Jangan Cepas Puas Diri
Wapres Boediono mengimbau agar masyarakat memberikan dukungan penuh kepada Polri dalam menuntaskan tugas mulia polisi dalam mengamankan negara dari aksi terorisme. Kapolri Jenderal Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri sudah melapor kepada Wakil Presiden Boediono dan memastikan salah satu dari tiga teroris yang tewas pada penyergapan di Pamulang, Tangerang, Banten, adalah Dulmatin, gembong teroris yang dicari-cari aparat keamanan RI, Filipina, Australia, dan Amerika Serikat. Harganya 10 juta dolar.
Catatan kita, sudah belasan gembong teroris yang berhasil dilumpuhkan, umumnya tewas. Hal ini memang disayangkan tapi karena mereka berbahaya memiliki senjata maka langkah Densus-88 dapat diterima akal sehat. Dan satu demi satu gembong teroris ‘’kelas kakap’’ yang dicari-cari aparat keamanan kita dan negara-negara lain berhasil dilumpuhkan.
Sebelumnya dr Azhari dan Noordin M. Top sudah berhasil ditumpas dalam penggerekan di tempat persembunyiannya. Sedangkan Amrozi, Imam Samudda, Mukhlas sudah menjalani hukuman mati. Sejumlah teroris lainnya di bawah mereka juga sudah berhasil ditumpas dan ditangkap hidup-hidup kini menjalani proses hukum.
Dulmatin dengan nama asli Joko Pitono adalah gembong teroris yang kemampuannya merakit bom di atas dr Azhari maupun Noodin M. Top, wajar saja kalau Amerika Serikat menghargai 10 juta dolar Amerika Serikat. Ahli elektro ini menjadi arsitek dalam pembuatan bom dan pengeboman di berbgai daerah, termasuk di Bali yang menewaskan 200an orang (mayoritas orang asing) tahun 2002.
Dulmatin termasuk siswa yang cerdas meskipun mempunyai sifat keras di sekolah (Yogyakarta), namun ia kalah saat mengikuti UMPTN. Sejak itu ia merantau ke Malaysia, sempat bekerja di perusahaan elektronik dan mengajar di sejumlah pendidikan Islam di negeri jiran itu. Tahun 1995 ia pulang kampong menikah dengan gadis pujaan hatinya mahasiswa fakiltas kedokteran Undip.
Saat berada di Malaysia pula ia bertemu dengan dr Azhari, dan keduanya setuju berangkat ke kamp Al-Qaeda di Afghanistan. Di satu ia latihan mengasah kemampuan tempurnya sebagai teroris. Seterusnya masuk faksi Jamaah Islamiyah bersama Ali Ghufron dan Hambali. Saat peledakan bom JW Marriott pertama 2003 polisi mencari-cari Dulmatin, namun jejaknya tak terendus.
Dulmatin pun semakin ganas membantu kelompok Abu Sayap di Filipina Selatan. Dalam sejumlah kontak tembak Dulmatin dikabarkan tewas oleh pemerintah Filipina, ternyata ia berhasil meloloskan diri. Sampai pada peristiwa bom Marriott kedua tahun 2009 lalu nama Dulmatin menjadi target pencarian aparat keamanan kita dan CIA, namun hanya Ibrohim yang berhasil dilacak dan ditemukan tewas dalam satu penggerebekan.
Saat ini para gembong teroris sudah berhasil dilumpuhkan, mungkin hanya tinggal sejumlah kecil saja yang masih bertahan dan berusaha membangkitkan kembali jaringan terorisme di Indonesia. Sebab,Umar Patek yang juga anak buah dr Azhari dan Dulmatin hingga kini masih belum diketahui keberadaannya, apakah masih hidup atau sudah tewas.
Oleh karena itu kita harapkan, Polri dan jajarannya, khususnya Densus-88, jangan cepat berpuas diri. Sebab, kecil kemungkinan jaringan terorisme akan habis dengan tewasnya Dulmatin. Mungkin saja kelompok Umar Patek dkk masih tiarap, tapi bukan berarti mereka bubar. Strategi berikutnya harus dikembangkan sehingga jaringan sel terorisme berhasil dikubur secara total.
Kalau jajaran Polri dan khususnya Densus-88 berpuas diri maka jaringan berbahaya ini akan berkembang dan bangkit kembali, membangun organisasinya yang berpusat di Filipina, Indonesia. =