Kasus Pembunuhan Di Hotel Melala Inn Digelar

BELAWAN (Berita): Setelah berlalu lebih enam bulan, kasus dugaan perampokan dan pembunuhan di Hotel Melala Inn Sunggal mulai digelar di PN Lubuk Pakam yang bersidang di Kec. Medan Labuhan, Selasa (13/07).

Dalam dakwaannya jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Cabang Labuhan Deli Katerina, SH mengatakan, peristiwa pembunuhan Nurhayati Sumarni, 25, warga Rantau Panjang Perlak Langsa, terjadi sekitar bulan Desember 2009 di Hotel Melala Inn Sunggal Jalan Medan- Binjai.

Hasil rekontruksi dan pemeriksaan yang dimuat dalam BAP Polsek Sunggal diketahui sebelum kejadian korban dengan mengendarai sepeda motor Yamaha jenis Mio warna hijau berplat BL, membonceng terdakwa Mus alias Ban alias IK, warga Rantau Panjang Perlak Langsa, dari supermarket Binjai ke Hotel Melala Inn untuk menginap.

Setelah seharian berada di dalam kamar hotel, dua insan yang kenalan baru satu bulan melalui HP itu ke luar dari hotel untuk membeli durian dan minum jamu, lalu kembali lagi ke hotel. Entah apa sebabnya, korban sakit perut dan terdakwa ke luar lagi untuk membeli obat.

Tidak lama kemudian, terdakwa kembali dan melihat korban telah lemas dan tidak bernyawa. Terdakwa panik, jenazah korban ditariknya dari atas untuk disembunyikan di bawah tempat tidur. Setelah mengambil seluruh harta berharga milik korban, terdakwa kabur dari hotel dengan mengendarai sepeda motor Mio milik korban.

Hakim tunggal Oloan Silalahi, SH yang memimpin sidang itu mengundurkan persidangan seminggu guna mendengar keterangan saksi. Terdakwa didakwa melanggar pasal 339 jo 338 jo 365 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun.

Dakwaan Lemah

Ditemui usai persidangan, keluarga dan penasehat hukum korban Robbi Shahari, SH mengaku kesal dan menilai isi dakwaan JPU merupakan sebuah rangkaian cerita yang dikarang-karang. “Dakwaan JPU lemah mengakibatkan terdakwa tidak terjerat pasal pembunuhan berencana,” kata Robbi.

Menurut Robbi apa yang dialami guru sekolah MIN Padang Panjang itu telah direncanakan karena korban tidak pernah bertemu dengan terdakwa sebelumnya dan tidak tahu lokasi kejadian. “Yang merencanakan pertemuan mereka adalah terdakwa dan itu diakui. Namun kenapa pasal 340 KUHP tidak dimasukkan JPU dalam dakwaan,” ujar Robbi.

Peristiwa yang melanda anak bungsu dari pasangan Bambang Sujatmiko dan Mariani, A Ma itu nyaris tidak terungkap sebelum terdakwa ditangkap di desanya, 14 hari kemudian. “Aku sangat berharap hati nurani jaksa dan hakim bisa tahu dengan apa yang kurasakan. Sehingga mereka bisa menghukum terdakwa dengan hukuman mati,” kata Bambang Sujatmiko, orang tua korban.

Menanggapi komentar keluarga dan penasehat hukum korban, JPU Katerina, SH mengaku pihaknya telah berusaha maksimal, namun belum menemukan bukti yang menguatkan kalau pembunuhan itu direncanakan. ”Itu pengakuan terdakwa dan berdasarkan bukti serta visum yang ada. Namun untuk memastikannya kita tunggu pada persidangan selanjutnya dan rencana tuntutan dari Kejatisu,” ucap Katerina. (rus)