Paspor Keempat Australia Terkait Pembunuhan Tokoh Hamas Ditemukan

Sydney ( Berita ) :  Menteri Luar Negeri Stephen Smith pada Selasa menyatakan pemegang paspor keempat Australia dalam pembunuhan pemimpin Hamas di Dubai ditemukan, sesudah Interpol mengeluarkan kesiagaan bagi seorang tersangka, yang memakai nama laki-laki itu.

Seregu Kepolisian Negara Australia dan pejabat Kantor Paspor Australia sudah di Israel untuk menyelidiki penggunaan tiga paspor palsu Australia dalam kematian Mahmud Mabhuh pada Januari itu.

Smith menyatakan paspor keempat Australia, dengan nama Joshua Krycer, juga dihubungkan dengan dugaan pembunuhan tersebut.

“Penyelidikan oleh Polisi Negara Australia dan Kantor Paspor Australia menunjukkan lagi paspor di Dubai dengan licik dipalsukan, seperti perkara tiga paspor sebelumnya,” kata Smith.

“Tidak ada keterangan menunjukkan bahwa Krycer, seperti ketiga pemegang lain paspor Australia, terlibat, selain daripada sebagai korban penipuan jati diri,” katanya dalam pernyataan. Polisi menyatakan dia dibius lalu dicekik.

Badan sandi Australia ASIO juga dilibatkan dalam penyelidikan itu, kata wanita juru bicara Departemen Luar Negeri dan Perdagangan. Namun, ia tidak menjelaskan apakah petugas ASIO itu ikut dikirim ke Israel.

Australia mengutuk penyalahgunaan paspornya dan Menteri Luar Negeri Stephen Smith memanggil Duta Besar Israel Yuval Rotem pada akhir Februari untuk membahas masalah menyeramkan berkaitan dengan perkara tersebut.

“Tidak ada keterangan mengisaratkan bahwa ketiga pemegang paspor Australia itu terlibat dalam perkara tersebut, selain sebagai korban penyalahgunaan paspor atau jati diri mereka,” katanya menambahkan.

Australia pada ahir Februari meningkatkan tekanan terhadap Israel berkaitan dengan paspor palsu, yang terlibat dalam pembunuhan Mabhuh, dan menyatakan belum menerima penjelasan memuaskan dari negara Yahudi itu.

Perdana Menteri Kevin Rudd menyatakan pemerintah kiri-tengahnya betul-betul bersikap keras untuk mempertahankan keutuhan tata paspornya dan dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa Mossad dicurigai melakukan pembunuhan itu setelah mencuri jati diri warga Australia tersebut.

“Itulah mengapa menteri luar negeri memanggil duta besar Israel dan meminta penjelasan darinya,” kata Rudd kepada wartawan.

“Sejauh ini, kami tidak puas dengan penjelasan itu,” katanya menambahkan.

Canberra memanggil Duta Besar Israel Yuval Rotem dan memperingatkan bahwa hubungan persahabatan mereka dalam bahaya jika Israel didapati menaja atau membiarkan pemalsuan tiga paspor Australia itu untuk membunuh panglima HAMAS tersebut.

Duta besar Israel di empat negara Eropa dipanggil untuk membicarakan hal itu dan Eropa Bersatu juga menyatakan kemarahan atas penggunaan paspor palsu setelah sebelumnya tercatat 11 orang dibebaskan.

Kepolisian Dubai mencurigai kuat Mossad, badan rahasia Israel, melakukan pembunuhan itu dan menyeru penahanan atas kepala badan rahasia negara Yahudi tersebut. ( ant )

Comments are closed.