BUMN Perkebunan Tingkatkan Setoran Ke Negara

Jakarta ( Berita )  :  Kementerian BUMN mematok setoran dividen BUMN Perkebunan pada tahun buku 2010 sebesar Rp655,78 miliar, meningkat 59,41 persen dibanding proyeksi setoran dividen tahun buku 2009 sebesar Rp411,37 miliar.

“Setoran dividen 2010 sesuai Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) BUMN Perkebunan ditargetkan meningkat 59,41 persen,” kata Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Agro Industri Agus Pakpahan, di sela Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, di Jakarta, Selasa [09/02].

Pada 2005 setoran dividen BUMN Perkebunan, yaitu PT Perkebunan Nusantara I-XIV dan PT Rajawali Nusantara Indonesia, tercatat Rp288,79 miliar, 2006 Rp300,76 miliar, 2007 Rp548,08 miliar, 2008 Rp794,21 miliar, 2009 diproyeksikan Rp411,37 miliar, dan meningkat kembali menjadi Rp655,78 miliar pada 2010.

Pada tahun 2010, Kementerian BUMN menargetkan laba bersih perusahaan kebun plat merah ini sebesar Rp2,2 triliun, tumbuh sekitar 22 persen dari prognos laba 2009 sebesar Rp1,8 triliun.

Terkait dividen BUMN Kehutanan, Agus menuturkan, mulai tahun 2007-2009 yaitu Perum Perhutani dan PT Inhutani I-IV tidak dikenai dividen meskipun perusahaan membukukan keuntungan. “Dana yang seharusnya disetorkan kepada pemerintah akan digunakan untuk keperluan rebosiasi lahan kosong perusahaan,” katanya. Keputuan tidak menyetor dividen terutang dalam surat Menteri Negara BUMN No. S-454A/MBU/2009 tanggal 30 Juni 2009.

Targetkan 2010 Laba Rp 2,2 Triliun

Kementerian BUMN menargetkan pada 2010 laba seluruh BUMN Perkebunan sebesar Rp2,2 triliun, meningkat dari proyeksi laba bersih tahun 2009 yang dipatok Rp1,8 triliun.

Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Agro Industri, Agus Pakpahan saat Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR di Gedung MPR/DPR-RI, Jakarta, Selasa mengatakan, pihaknya menargetkan mulai tahun 2010 tidak satupun BUMN Perkebunan yaitu PT Perkebunan Nusantara I-XIV dan PT Rajawali Nusantara Indonesia yang menderita rugi.

“Tahun lalu (2009), tercatat satu  perusahaan rugi yaitu PTPN XIV. Selebihnya  untung, namun kinerja keuangannya harus semakin ditingkatkan,”   Menurutnya, pada tahun 2005, tiga perusahaan yaitu PTPN I, PTPN II, dan PTPN XIV membukukan rugi. Namun mulai tahun 2007 PTPN I dan II tidak lagi negatif.

Agus menuturkan, untuk meningkatkan kinerja seluruh BUMN Perkebunan tersebut  Kementerian BUMN akan menempuh berbagai kebijakan seperti sinergi antara sesama BUMN. “Dengan begitu terjadi peningkatan produksi dan efisiensi,” ujarnya.

Sinergi misalnya dapat dilakukan antara PTPN I, PTPN III dan PTPN IV mengembangkan karet dan sawit, karena jenis komoditi perkebunan ke tiga perusahaan itu sama.”Dengan begitu tingkat leverage (kemampuan pembiayaan) perusahaan bisa meningkat,” katanya.

Sinergi juga dilakukan pada PTPN XIV dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dalam merevelitalisasi pabrik gula. “Sinergi ini bisa mengoptimalisasi aset yang sudah ada. Aset BUMN perkebunan cukup besar, sayang kalau tidak dioptimalkan,” tambahnya. ( ant )

Comments are closed.