Saling Klaim Perdamaian Ganggu Masa Depan Aceh
Banda Aceh ( Berita ) : Pengamat politik dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Saifuddin Bantasyam berpendapat, saling klaim siapa yang paling berperan dalam perdamaian Aceh dikhawatirkan bisa mengganggu masa depan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
“Saya kuatir saling klaim masalah perdamaian di Aceh ini secara politik bisa mengganggu cara pandang internasional terhadap masa depan Aceh,” katanya di Banda Aceh, Jumat [26/06] .
Ia mengatakan hal itu menanggapi adanya saling klaim dibalik keberhasilan perdamaian Aceh, yang dilakukan calon presiden dan tim suksesnya.
Saifuddin yang juga dosen pasca sarjana Fakultas Hukum Unsyiah itu menyatakan, sebenarnya perdamaian yang terjadi di Aceh bukan terletak siapa presiden dan wakil presidennya, tapi kemauan dari semua lapisan masyarakat Aceh.
Jadi, tidak ada tokoh tunggal dalam perdamaian Aceh, tapi semua pihak berperan menciptakan keamanan dan ketentraman, ujarnya. Meskipun ada capres yang mengklaim sebagai tokoh perdamaian, menurut Saifuddin tidak akan mempengaruhi pemilih di Aceh, khususnya dukungan kepada capres Susilo Bambang Yudhoyono.
“Saya pikir, pemilih di Aceh tidak terpengaruh dengan saling klaim perdamaian itu, karena dari awal mereka sudah memiliki pilihan yang tidak bisa berubah lagi,” katanya.
Ketika ditanya peluang masing-masing pasangan pada Pilpres mendatang, ia menilai, pasangan SBY-Boediono masih unggul di Aceh. “Meskipun capres Jusuf Kalla sempat berkunjung ke Kantor Partai Aceh, pendudkung SBY tidak akan terpengaruh, mereka tetap pada pilihan pertamanya,” katanya.
Kemenangan SBY di Aceh bisa dilihat dari hasil Pemilu legislatif lalu, dimana Parta Demokrat meraih suara DPR RI mencapai 47 persen. Masyarakat Aceh memilih Partai Demokrat, karena melihat sosok SBY yang dinilai cukup sempurna sebagai pemimpin bangsa ini, katanya. ( ant )