Dangdut Disukai Masyarakat Thailand

Siapa sangka, lagu dangdut Indonesia bisa tersohor hingga ke negeri Thailand. Penyanyinya juga berasal dari Tanjung Morawa Medan. Padahal beberapa masyarakat kaula muda mengganggap musik dangdut adalah kampungan. Dan musik dangdut ini hanya banyak diminati para orangtua saja. Meskipun dianggap kampungan, namun musik dangdut mampu memancing orang untuk bergoyang dan menari. Hiburan dangdut ini bisa Anda temui di perbatasan Thailand-Danok (Thailand bagian Selatan).

Berkisar 15 orang Rombongan wartawan unit bandara Polonia berkesempatan menyambangi perbatasan Thailand di Kota Danok beberapa waktu lalu. Danok adalah sebuah kota kecil yang pertama sekali kita jumpai bila memasuki Thailand melalui jalur imigrasi Bukit Kayu Hitam di Kedah, Malaysia.

Wilayah perbatasan ini merupakan kota kecil yang berpenduduk sedikit. Kota Danok bukan sebuah kota metropolitan dengan gedung bertingkat tinggi maupun perumahan yang mewah. Rumah-rumah tinggalnya hanya seperti ruko saja. Begitu juga hotel di lokasi itu, hanya hotel kecil berbintang 4 yang bangunannya hanya bertingkat empat tertinggi. Rombongan kami kebetulan menginap sehari di Hotel Viratel di Jalan Lorong Viratel. Kami memang hanya berada sehari saja di Kota Danok karena harus melanjutkan perjalanan lagi esoknya ke Kota Hat Yai-Tailand.

Bila siang hari, Danok terlihat sepi. Kebanyakan penduduknya beraktivitas dengan berjualan. Mulai dari berjualan rujak, es kelapa bakar, aksesoris, pakaian dan juga membuka rumah makan. Tapi bila malam hari, Danok hingar bingar oleh suara musik. Mulai dari hiburan karoke, pub, live musik hingga tarian telanjang. Persaingan hiburan malam ini memang sangat ketat demi menggaet pengunjung yang datang.

Pada malamnya harinya, kami berkesempatan menyambangi beberapa lokasi hiburan malam di sana. Salah satunya ke Istana Dangdut. Di lokasi inilah berbagai lagu dangdut Indonesia dinyanyikan. Penyanyinya sendiri berasal dari Tanjung Morawa. Menariknya, pengunjungnya justru kebanyakan warga Thailand yang sudah tentu tidak mengerti arti lagu dangdutnya, tapi mereka bersemangat bergoyang pinggul mengikuti irama musik. Mulai dari lagu berjudul Kucing Garong, SMS, Mabuk Janda, Gadis Atau Janda, Dikocok-kocok, Sekuntum Mawar Merah, Lima Menit Lagi, Benang Biru dan lagu dangdut jenis musik disko lainnya.

Pengunjung warga Thailand di Istana Dangdut itu juga tak segan-segan naik ke panggung sekadar untuk mengalungkan bunga kepada penyanyinya. Kalung bunga itu sebagai tanda rasa senang atas lagu yang dibawakan, tentunya sambil memberikan uang bath (mata uang Thailand) atau ringgit (mata uang Malaysia) kepada penyanyinya. Kalung bunga memang selalu disediakan pihak pengelola hiburan. Malam itu, tepukan riuh pengunjung dan banjir kalung bunga mengisi suasana di Istana Dangdut.

Ketika penyanyinya membawa lagu berjudul Kucing Garong, tak hanya banjir kalung bunga, pria warga Thailand yang menikmati musik di Istana Dangdut tersebut juga berkali-kali mengacungkan jempol tangan mereka buat penyanyinya sambil berjoget riang.

Penyanyi dangdut dari Tanjung Morawa itu sudah bertahun-tahun menjadi penyanyi dangdut di kota seks itu. Mereka rata-rata masih sangat muda, tapi memiliki suara merdu. Mereka bernyanyi secara bergantian sambil goyang ngebor meniru artis Inul bahkan goyongannya sangat mengundang syahwat. Malam itu pemilik keyboardnya bernama Dana mengiring musik dangdut dengan keyboard-nya. Setelah pukul 03.00 WIB, hiburan dangdutnya usai dan kami pun kembali ke hotel.

Besoknya kami melanjutkan perjalanan ke Kota Hat Yai dengan memakan waktu satu jam lebih saja, berjarak hanya sekitar 54 kilometer dari tapal batas Malaysia – Thailand. Hat Yai berada sekitar 947 kilometer dari Bangkok, ibukota Thailand yang saya sambangi bersama rekan wartawan lain.

Tiba di Kota Hat Yai, kami bersama teman menginap di Hotel Lamtong. Hotel yang tidak mewah tapi memiliki fasilitas kamar yang lumayan bagus. Biaya menginap juga relatif murah. Tarif hotel berbintang sekitar 500 Bath per malam, atau Rp 100 ribu. Tapi tentunya ada juga yang mahal.

Pariwisata di Thailand sebenarnya biasa-biasa saja. Hampir keseluruhan kota tujuan wisata Thailand menyajikan hal yang sama antara lain, belanja, kuil, pantai dan seks. Tapi tidak bisa dipungkiri Thailand termasuk di Kota Hat Yai memang luar biasa dalam menarik wisatawan. Pariwisata negara yang kini dikenal dengan nama The Land of Smile atau daratan yang penuh dengan senyuman itu berhasil menggaet pelancong dengan sensasi eksotisnya, ya wisata seksnya.

