Harga Karet Capai 3,25 Dolar AS/Kg
Medan ( Berita ) : Harga ekspor karet Indonesia naik lagi mencapai 3,25 dolar AS per kilogram (FOB) untuk pengapalan Maret 2010 dan itu membuat harga bahan olah karet (bokar) di pabrik Sumut ikut bergerak naik menjadi Rp24.000 – Rp25.000 per kg.
“Harga ekspor karet SIR 20 sebesar 3,25 dolar AS per tanggal 24 Februari itu naik enam poin dari harga sebelumnya. Diperkirakan harga terus menguat,” kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, di Medan, Kamis [25/02].
Tren menguatnya harga itu diperkirakan melihat banyaknya permintaan di tengah masih tetap ketatnya pasokan dari negara produsen Indonesia, Malaysia dan Thailand. Meski ada fluktuasi harga nantinya, diperkirakan harga ekspor tetap di atas tiga dolar AS per kilogram.
Permintaan yang menguat itu sendiri dipicu semakin membaiknya kinerja industri otomotif menyusul mulai pulihnya perekonomian setelah dilanda krisis global.
Sementara pasokan karet yang ketat akibat dipicu cuaca yang kurang mendukung. “Dengan harga yang menguat terus, Gapkindo Sumut semakin optimistis volume dan nilai ekspor karet alam nasional maupun Sumut pulih kembali setelah tahun 2009 anjlok,” katanya.
Tahun 2009, volume ekspor karet Sumut anjlok 10,47 persen atau tinggal 435.703 ton. “Tetapi meski volume ekspor tren menguat lagi tahun ini, namun diperkirakan tidak sampai 500 ribuan ton seperti di era tahun 1990-an, karena produksi masih belum stabil setelah banyak konversi,” katanya.
Pedagang karet Sumut, M. Harahap, mengatakan, pedagang berebut membeli bokar ke petani karena banyaknya permintaan dari pabrikan. Namun pasokan di petani masih tetap ketat, apalagi cuaca tidak menentu.
Eksportir karet Sumut, Tjoe Min Fat, mengatakan, meski harga tren menguat, eksportir tetap hati-hati melakukan kontrak dagang, karena harga jual dipengaruhi banyak faktor termasuk aksi spekulan.
Sebelumnya, Kepala BPS Sumut, Alimuddin Sidabalok, mengungkapkan, ekspor karet dan barang dari karet Sumut tahun lalu anjlok cukup besar atau mencapai 38,42 persen dari tahun 2008 yang sudah sebesar 1,921 miliar dolar AS akibat krisis global. “Tahun 2009 nilai ekspor tinggal 1,183 miliar dolar AS. Penurunan devisa cenderung akibat volume ekspor yang turun menyusul berkurangnya permintaan sebagai dampak krisis global,” katanya. ( ant )