Membangun Daya Saing Generasi Muda

Membangun daya saing generasi muda dalam kompetisi global tidak terlepas dari peran serta Pemerintah, Lembaga Kepemudaan dan Organisasi Kepemudaan (KNPI) ataupun Organisasi Masyarakat lainnya.

Sebagai pewaris tongkat estapet pemuda ataupun generasi perlu diperhatikan dan dibina, tolak ukur keberhasilan suatu Negara ataupun lembaga adalah keberhasilan generasi muda dimasa yang akan datang, karena mempertahankan keberhasilan biasanya lebih sulit dari pada merebut keberhasilan tersebut.

Generasi muda merupakan penerus tongkat estapet kepemimpinan, perjuangan, sementara tingkat kompetesi semakin tinggi diakibatkan derasnya arus perputaran modal jasa keseluruh pelosok dunia yang mempengaruhi integritas nasional, kesemuanya hanya mungkin dijalani dengan kualitas kompetensi yang berdaya saing.

Kabupaten Dairi boleh berbangga hati dipimpin oleh putera daerah pada masa sekarang, tidak seperti pendahulu harus diekspor dari luar kabupaten dan bahkan untuk pimpinan SKPD harus didatang dari luar. Pemerintah, Lembaga kepemudaan, Organisasi Pemuda menjadi motivator untuk membangun daya saing generasi melalui berbagai sector baik pendidikan, pengkaderan (ekonomi dan kepemimpinan).

Bagaimana untuk mempersiapkan generasi yang handal, mapan, mandiri, tidak gagap teknologi, mempunya etika dan mampu berkompetisi pada masa yang akan datang merupakan tugas mulia, dan sesuai dengan visi dan misi Bupati Wakil Bupati Tahun 2009 – 2014 yang menegaskan bahwa pemuda harus mampu sebagai innovator, dinamisator, informan dan mitra kerja ini merupakan kabar yang baik. Bahwa pemerintah memberikan angin kepada lembaga, organisasi kepemudaan untuk membangun generasi muda kearah yang lebih baik.

Untuk itu lembaga dan organisasi kepemudaan dituntut menciptakan program-program untuk meningkatkan daya saing generasi muda, mencermati hal tersebut sebagai pemimpin dari lembaga ataupun organisasi kepemudaan harus betul-betul membuat program yang berdaya saing, baik berupa keterampilan (life skill), pengkaderan, dan pembinaan kearah yang betul dan benar yang sesuai adat, budaya, peraturan yang berlaku dan Undang-undang Dasar 1945.

A  Latar Belakang

Postur generasi muda di era globalisasi sungguh lembek dan fatigue. Ibarat makhluk yang kurang asupan gizi, tampil kerdil dan rentan. Terkesan inferior dan tampak terkendala oleh ketidak berdayaan total. Realitas Indonesia, Kabupaten Dairi khususnya identik dengan korupsi kronis, disparatis sosial, dekadensi akhlak, aneka krisis domestic, income per kapita yang minim, kekerasan dan kriminalitas, disorientasi pembangunan, mismanajemen nasional, derita rakyat, kompetisi sumber daya manusia yang mandek, generasi muda rapuh.

Kabupaten Dairi dihuni 268.780 jiwa (BPS 2007) yang terdiri 75 % generasi muda yang membutuhkan pembinaan dan sentuhan tangan, ini diakibatkan ketidak berdaya mereka, baik segi materi, tingkat pendidikan dan sumber daya manusia yang kurang. Hal ini perlu uluran tangan dan sentuhan guna mempersiapkan generasi yang handal, mapan, mandiri, mempunyai budi pekerti dan etika serta mempunyai daya saing.

Berkaitan dengan visi, misi dan program prioritas Pemerintah Kabupaten Dairi. Bahwa pemuda (lembaga, organisasi kepemudaan ) sebagai :

1. Motivator, sebagai lembaga, organisasi kepemudaan hendaknya sebagai motivator menggerakkan generasi muda, memberikan harapan, serta memotivasi generasi muda kearah yang lebih baik.

2. Dinamisator, sebagai generasi penerus harus bersifat dinamis dan pro aktif, sehingga masyarakat dapat mengerti dan mengetahui serta menerima kebijakan pemerintah dan kondisi di era saat ini, yang terutama didalam dunia teknologi untuk mereka terapkan dikehidupannya.

