Presiden SBY : Kofi Annan Sosok Yang Penting Bagi Dunia

TERIMA KOFI ANAN : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan kehormatan mantan Sekjen PBB Kofi Anan di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (4/3). Kofi Anan berkunjung untuk memberikan “Presidential Lecture” berjudul “Challenges for Leaders in a Multipolar World” yang dihadiri oleh Presiden SBY, Wapres Boediono, para Menteri KIB II, dan anggota Wantimpres. ( FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/mes/10. )

Jakarta ( Berita ) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai Kofi Annan, mantan Sekretaris Jenderal PBB, merupakan sosok yang penting bagi dunia karena telah memberi sumbangan besar selama 10  tahun menjabat posisi penting di organisasi internasional itu.

Hal tersebut disampaikan Presiden saat menerima kedatangan Kofi Annan yang menyampaikan paparan dan pandangannya dalam Presidential Lecturer di Istana Negara Jakarta, Kamis [04/03] pagi.

“Ia memberikan perhatian sungguh pada hak azasi manusia, MDGS, climate change(perubahan iklim, red) , resolusi konflik, kontra terorisme dan atensi dalam misi perdamaian dunia. Karena itu tepat bila beliau mendapat penghargaan nobel perdamaian,” kata Presiden.

Kepala Negara menjelaskan peran Kofi Annan yang merupakan Sekjen PBB ke-7 sejak PBB berdiri pada 1945 juga berperan penting bagi Indonesia dalam sejumlah kesempatan termasuk saat penanganan bencana tsunami 2004 lalu.

“Saya teringat saat beliau menjabat sekjen PBB hadir memenuhi undangan saya, 10 hari setelah tsunami dan menyelenggarakan tsunami summit datang dari New York dan ikut membantu indonesia,hadir juga saat jadi tuan rumah KAA kedua, pada mei 2005. Hubungan (kita-red) dengan Bapak Kofi Annan berlangsung sejak lama,” kata Presiden.

Dalam sesi yang dihadiri oleh Wapres Boediono,seluruh menteri kabinet Indonesia Bersatu, pejabat negara tersebut, Kepala Negara juga menyampaikan kepada Kofi Annan bahwa saat ini Indonesia tak hanya melakukan reformasi namun juga telah melakukan tranformasi ke arah yang lebih baik.

“Indonesia berada dalam proses tranformasi, bukan hanya reformasi, setelah krisis. Agenda nasional kami melanjutkan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan, kurangi kemiskinan, menambah lapangan pekerjaan dan mengangkat derajat hidup. kami ingin demokrasi makin matang,” tegas Presiden.

Presiden menambahkan,”Indonesia sekarang ini akan terus jaga dan meningkatkan peran internasional antara lain aktif dalam kerja sama kawasan, aktif peace keeping(pasukan pemelihara perdamaian PBB,  red)  bagian dalam global ekonomik. Kami gigih untuk bersama negara lain menangani perubahan iklim dan pemanasan global. Dan juga kerja sama dengan dunia perangi ancaman terorisme.”

Pemimpin Berkarakter Diperlukan Saat Ini

Mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan menyatakan perlunya sosok pemimpin yang memiliki karakter kuat untuk menghadapi sejumlah tantangan global saat ini, baik masalah ekonomi maupun perubahan lingkungan.

“Tidak ada keraguan contoh kepemimpinan sangat dibutuhkan. Itu  diperlukan dalam menghadapi berbagai permasalahan seperti konflik, bencana alam, perubahan iklim, dan terorisme,” kata Annan dalam “Presidential Lecturer” di Istana Negara Jakarta, Kamis [04/03] siang.

Annan yang menyampaikan pemikiran tentang tantangan kepemimpinan dalam dunia yang multipolar menyatakan, saat ini kemampuan kepemimpinan sangat diuji untuk menyelesaikan masalah-masalah yang semakin kompleks. “Kita harus adaptasi dengan cepat tantangan yang ada. Contoh  kepemimpinan saat ini adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara lintas negara. Ini membutuhkan peningkatan kapabilitas nasional, dan pemimpin yang dimiliki dapat dari proses demokrasi yang baik dan adanya penegakan aturan hukum yang baik,” katanya.

Dalam pemaparan selama 45 menit di hadapan sejumlah undangan yang hadir di Istana Negara tersebut, Kofi Annan mengambil contoh penanganan krisis ekonomi global dan perubahan iklim. “Saya percaya perubahan iklim merupakan tantangan besar dan diperlukan pemimpin yang memiliki kualitas. Pemimpin harus dapat menciptakan sebuah kebijakan yang tepat dan radikal,” katanya.

Beberapa kali, pria asal Ghana yang menjadi Sekjen PBB ke-7

menggantikan Butros-Butros Gali, dalam kesempatan itu menyampaikan pujian kepada Indonesia yang mampu menghadapi krisis ekonomi global dan mencegah dampak negatifnya bagi dalam negeri serta aktif dalam pembicaraan perubahan iklim.

“Saya beri penghargaan atas inisiatif Indonesia, perubahan iklim harus menjadi salah satu keputusan puncak politik di sebuah negara saat ini,” katanya.

Ia menambahkan, kirisis ekonomi global tidak bisa diatasi hanya oleh satu negara, semua pihak harus bergerak dari pola pikir lama bahwa keamanan nasional semata bisa selesaikan masalah jadi harus ada aksi koletif untuk atasi tantangan global.

“Indonesia telah menunjukkan komitmen untuk mendorong hal tersebut, menunjukkan langkah yang harus diambil dalam kondisi multipolar ini di mana perubahan bisa terjadi kapan saja,” katanya.

Ia menyatakan, saatnya kini mengubah sudut pandangan yaitu mendorong antara aspek keamanan dalam negeri dan pembangunan harus bersamaan namun kesejahteraan tidak akan hadir tanpa adanya penghormatan pada hukum.

Anggota tetap DK PBB

Sementara itu, Presiden Yudhoyono menanggapi pandangan Kofi Annan mengatakan memang tidak mudah mencapai kata sepakat dalam berbagai isu internasional terlebih tentang langkah pencegahan pemanasan global dan perubahan iklim.

“Saya rasakan dalam lima tahun ini saya punya kesimpulan kecil, katakanlah sulitnya capai  ‘new agreement’ dalam penanganan ‘climate change’, seperti di Copenhagen, New York, Apec, Asem dan forum lain. ini cukup fundamental karena belum ada keseimbangan antara ‘national intrest’ dengan ‘global intrest’,” kata Presiden.

Sementara tentang restrukturisasi kelembagaan PBB, Presiden menilai bila penilaian kriteria negara anggota tetap Dewan Keamanan PBBB adalah negara yang mewakili berbagai unsur maka Indonesia diharapkan bisa memenuhinya.

“Bila saya boleh menambahkan, Indonesia negara demokrasi ketiga

terbesar, berpenduduk keempat terbesar di dunia, terbesar di Asia Tenggara, dan ada tiga akar peradaban yaitu Islam, Barat dan Timur. Barangkali bila suatu saat ada reformasi yang lebih merepresentasikan masyarakat dunia, harapan kami Indonesia patut dipertimbangkan,” kata Presiden. Hadir dalam acara tersebut Wakil Presiden Boediono, sejumlah menteri dan sejumlah pejabat negara.

Comments are closed.