Kasus Perdagangan Wanita Akibat Kemiskinan

Medan ( Berita ) :  Meningkatnya kasus kejahatan  perdagangan wanita yang terjadi dewasa ini di Indonesia, bisa saja  disebabkan faktor kemiskinan yang dialami oleh masyarakat dan kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya.

“Kejahatan perdagangan kaum wanita itu masih terus berlanjut dan tidak pernah berhenti, sehingga membuat masyarakat menjadi resah,” kata Sosiolog Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Dr Badaruddin, MA, di Medan, Rabu [03/02], diminta komentarnya mengenai kasus kejahatan perdagangan wanita tersebut. Menurut dia, kasus kejahatan itu diharapkan agar secepatnya dapat diantisipasi oleh pihak berwajib, sehingga tidak menelan korban yang lebih  banyak lagi.

Kejahatan  yang terjadi di masyarakat itu , akhir -akhir ini semakin berkembang dan diduga memiliki  jaringan atau sindikat, sehingga mereka dengan mudah dapat menjaring mangsanya.

Dalam melaksanakan aksinya itu,  sindikat perdagangan wanita itu, menjanjikan  kepada korbannya akan diberikan pekerjaaan di hotel mewah, restoran, dan tempat-tempat lainnya.

Namun, kenyatannya, wanita yang sudah masuk perangkap itu, mereka jual kepada orang lain. Seterusnya, wanita malang itu, dijadikan sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Ia mengatakan,  perbuatan tidak terpuji dan melanggar hukum ini, sudah sering terjadi dan bukan hanya di ibukota Jakarta dan daerah lainnya. Bahkan belum lama ini,  dua orang  wanita masih kecil di Belawan, Medan juga diperjualbelikan kepada sindikat dan akhirnya anak  tersebut dibawa ke sebuah  hotel untuk melayani laki-laki. “Kasus perdagangan wanita itu  sering dialami dari keluarga yang tidak mampu dan tergolong miskin, serta kehidupan mereka susah,” kata Badaruddin.

Lebih jauh ia mengatakan, tindak kejahatan yang sengaja  mengeksploitasi wanita dan anak-anak itu sudah berlangsung cukup lama, bahkan kegiatan ilegal itu diduga juga melibatakan jaringan internasional.

Sehingga misi para pelaku kejahatan itu cukup aman, dan sulit untuk dideteksi petugas kepolisian.”Sindikat perdagangan wanita itu juga banyak tersebar di berbagai negara misalnya, Malaysia, Indonesia, Thailand dan beberapa negara lainnya di Asia Tenggara ini,” kata Badaruddin juga Gurubesar FISIP USU.

Data Bareskrim Polri menunjukkan, tahun 2005 ada 71 kasus perdagangan orang dengan korban 125 orang dewasa dan 18 anak.Pada 2006,ada 84 kasus dengan korban 496 orang dewasa dan 129 anak, serta pada 2007 ada 123 kasus dengan korban 210 orang dewasa dan 71 anak. Sementara pada 2008, hingga Maret terdapat 53 kasus dengan korban delapan orang dewasa dan 22 anak. ( ant )