3. Informan dan mitra kerja, sebagai generasi muda Kabupaten Dairi harus bangga mempunyai pemimpin yang dekat dengan masyarakat, sehingga generasi muda dituntut mengerti dan mengetahui apa kekurangan dan keluhan masyarakat, disini sudah jelas pemerintah ingin bermitra dengan generasi muda, sehingga pihak pemerintah dapat menerima keluhan dan informasi bagaimana memajukan Dairi ke depan dengan harapan informasi yang betul-betul kebutuhan prioritas untuk ditindak lanjuti oleh pemerintah.

B. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan tulisan, yakni memberikan gambaran dan masukan bagaimana kita memikirkan dan membangun daya saing generasi muda yang handal, bermartabat dan diperhitungkan ditingkat nasional dan internasional.

C. Metode Penulisan

Adapun metode penulisan yang digunakan penulis dalam pengumpulan data-data yang dipergunakan dalam mengevaluasi hipotesa didalam karya tulis ini adalah sebagai berikut:

1. Metode Kepustakaan

Yaitu, cara kerja ilmiah yang dilakukan dengan cara mengadakan pencatatan, baik dari buku, undang-undang, peraturan, internet dan bahan-bahan terkait lainnya dengan penulisan atau permasalahan.

2.   Metode Lapangan

Yaitu, suatu cara dan usaha yang dilakukan dengan jalan melakukan pencatatan terhadap kenyataan-kenyataan yang dilakukan di lapangan.

Gambaran Umum

Jumlah penduduk Kabupaten Dairi sekitar 268.780 jiwa (BPS 2007) yang didalamnya 70 % generasi muda, sesuai dengan data Dinas Tenaga kerja dan Dinas Pendidikan tahun 2007, 30% generasi muda masih menduduki bangku sekolah, 20% pemuda yang putus sekolah, 10% pemuda produktif yang menggantungkan nasibnya kepada orangtua. Selainnya pekerja dan pengusaha, hal ini merupakan tantangan berat bagi pemerintah, lembaga dan organisasi kepemudaan bagaimana cara memikirkan generasi muda dan sekaligus kekuatiran pada setiap insan, mau kemana generasi muda ini?

Sementara lembaga dan organisasi kepemudaan sekitar 45 OKP yang hampir semua OKP menggantungkan nasib dan harapannya kepada pemerintah. Persoalan ini merupakan persoalan bersama untuk kita kaji dan pecahkan bersama-sama guna mencari win-win solution sekaligus merupakan persoalan nasional.

A. Tantangan yang dihadapi

Persoalan yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia, Kabupaten Dairi khususnya yakni :

1. Nasionalisme dan pluralisme bangsa dipertanyakan dan bahkan identitas nasional dipersoalkan.

2. Krisis global, yang secara luas berdampak negative ke setiap sektor.

3. Primordialisme, tuntutan-tuntutan plural yang mengesampingkan integritas bangsan dan menonjolkan kepentingan kelompok atau semangat kedaerahan yang diwarnai ketidak pedulian nasib bangsa.

4. Krisis moral, merebaknya berbagai persoalan masyarakat, yang membuat rasional politik anak negeri menjadi melemah, kepedulian sosial rendah, dan menjadi ladang subur tumbuhnya kriminal.

5. Krisis ketauladanan, realitas menunjukkan bahwa keteuladanan dari pada elite baik nasional maupun lokal saat ini sangat langka, pada hal sebagai generasi penerus bercermin kepada tokoh-tokoh pemimpinnya baik formal maupun informal.

6. Krisis sosial budaya muncul dalam berbagai bentuk disorientasi dan dislokalisasi dibanyak kalangan masyarakat yang disebabkan euphoria kebebasan yang kebabalasan, lenyapnya kesabaran sosial menghadapi kehidupan yang semakin sulit.

7. Tingkat kompetisi yang tinggi, tantangan kompetisi dan peluang semakin selektif. Dunia semakin mengglobal dengan munculnya fenomena pola hubungan masyarakat yang mendunia yang ditandai oleh kian minimnya sekat atau batas Negara. Sehingga memungkinkan derasnya arus perputaran modal jasa ke seluruh pelosok dunia yang mempengaruhi integritas nasional, kesemuanya hanya mungkin dijalani dengan kualitas kompetensi yang berdaya saing.

