SBY Lima Taon Nai………….

Andy Yanto Aritonang

Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono dalam pemilihan presiden (pilpres) secara langsung, Rabu [08/07], menurut hasil sementara penghitungan suara yang dilansir Komisi Pemilihan Umum (KPU),hasil hitung cepat (quick count) dan sejumlah lembaga survei di Indonesia menang mutlak.
Walaupun KPU masih melakukan perhitungan manual dan akan mengumumkan hasil resmi pilpers pertengahan bulan Juli ini, namun melihat Kemenangan SBY-Boediono  yang sangat signifikan, sementara ketika tulisan ini diturunkan mencapai 2.485.581 suara (60,72 persen) maka pilpers cukup dilakukan satu putaran.
Tentu, kemenangan satu putaran sebagai bukti sosok SBY masih sangat sulit ditandingi pesaingan, yakni pasangan Megawati-Prabowo dengan perolehan suara sekitar 27 persen dan duet Kalla-Wiranto yang mendapat sekitar 15 persen.
Namun, mandat yang diberikan rakyat kepada SBY untuk melanjutkan kepemimpinannya lima taon nai, (5 tahun lagi), harus benar-benar dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat. Legitimasi dari rakyat yang begitu kuat, dan berkuasanya Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai fraksi terbesar, tentu tidak ada lagi alasan bagi SBY untuk tidak tegas mengambil kebijakan yang pro rakyat.

Masalahnya sekarang, apakah mandat yang diberikan rakyat kepada SBY itu mampu diimplementasikannya dengan penuh kebebasan untuk membentuk komposisi kabinet yang berorientasi kaum profesional?

Jika SBY harus mengakomodir kepentingan para partai politik (parpol) pendukungnya, kita pesimis kabinet yang dibangun akan kuat. Pasalnya, pengalaman SBY membentuk kabinet dengan mengakomodir parpol pendukung pada priode 2004-2009 membuat kabinetnya rapuh, bahkan  terkesan menteri-menteri yang diangkatnya untuk mnengakomodir parpol pendukungnya lebih cendrung bekerja untuk kepentingan partainya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pencalonan SBY pada pilpers 2009 ini, selain diusung Partai Demokrat, juga didukung 23  parpol peserta Pemilu. Bila SBY mengakomodir kepentingan parpol pendukungnya maka nasib kabinet yang nanti akan dibentuknya , bukan tidak mungkin bernasib seperti kabinetnya terdahulu. Tetapi, jika SBY tidak mengakomodir kepentingan parpol pendukungnya, tentu kabinetnya akan kuat.

Memang tidak mustahil seorang kader parpol memiliki profesional, tetapi harus jelas bahwa kadaer parpol yang diangkat sebagai menteri bukan karena balas jasa. Modal kemenangan yang sangat besar sepatutnya tidak disia-siakan untuk membangun pemerintahan yang solid, profesionalisme di dalam kabinet mutlak diperlukan.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, SBY harus membangun kabinetnya yang solid di pemerintahan maupun parlemen, apa lagi   rintangan lawan-lawan politiknya relatif kecil di DPR , sehingga SBY akan lebih leluasa memperlihatkan  kejeliannya dalam mengeluarkan setiap kebijakan.

Tergusur
Berakhirnya Pilpers satu putaran, bukan hanya menghantarkan SBY untuk melanjutkan pemerintahannya, tetapi Pilpres kali ini saya pikir merupakan pilpers yang terakhir bagi Megawati Soekarnoputeri, Jusuf Kalla dan Wiranto.

Dengan kata lain, pada pilpers 2014 mendatang peluang ketiga tokoh diatas sudah sangat kecil dan dipastikan akan tergusur oleh tokoh-tokoh yang muda. Sedangkan bagi Prabowo Subianto, Pilpers ini sebagai pemanasan menuju pencalonnya sebagai calon presiden sesusungguhnya pada 2014.

Walaupun Mega, Jusuf Kalla dan Wiranto diatas kertas tidak lagi akan maju sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden pada 2014 mendatang, bukan berarti ketiga tokoh ini sudah pensiun dari panggung politik. Tentu, dunia politik masih akan mereka geluti melalui partai politik yang dipimpinnya. Wiranto pasti akan membidani partai yang didirikannya yakni Hatinurani Rakyat (HANURA), Mega dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Jusuf Kalla dengan Partai Golkar.

Bagi Jusuf Kalla, memang masih berat untuk bertahan di politik. Pasalnya, kepemimpinannya si Partai Gokar bakal tergusur pasca kekalahan di pilpers. Suara untuk menggusur JK bahkan sudah dihembuskan sehari setelah hasil perhitungan cepat pilpers dilansir media, sedangkan Megawati Soekarnoputri masih kuat di PDIP, apa lagi putri, Puan Maharani nanti terpilih sebagai Ketua Umum PDIP, tentu Mega akan menjadi penasehatnya.

Pelajaran
Pilpers memang sudah usai.Terlepas dari hasil pilpers itu, kita harus akui bahwa pilpers kali ini adalah pilpers yang paling buruk sejak era reformasi. Berbagai pelanggaran, kecurangan dan ketidakmampuan pihak penyelenggaran melaksanakan pemilu sesuai tahapan-tahapan yang sudah ditentukan.

Kita bukan mau mencari kambing hitam dari curat marutnya pelaksanaan pemilu kali ini, tetapi kita berharap kelemehan-kelemahan yang terjadi dapat kita jadikan pelajaran yang amat berharga untuk kemudian kita pikirikan bagaimana solusi-solusi mengatasi berbagai kecurangan dan kelemahan itu pada pelaksanaan pilpers mendatang.

Salah satu, keputusn-keputuan Mahkamah Konstitusi (MK) yang terkadang sangat mepet sekali, seperti halnya keputusan mempergunakan  kartu tanda penduduk (KTP) dan pasport.  Keputusan yang janya menyisakan dua hari sebelum pencontrenag tentu, sosialisasi penggunaan KTP untuk mencontreng tidak berlangsung mulus di lapangan.

Tanpa mendahuli pengumuman resmi dari KPU, melaluji tulisan ini saya mengucapkan selamat kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono yang telah mendapat mandat dari rakyat untuk jadi pemimpin lima taon nai ( 2009-2014), demikian juga kepada pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto yang sudah memberikan pendidikan politik yang terbaik bagi bangsa ini. Horas…..Horas……Horas……..  ( Andy Yanto Aritonang )

Comments are closed.