Pahlawan Daerah Asal Sumut Kurang Dikenal

Medan ( Berita ) :  Banyak pahlawan daerah asal Sumut yang kurang dikenal dalam pembelajaran sejarah di Indonesia, terutama oleh generasi muda, padahal tokoh-tokoh ini memiliki kontribusi yang sangat besar pada perjuangan bangsa dan negara.

Sejarawan Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari, di Medan, Selasa [10/11], mengatakan, hingga kini terdapat tujuh pahlawan nasional dari Sumatera Utara yakni Sisingamangaraja XII, Adam Malik, Amir Hamzah, AH. Nasution, Kiras Bangun, FL. Tobing, Muhammad Hasan dan satu pahlawan revolusi yaitu DI. Panjaitan.

Mereka yang disebut sebagai pahlawan nasional dan revolusi ini dinilai memiliki kontribusi yang sangat besar dalam memperjuangkan, mengisi dan mempertahankan Indonesia, sehingga nama mereka dicatat dalam pelajaran Sejarah Indonesia dan wajib diketahui oleh pelajar.

Namun demikian, menurut Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu sosoal (Pussis) Unimed ini, beberapa nama yang juga layak dikenal sebagai pahlawan dari Sumatera Utara, tetapi kurang dikenal dalam Sejarah Nasional Indonesia adalah seperti Datuk Sunggal (pemimpin Perang Sunggal), Bedjo (pemimpin Pertempuran Medan Area), Raja Sang Na Ulauh Damanik (tokoh dari Siantar yang menolak kolonial di Siantar).

Kemudian Raja Rondahaim Saragih (Tokoh dari Raya yang menolak kolonial), Sultan Mahmud Perkasa Alamsjah (tokoh pembangun kota Medan), Parada Harahap (tokoh pers Sumatera Utara), Adinegoro (Tokoh pers Sumatera Utara), Williem Iskandar (tokoh pendidikan), Abdoellah Loebis (tokoh pendidikan) dan Raja Orahili dari Nias.  ”Mereka kurang dikenal karena nama-nama mereka tidak pernah masuk dalam  kurikulum sejarah nasional,” katanya.

Untuk itu, kata dia, sudah seharusnya kurikulum pembelajaran sejarah lokal yang memuat materi-materi lokal mesti diperkenalkan kepada pelajar sehingga pelajar itu dapat mengetahui lebih luas tentang pejuang, tokoh dan pahlawan daerahnya.

Hal ini penting terutama untuk menghilangkan pelajar yang tidak mengenal pahlawan daerahnya, demikian pula untuk mencari simpul-simpul perjuangan antara nasional dan daerah, maupun daerah dengan daerah.

Nantinya dapat diketahui bahwa masing-masing daerah memiliki perjuangan yang sama untuk membentuk negara Indonesia.  Apabila pelajar hanya dicekcoki dengan kurikulum yang disebut dengan kurikulum  nasional, maka pelajar di daerah tidak akan menemukan bahwa daerahnya juga memiliki peran yang sangat nyata dalam membangun negara Indonesia.  ( ant )

Comments are closed.