Siang itu kami menyisiri Kota Hat Yai yang berada di Propinsi Songkhla berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa lebih, menjadi kota sibuk dari segi hiburan dan pusat perbelanjaan. Sepanjang trotoar jalan-jalan pusat kota Hat Yai, dipenuhi pedagang makanan dan pakaian yang berjajar rapi. Harganya juga relatif murah dengan kualitas lebih unggul dari produk murah di Indonesia.

Hat Yai juga merupakan surganya belanja bagi para pelangcong. Ini karena produknya rata-rata aspal (asli tapi palsu) dengan mencatut nama merek produk terkenal tapi harga murah. Meski aspal, tapi soal kualitas tak jauh beda dengan yang aslinya bahkan sulit dibedakan. Inilah kelebihan pasar tradisional di Hat Yai. Tapi tidak semuanya produk aspal.

Ada juga produk pakaian impor asal Amerika yang saya temui di toko Expor di salah satu pasar di Hat Yai. Toko ini menjual produk Amerika yang sudah disortir atau produk yang “cuci gudang”. Harganya sangat murah, paling mahal berkisar Rp300 ribu.

Kalau untuk baju kaos merek Thailand, bisa dibeli dengan harga sekitar 70-100 baht atau Rp17 ribu sampai Rp25 ribu. Pasar tradisionalnya sangat bersih berlantaikan tegel keramik. Pembeli tentu saja merasa nyaman berbelanja. Tak ada becek, apalagi bau busuk sampah. Tidak seperti pasar tradisional di Kota Medan yang selalu becek, kotor dengan tumpukan sampah dan bau.

Usai melihat kondisi pasar dan Kota Hat Yai di siang hari, kami kemudian menyempatkan diri menikmati menu sea food di salah satu restoran di sudut jalan. Hampir rata-rata kedai nasi kaki lima atau pun restoran menyediakan makanan seafood.

Ini karena kota ini berada di tepi Laut Andaman. Jika Anda berkunjung ke kota ini, Anda harus mencicipi masakan kebanggaan Thailand, Tom Yam yang berisikan seafood. Banyak juga muslim Thailand yang membuka Bagi Anda yang ingin mengitari Hat Yai dengan kendaraan umum, tak perlu khawatir. Di Kota itu ada angkutan umum bernama Tuk-tuk, bentuknya seperti angkot roda tiga. Sarana angkutan ini bebas trayek dan bisa mengantar kita keliling kota.

Selain itu ada juga ojek dengan pengemudi yang mengenakan seragam khusus bernomor punggung. Para pengemudi Tuk-tuk dan ojek akan melayani kita dengan senyuman dan ramah tamah.

Hat Yai juga menawarkan eksotis tukang pijatnya. Setiap hotel menyajikan tukang pijat plus dengan bayaran sekira 300 bath untuk pijat biasa, jika pijat plus 1000 bath. Di Hat Yai, berbagai sajian seks ditawarakan. Salah satu yang terkenal di belahan bumi ini adalah Thai Girl Show. Show ini menyajikan hiburan berbau seks, mulai dari tari telanjang hingga show yang memukau. Thai Girl Show dapat kita lihat dengan membayar 400 Bath atau berkisar Rp120 ribu- Rp150 ribu.

Setelah menikmati Kota Hat Yai selama dua hari, kami kembali lagi Ke Penang. Dengan menempuh perjalanan selama lima jam, sore harinya kami sudah berada di Penang dan menginap di sebuah hotel yang sangat sederhana dan murah meriah tentunya.

Begitu sampai di Hotel, kami beristirahat sebentar dan membaringkan badan di sebuah kasur yang telah disediakan. Begitu capek telah terobati, kami bergegas untuk berkeliling dan berbelanja di sebuah mall pusat perbelanjaan yakni Comtar. Disana juga menjual berbagai barang-barang seperti pakaian, handphone, sepatu, laptot dan lain-lainnya. Bagi yang menyenangi sepatu, Comtar juga menjual sandal maupun sepatu yang bermerek Vincci. Harganya sangat murah sekali dibandingkan bila kita membelinya di Medan.

Melihat bentuknya yang unik serta menarik, membuat kami, kaum wanita tergiur untuk membeli sebanyak-banyaknya. Bahkan para wartawan pria juga membeli sepatu atau sandal Vincci untuk istri-istri mereka sebagai oleh-oleh dari Penang.

Bila dibandingkan harga di Medan, harga sandal bermerek Vincci mencapai Rp400 hingga Rp500 ribu. Tapi, disana harganya sangat murah. Dengan 50 ringgit, kita sudah dapat sandal dengan model yang menarik dan modis.

Setelah asyik dan keletihan berbelanja dengan membeli oleh-oleh yang cukup banyak, akhirnya kami beristirahat dan tidur, sebab keesokkan harinya kami harus bersiap dan berbenah untuk kembali ke Medan. Itulah perjalanan kami selama di Negeri orang. Dan cerita tentang Danok, Hat Yai menjadi pengalaman yang berarti bagi kami dan tidak akan pernah terlupakan. Bila anda penasaran, anda dapat mengunjunginya ( Berita Sore/Yenni Artika )