Sudah Semestinya UAN Jadi Seleksi Masuk PTN
Wacana Ujian Akhir Nasional (UAN) bisa diintegrasikan dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sudah bergulir sejak beberapa tahun lalu. Namun yang mendukung belum banyak, apalagi dari kalangan PTN, di mana sepertinya mereka sangat keberatan dengan alasan yang cenderung dicari-cari.
Malah kini yang menonjol pemaksaan UAN meskipun Mahkamah Agung sudah mengeluarkan putusan agar UAN dihentikan karena pemerintah belum mampu meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan di tiap-tiap daerah, khususnya di luar kota atau kawasan terpencil.
Sebab, kalau yang namanya nasional, semua wilayah harus sudah lengkap sarananya. Tidak boleh di satu daerah lengkap, sementara di daerah lain serba memprihatinkan. Bahkan untuk pengadaan guru saja kurang. Sebab, para guru ramai-ramai minta pindah tugas ke kota.
Alasannya sejumlah tokoh pendidikan di PTN yang sudah terbiasa mengadakan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) atau SNMPTN menolak kalau UAN dijadikan tiket masuk PTN karena ditakutkan nantinya mahasiswa yang diterima lewat UAN tidak berkualitas. Tidak sesuai dengan minat dan bakatnya, sepertinya tidak tepat. Apalagi, dengan SPMB atau SNMPTN pun mahasiswa yang lulus tetap saja banyak tidak berkualitas.
Hal itu dapat dilihat dari kemampuan mahasiswanya dalam menyerap pelajaran dalam bangku kuliah, dan lebih parah lagi kalau melihat ‘’out put’’ lulusan PTN itu sendiri yang akhirnya hanya menambah panjang daftar pengangguran karena tidak mampu bersaing. Yang lulus PTN terus bertambah banyak setiap tahunnya, sementara yang bisa menembus lapangan kerja sebagai profesional hanya sedikit. Apalagi di kalangan PTS, lebih parah lagi sehingga jumlah pengangguran terdidik (sarjana) jumlahnya semakin membludak saja dewasa ini.
Oleh karena itu, dengan melakukan modifikasi dalam sistem UAN termasuk memasukkan soal-soal yang dapat mengetahui minat dan bakat calon mahasiswa yang tengah mengikuti UN kekhawatiran secara intelektual tersebut tidak semestinya menjadi penghalang menjadikan UAN sekaligus ujian masuk PTN di seluruh Indonesia. Apalagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi sudah memungkinkan hal itu dilakukan. Jadi, mereka yang menolak patut diragukan keilmuannya.
Hemat kita, alasan penolakan yang diperlihatkan sejumlah PTN untuk menjadikan hasil UAN sebagai pintu masuk tanpa testing bisa disebabkan dua hal. Pertama, PTN-PTN takut kehilangan ‘’bancaan’’ karena dari ajang SPMB dan SNMPTN miliaran rupiah uang dari calon mahasiswa dapat dikeruk sehingga seleksi selama ini identik dengan lahan basah mereka.
Alasan kedua, kredibilitas UAN masih di bawah standar sehingga hasilnya kurang dipercaya. Alasan ini tentunya menjadi ‘’PR’’ buat pakar-pakar pendidikan kita di Depdiknas dan PTN, namun bukan berarti harus menolaknya.
Kalau memang diragukan kualitas UAN maka upaya pembenahannya perlu dilakukan secara bersama-sama sehingga dalam 1-2 tahun mendatang keraguan itu menjadi hilang. UAN baru bergengsi bila hasilnya dapat langsung masuk PTN. Bukan seperti sekarang, hanya menghamburkan uang semata.
Kita berharap Mendiknas yang baru lebih agresif dalam mengupayakan terobosan baru yang positif ini sehingga untuk bisa mendapat tiket PTN para lulusan SMU dan sederajat cukup melihat nilai mata ujiannya tanpa perlu melalui tes lagi. Lebih efisien, hemat waktu, dan hemat biaya.=