dikarang ulama zaman itu, harus diselamatkan dan kita  berharap Sumut menjadi pioner pertama di seluruh Indonesia untuk pengadaan pojok Kitab Kuning,”  kata Yulizar berharap dengan adanya kitab kuning ini akan semakin banyak kalangan yang berkunjung ke  perpustakaan.

Sejumlah ponpes yang mengikuti pelatihan antara lain, Arraudatulhasanah, TPI Darul Hikmah,  Ta’di Asyakirin, Al Kausar Akbar, Darularafah Raya, Alimuklisin, Al Qomariah, Al Husnah, Saefullah, Nurul  Hakim, Zakiyun Najah, Hidayatulah, Darul Muklisin, Qismul Aly Firdau, Kwala madu, Jabal Rahmah,  Ibadurrahman, Ulumul Quran, Babussalam, Tajussalam, Az Zuhrah, As Shidiqiyah, Al Yusriyah, Al Ikhlas,  An Nadwa, Sabilul Mukminin, Darul Mursyid, Ponpes Muhammadiyah, KH Dahlan,Abu Bakar Siddik,  Baharuddin Harahap dan lainnya. (aje)