B. Strategis upaya membangun daya saing generasi muda

Generasi muda merupakan tingkat estapet pembangunan Negara Republik Indonesia umumnya dan Kabupaten Dairi khususnya, beberapa strategis upaya membangun daya saing generasi muda, yakni :

1. Pendekatan :

Maksudnya dalam era globalisasi ekonomi perlu dilakukan pendekatan secara persuasive yang membutuhkan pembinaan dan pelatihan bertujuan melakukan emulasi radikal. Sebagaimana para atlet profesional yang terus menerus berlatih, dan berlatih melakukan peningkatan kualitas kinerja dengan cara mengalahkan diri sendiri atau melampaui rekor prestasi mereka sendiri sebelum mereka lakukan atau lampaui orang lain.

2. Merubah insan-insan generasi muda

Upaya perubahan generasi muda untuk mencapai peningkatan pembangunan daya saing generasi muda, yakni: Pertama, keberdayaan manusianya meliputi pemikiran, karakter, perilaku, kompetensi individual yang menjadi komponen sumber daya manusianya.

Kedua, karena collective value atau budaya yang hidup dan diusung pengalamanya secara kolektif oleh para insan yang aktif berkiprah dalam masyarakatnya. Budaya yang dimaksud disini, budaya yang menjadikan manusia-manusianya mampu hidup dalam kepatutan perilaku (appropriate behavior), ketinggian martabat pribadi, kepercayaan diri, kemandirian diri, pemeliharaan modal sosial dan kekuatan daya saing.

Ketiga, paling krusial, karena timing, menurut pakar dan praktisi, para pemenang adalah mereka yang bisa jitu merebut peluang. Karena mereka berada pada tempat dan waktu yang benar. Timing is very important for successful endeavor. Jadi untuk membangun daya saing generasi kita harus berjuang keras mengubah insan-insan generasi saat ini, prevalensi budayanya dan menyesuaikan timing.

Mengubah insan pada hakikatnya merekayasa terjadinya perubahan pribadi dan kecenderungan adaptasi melalui katalisasi group think konstruktis yang memotivasi evolusi dan revolusi pemikiran, karakter, perilaku dan kompetensi para individu.   Psikologis sepakat bahwa perubahan pada diri seseorang manusia paling efektif direka pada usia dini dan remaja. Semakin tambah usia atau menua, akan semakin rendah tingkat sukses hasil injeksi perubahan pada pemikiran, karakter, perilaku dan kompetensi mereka.

Apalagi pada orang-orang dengan kecenderungan pribadi yang bersifat menetap, untuk menenggang fleksibilitasnya, perlu sejak dini diajarkan kebiasan belajar, agar orang menjadi terbiasa melakukan perubahan kapasitas pribadi diri sendiri, perlu diajarkan sejak dini tentang diktum : Improvement begins with an “I”, peningkatan atau pembaharuan apapun harus dimulai oleh dan dari diri sendiri.

Penutup

Kesimpulan: Generasi merupakan pewaris tongkat estapet penerus pembangunan daerah dan Negara yang kita cintai ini, sebagai pewaris generasi dituntut mampu, handal dan mandiri, serta lebih baik dari generasi sebelumnya, itu disebabkan tingkat kompetensi dengan luar sangat kompetitif. Jadi sangat diharapkan generasi muda yang kualitas kompetensi berdaya saing untuk mencetak dan menciptakan generasi muda yang berdaya saing tersebut, perlu perhatian serius dari berbagai kalangan termasuk KNPI.

A. Saran: Dengan adanya perlombaan karya tulis yang diadakan DPD KNPI Kabupaten Dairi dapat memberikan masukan dan gambaran kepada pihak pemerintah dan pihak terkait lainnya. Bahwa generasi muda sebagai pewaris melanjutkan cita-cita bangsa perlu mendapat perhatian serius. Harapan kami semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran dan masukan guna peningkatan pembangunan daya saing generasi muda depan. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih. (Habben Nainggolan/ Wartawan Berita Sore)