Kuliah Menggunakan Lilin

Lilin Masuk Kampus : Sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) belajar di ruang kelas dengan keremangan cahaya api lilin saat terjadi pemadaman listrik di kawasan kampus UMSU Jl. Mukhtar Basri Medan, Selasa [23/02]. Belajar pakai lilin ini juga sebagai bentuk protes atas pemadaman listrik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di Kota Medan dan sekitarnya.( Waspada / Surya Efendi )

MEDAN (Berita): Pemadaman listrik yang terjadi di Kota Medan semakin berimbas pada proses belajar mengajar. Bahkan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), kemarin siang [23/02] rela menggunakan lilin untuk melanjutkan perkuliahan. Sebab genset yang standby setiap saat diyakini akan menguras kantong rupiah kantong jika tiap kali mati lampu harus menggunakan genset.

Peristiwa yang terjadi sekira pukul 10.30 WIB tersebut di Kampus Jalan Mochtar Basri, mahasiswa terlihat gelisah meski dalam ruangan telah ada sebatang lilin tiap kursi. Apalagi AC yang tidak bisa dihidupkan membuat suasana semakin gerah. Seorang mahasiswi Poppy Andriani, yang masih duduk di semester II fakultas hukum mengatakan belajarnya sangat terganggu dan berharap PLN bisa memahami kesulitan mereka. “Sama sekali enggak enak belajar seperti ini, PLN harusnya mau mengerti,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum UMSU Farid Wajdi mengungkapkan secara ekonomi jika menggunakan genset, maka kampus harus keluar Rp900 ribu per empat jam hanya untuk solar saja. “Secara enggak langsungproses belajar mengajartidak bisa berfungsi dengan baik dan terganggu. Ini sama dengan kerugian di investasi pendidikan,” ungkapnya.

Apalagi saat ini, katanya pembelajaran dengan metode teknologi semakin digalakkan, namun jika listrik tidak mendukung sama saja tidak mendukung hal tersebut. “Di sini bebas Wi Fi, dan bagaimana bisa berfungsi jika seperti ini, lilin memang membantu genset juga tapi kalau setiap hari kan sangat mengganggu,” paparnya.

Terlebih, saat ini, dia menerima laporan bahwa hubungan dosen dan mahasiswa retak, sebab keduanya merasa tidak saling mengerti. “Dosen bilang mahasiswa bandel semakin malas, dan mahasiswa bilang dosen enggak mau mengerti kalau mati listrik bagaimana tugas mau dikerjakan, jadi ada imbasnya ke situ,” ujarnya.

Bahkan untuk yang kuliah malam, kata Farid sempat ada yang harus dipulangkan mahasiswanya saat padam listrik.  “PLN harus bisa membuat skala prioritaslah, untuk layanan umum  seperti pendidikan, rumah sakit harus ada pengecualian,” cetusnya.(aje)

Comments are closed.