Panglima TNI: Pengamanan Ambalat Sesuai Prosedur

Jakarta ( Berita ) : Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan, pengamanan di kawasan perairan Ambalat, Kalimantan Timur tetap dilakukan sesuai prosedur standar operasional pengamanan perbatasan wilayah laut, tanpa penambahan armada perang.

Berbicara usai menghadiri seminar “Memahami Indonesia Yang Asing: Realitas Sosial Budaya di Perbatasan RI-Malaysia” di Jakarta, Kamis [28/05], Panglima mengatakan, TNI dan Angkatan Bersenjata Malaysia telah memiliki proseur standar operasional bersama untuk pengamanan perbatasan wilayah laut antara kedau negara, termasuk di Ambalat.

“Jadi, jika terjadi pelanggaran maka masing-masing akan menjalankan tugasnya sesuai prosedur bersama yang telah disepakati, bagaimana melakukan komunikasi dengan mereka sampai tahapan pengusiran terhadap kapal-kapal mereka yang melanggar wilayah RI,” katanya.

Djoko mengakui, pelanggaran yang kerap terjadi di Ambalat oleh kapal-kapal perang Malaysia. “Itu dikarenakan kedua pihak baik Malaysia maupun Indonesia memiliki dasar hukum yang kuat terhadap batas kedua negara di Ambalat. Jadi, batas wilayah kedua negara di Ambalat yang masih disengketakan ini harusnya segera diselesaikan oleh pemerintah kedua negara,” kata Panglima TNI.

Dengan demikian, kata Djoko, sambil menunggu hasil perundingan kedua pemerintahan terkait status Ambalat, TNI akan tetap melakukan pengamanan di wilayah Ambalat sesuai prosedur standar operasional TNI, dan Angkatan Bersenjata Malaysia.

Panglima TNI mengemukakan, angkatan bersenjata kedua negara kerap melakukan pertemuan rutin untuk membahas berbagai persoalan di perbatasan kedua negara, baik perbatasan laut maupun darat.

Kapal perang TNI AL KRI Untung Surapati-872 pada Senin (25/5) berhasil mengusir kapal perang Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM), KD Yu-3508 yang mencoba memasuki wilayah kedaulatan Republik Indonesia di perairan Blok Ambalat.

KRI Untung Surapati-872 dengan komandan Mayor Laut (P) Salim sedang melaksanakan operasi penegakan kedaulatan di laut wilayah RI, khususnya di Laut Sulawesi dan sekitarnya.

Seketika itu juga, anak buah kapal KRI Untung Surapati-872 melakukan peran tempur bahaya permukaan mencoba melakukan kontak komunikasi lewat radio.

Dari hasil komunikasi itu diperoleh informasi bahwa kapal TLDM tersebut akan ke Tawau, namun haluan kapal bertentangan dengan yang dikatakannya, bahkan justru mencoba memasuki wilayah Indonesia semakin jauh dan menambah kecepatan.

Akhirnya, KRI Untung Surapati-872 yang merupakan salah satu kapal perang TNI AL jenis korvet kelas Parchim eks Jerman melakukan pengejaran untuk menghalau KD YU-3508 sekaligus memberikan perintah agar segera keluar dari wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Setelah diberikan peringatan dengan tegas, KD YU-3508 melakukan diam radio dan keluar dari wilayah NKRI.

Sehari sebelumnya, KRI Hasanudin-366 juga mengusir KD Baung-3509 dan heli Malaysian Maritime Enforcement Agency serta pesawat beechraft yang juga mencoba memasuki wilayah Blok Ambalat.

Berdasar data TNI AL, pelanggaran wilayah oleh unsur laut dan udara TLDM maupun Police Marine Malaysia di Perairan Kalimantan Timur, khususnya di Perairan Ambalat dan sekitarnya, periode Januari sampai April 2009, tercatat sembilan kali. ( ant )