Menko Minta Mendag Naikkan Proyeksi Eskpor
Jakarta ( Berita ) : Menteri Koordinator Perekonomian Sri Mulyani yang juga Menteri Keuangan RI, meminta Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu untuk menaikkan proyeksi pertumbuhan ekspor nasional tahun ini. Semula volume ekspor perkiraan minus 10. Karenanya minus 10 persen itu harus menjadi nol (0) persen.
“Dengan tegas, saya meminta ibu Mari merevisi range pertumbuhan dalam volume eskpor dari minus 10 persen menjadi 0 persen. Ini tantangan,” tegas Sri Mulyani ketika membuka Rapat Kerja (Raker) Departemen Perdagangan RI di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis [16/04]. Raker ini diikuti sedikitnya 350 orang peserta.
Dikatakan, pada era krisis sekarang ini Depdag harus lebih atraktif membuat rencana kebijakan jangka pendek misalnya memberdayakan ekonomi kerakyatan. Bila perlu kordinasi dengan Pemda setempat. ”Artinya yang bisa segera mensejahterakan rakyat serta menopang perekonomian nasional seperti petani hingga pengrajin tempe. Ini sangat penting. Ke depdag juga harus mengarahkan penggunaan mata anggaran kepada kinerja,” tambahnya.
Tidak hanya itu, Menko juga meminta Mari Pangestu meningkatkan kerjasama yang lebih tegas dan solid dengan aparat Bea dan Cuka guna menghentikan praktik impor ilegal.
“Kalau cinta Republik Indonesia, maka semua aparat saya harus komit menjaga ilegal activity khususnya di lokasi-lokasi rawan. Kalau kinerja Bea Cukai bagus, penerimaan negara akan bagus. Itulah sebuah komitmen yang harus di bangun. Ini juga saya titipkan kepada para pejabat teras Depdag,” imbaunya.
Sementara itu Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu langsung merespon positip tantangan Menko Sri Mulyani baik dalam hal menaikkan proyeksi pertumbuhan ekspor tahun ini maupun meningkatkan kerjasama dengan aparat terkait termasuk Bea Cukai.
“Sesuai permintaan dan tantangan Ibu Sri Mulyani, saya akan merevisi range pertumbuhan ekspor dalam volume dari minus 10 persen hingga 0 persen,” kata Mari dalam konferensi pers usai pembukaan raker, Semula, Departemen Perdagangan memprediksi volume ekspor akan berkontraksi minus 10 persen hingga minus 5 persen. “Kalau melihat secara nilai, sulit sekali melakukan proyeksi karena terpengaruh harga komoditas yang harganya fluktuatif, jadi lihat saja secara volume,” katanya.
Proyeksi tersebut sudah mempertimbangkan asumsi pertumbuhan dunia dan pertumbuhan pasar. Jadi melalui rapat kerja ini akan dihitung lagi dengan range yang lebih optimistis yaitu target nol persen untuk kondisi terbaik.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekspor akan berkontraksi minus 5 persen hingga minus 8 persen dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 4,3 hingga 4,8 persen. Impor menurut proyeksi Departemen Keuangan juga mengalami kontraksi secara volume sebesar minus 8 hingga minus 12 persen.
Sedangkan untuk 2010, menurut Mari, Departemen Perdagangan diminta untuk tumbuh positif. Dalam Rencana Kerja Pemerintah 2010, ditargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 5 persen. “Jadi harus kerja keras,” kata dia.
Menjawab permintaan Menko menjaga aktivitas impor ilegal alias penyelundupan, Mari mengatakan pihaknya dan Bea Cukai serta intansi terkait telah bekerjasama dalam task force sesuai Permendag No 780/2008. Tugas pokok task force memberantas barang beredar yang diduga diimpor secara ilegal yang kini merusak pasar domestik.
“Kita dengan Bea Cukai dan Dephub terus evaluasi arus barang impor. Untuk barang beredar task force sudah berjalan, dan kita sudah beberapa kali pertemuan dengan timnya,” tuturnya. Kordinator Tim Task force adalam Mendag Mari Pangestu.
Sementara Sekjen Depdag Ardiansyah Parman yang bertindak selaku Ketua Panitia Raker Depdag bertajuk “Kreatifitas Sektor Perdagangan di Tengah Krisis Perekonomian Global” mengatakan raker akan dibahas kebijakan ketahanan ekonomi nasional, menyusun rencana kerja program kerja Depdag 2010-2014 dan mempertajam perdagangan dalam dan luar negeri. “Kata kuncinya keberhasilan adalah kordinasi dan konsolidasi dengan berbagai pihak,” kata Ardiansyah Parman. (olo)