Permendag 56/2008 Bawa Berkah Bagi Pengusaha

Jakarta (Berita): Para pengusaha mengaku bahwa Permendag No. 56/M-DAG/PER/12/ 2008 membawa berkah pada insdustri dan perdagangan dalam negeri.

Terbutki Permendag yang mengatur tata cara impor produk tertentu yakni elektronik, mamin, alas kaki, garmen dan nainan anak-anak ampuh membatasi ruang gerak oknum penyelundup produk ilegal ke tanah air.

Dalam permendag tersebut, kelima produk itu hanya boleh masuk melalui lima pelabuhan internasional Indonesia misalnya Belawan (Sumut), Tanjungpriok (Jakarta), Semarang, Tanjung Perak (Surabaya) dan Makassar.

“Permendag 56/2008 sangat membantu dunia usaha. Produksi kami hinga kini 90 persen masih diekspor ke ke Amerika, Aropa, Timur Tengah dan Afrika. Artinya volume ekspor tidak berkurang dari semula meski terjadi krisis global. Ini harus kita syukuri terlebih pasar dalam negeri juga bagus karena barang ilegal berkurang setelah diterbitkan Permendag itu,” kata Presiden Direktur PT Panggung Elektrik Citrabuana Ali  Soebroto, ketika melakukan dialog interaktif dengan rombongan  Dirjen Perdagangan Luar Negeri Diah Maulida yang berkunjung ke komplek pabriknya di Surabaya (Jatim), Kamis [07/05].

Dalam kunjungan kerja itu, Diah Maudlida didampngi Sekretaris Dirjen Perdagangan Luar Negeri Syahrul R Sanpurnajaya, Direktur Ekspor Albert Yusuf Tubogu, Direktur Pengendalian dan Pengujian Mutu Barang, Andreas Anugerah dan Kasub Perdagangan Internasional Dinas Perindag Surabaya Saiful Jasan.

Menurut Ali Soebroto, PT Panggung Elektrik Citrabuana adalah salah satu perusahaan elektronik terbesar di Surabaya dengan memproduksi TV Akira, JVC, Intel, Kulkas, Kaset Tape Recorder. Sebanyak 90 persen produknya diekspor ke Amerika, Eropa, Efrika dan Timur Tengah ternyata tidak berpengaruh dengan krisis global.

Ditambahkan Ali Soebroto, sudah saatnya pemerintah membuat sistem yang komprehensif untuk memacu pertumbuhan sekaligus memproteksi industri nasional.

“Menurut saya pemerintah harus mambuat sebuah sistem yang komprehensif. Seperti membuat ekosistem. Dalam teori pertanian, acuannya adalah ekosistem. Nah di sektor industri juga harus dibuat seperti itu supaya industri ini berkembang. Kalau industri tumbuh subur, maka pemasukan negara makin baik, pengangguran pun teratasi,” paparnya.

Setelah mendengar pengakuan pelaku usaha tersebut, wajah Dirjen Daglu Diah  Maulida tampak berseri dan membuat hatinya sejuk. Itu sangat wajar mengingat merosotnya perekonomian global tekah membuat para pejabat  pemerintah pusat begitu repot. Berbagai kebijakan pun dikeluarkan baik mengeluarkan Permendag maupun menjelajah pasar non tradisional. “Ya kita  masih survive, itu sangat bagus. Dan itulah yang kita harapkan,” kata Diah Maulida katanya sembari mengulas senyumnya.

Diah juga mengakui bahwa terbitnya Permendag 56/2008 itu semata-mata bukan untuk melakukan praktik proteksionisme. Tetapi esensinya adalah untuk menghambat masuknya barang impor ilegal ke Indonesia. Selama ini, akibat masuknya impor ilegal ke pasar domestik telah mendistorsi pasar domestik dan menurunkan daya saing industri nasional. (olo)