Presiden: Indonesia Segera Miliki “Standby Force”

MENAIKI PANSER : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) didampingi Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso (kanan) menaiki salah satu dari 40 Panser jenis Armoured Personal Carrier (APC) 6×6 seusai serah terima dari PT Pindad ke Departemen Pertahanan di kawasan hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Jumat (10/7).  ( FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf/ed/mes/09. )

Bandung ( Berita ) :  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, Indonesia  segera memiliki pasukan siap siaga (standby force) yang siap digerakkan ke mana saja untuk tugas perdamaian.

“Setelah ini kita akan segera mempunyai standby force yang siap digerakkan kemana saja untuk tugas perdamaian dengan panser buatan sendiri yang tidak kalah dengan buatan luar negeri,” kata Presiden setelah menyaksikan serahterima 40 panser APS 6×6 dari  Direktur Utama PT Pindad kepada Menteri Pertahanan di PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jumat [10/07].

Menurut Presiden, keperluan melengkapi pasukan dengan panser buatan sendiri bercermin pada pengalaman ketika Indonesia menyatakan kesiapannya untuk bergabung dengan pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon tiga tahun lalu.

Presiden mengatakan, kala itu pasukan TNI telah siap untuk menjalankan tugas dalam misi perdamaian namun tidak siap dengan peralatan utama sehingga Indonesia harus  bekerjasama dengan Prancis guna menyiapkan peralatan tersebut.

Berdasarkan pengalaman itu, kata Kepala Negara, Indonesia harus bergerak cepat untuk meningkatkan kemampuannya dalam moderenisasi sistem pertahanan. Lebih lanjut, menurut Presiden, TNI dan Departemen Pertahanan juga tengah menyiapkan suatu pusat penjaga perdamaian (peace keeping center) yang juga sekaligus menjadi markas “standby force”.

Kesiapan itu, lanjut dia, akan membuat Indonesia makin dikenal dalam misi penjaga perdamaian yang sejak lama telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia di berbagai forum internasional.

Sementara itu Menhan mengatakan, 40  panser APS 6×6 tersebut merupakan produksi PTB Pindad yang dibiayai oleh APBN dengan dana Rp1,12 trilun untuk 154 panser yang terdiri atas 150 unit panser APS 6×6 dan empat unit panser intai.

Panser-panser itu merupakan produksi pertama kendaraan tempur dalam negeri sejak era reformasi, katanya. Seusai menyaksikan serah terima itu Presiden melakukan peninjauan dan pemeriksaan panser-panser tersebut. Kepala Negara juga naik ke salah satu panser tersebut. *

Prioritaskan Produksi Dalam Negeri

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengimbau bahwa alat-alat pertahanan yang dapat dibuat di dalam negeri hendaknya tidak dibeli dari luar negeri.

“Alat-alat pertahanan yang bisa dibuat di dalam negeri saya larang dibeli dari luar negeri,” kata Presiden saat menyaksikan serahterima 40 panser APC 6×6 dari Direktur Utama PT Pindad kepada Menteri Pertahanan di PT Dirgantara Indonesia Bandung, Jumat.

Kepala Negara menilai kebijakan itu bukanlah suatu bentuk dari proteksionisme melainkan wujud dari komitmen pada 2005 untuk memproduksi sendiri alat-alat yang dapat dibuat di dalam negeri.

“Untuk pertahanan kita prioritaskan produk dalam negeri, itupun kita masih membeli persenjataan yang lain (dari luar negeri),” katanya. Namun, lanjut Presiden, hal itu hanya dapat dilakukan jika industri pertahanan dalam negeri kompetitif sehingga rakyat tidak dirugikan karena membeli produk yang sama dengan produk luar negeri dengan harga yang lebih mahal.

Menurut Kepala Negara, industri pertahanan harus kompetitif jika tidak ingin mati akibat kalah bersaing.

Selain kompetitif, lanjut dia, agar dapat memberikan sumbangan signifikan pada pembentukan postur pertahanan, industri pertahanan juga harus efisien dan berkelanjutan. Untuk mewujudkan itu semua, Kepala Negara berjanji bahwa pemerintah siap membantu dengan berbagai inovasi, teknologi dan investasi.

Saat memberikan penjelasan antara perlunya kesesuaian antara cetak biru moderenisasi sistem pertahanan dengan kesediaan anggaran negara, Presiden sempat menegur tiga orang tamu undangan yang sibuk bercakap-cakap.

Sebelumnya Kepala Negara juga pernah menegur seorang tamu undangan yang mengantuk di saat pidatonya di Lemhanas tahun lalu.

Sebelum menyaksikan serah terima itu, Kepala Negara menggelar rapat terbatas dengan Panglima TNI Djoko Santoso, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Mensesneg Hatta Rajasa dan Seskab Sudi Silalahi untuk membahas mengenai usulan cetak biru modernisasi pertahanan Indonesia.

Kepala Negara mengatakan cetak biru moderenisasi sistem pertahanan diperlukan untuk betul-betul mewujudkan postur pertahanan yang kokoh.

Cetak biru tersebut, menurut Kepala Negara, juga akan disesuaikan  dengan anggaran negara sehingga diperlukan suatu prioritas.

Anggaran Pertahanan Naik 20 Persen

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pemerintah akan menaikkan anggaran pertahanan sebesar 20 persen pada 2010. Hal itu dikemukakan oleh Kepala Negara saat menyaksikan serah terima 40 panser 6×6 dari Direktur Utama PT Pindad kepada Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso di kawasan PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jumat siang.

“Mulai 2010 ,anggaran pertahanan akan kita tingkatkan secara signifikan pada 2009 sebesar Rp33,6 triliun, kita naikkan sekitar Rp7 triliun atau 20 persen menjadi Rp40,6 triliun,” katanya.

Menurut Kepala Negara, peningkatan anggaran pada 2010 itu akan menjadi awal dari peningkatan bertahap anggaran pertahanan.

“Tahun demi tahun akan kita tingkatkan,…(sehingga) kita makin dekat dengan kekuatan minimum yang diperlukan,” ujarnya seraya menambahkan bahwa kekuatan minimum yang diperlukan memerlukan dana setara Rp100 trilun -Rp120 trilun. Presiden mengatakan bahwa peningkatan anggaran pertahanan dapat diwujudkan seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Kepala Negara menilai anggaran pertahanan dalam beberapa tahun terakhir memang masih dibawah kebutuhan karena beberapa tahun terakhir pemerintah menitikberatkan pada upaya peningkatan kesejahteraan rakyat.

Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa peningkatan anggaran secara signifikan itu hendaknya digunakan secara tepat sesuai kebutuhan, tetap mengutamakan prioritas, menggunakan audit dan berorientasi pda pengguna.

Sebelum menyaksikan serah terima itu, Kepala Negara menggelar rapat terbatas dengan Panglima TNI, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono , Mensesneg Hatta Rajasa dan Seskab  Sudi Silalahi  untuk membahas mengenai rencana atau ” cetak biru “modernisasi pertahanan Indonesia.

Kepala Negara mengatakan cetak biru modernisasi sistem pertahanan diperlukan untuk betul-betul mewujudkan postur pertahanan yang kokoh.

Cetak biru tersebut, menurut Kepala Negara, juga akan disesuaikan dengan anggaran negara sehingga diperlukan suatu prioritas.  Panser-panser itu merupakan produksi pertama kendaraan tempur dalam negeri sejak era reformasi, katanya.

Seusai menyaksikan serah terima itu Presiden melakukan peninjauan dan pemeriksaan panser-panser tersebut. Kepala Negara juga naik ke salah satu panser tersebut.* ( ant )

Comments are closed.