Permasalahan Pemilu 2009 Lebih Kompleks

Medan ( Berita ) : Kendala dan permasalahan yang akan dihadapi pada pelaksanaan pemilu legislatif 2009 lebih kompleks dibanding pemilu sebelumnya, 2004.

Pengamat politik Universitas Sumatera Utara (USU), Warjio MA, di Medan, Kamis [12/03] , mengatakan, salah satu masalah krusial yang perlu mendapatkan perhatian serius adanya kecenderungan prilaku masyarakat pemilih yang dikhawatirkan dapat menurunkan tingkat partisipasi.Bahkan menjadi golput pada dalam pemilu kali ini.

“Indikasi peningkatan golput ini dapat dilihat dari pelaksanaan pilkada di beberapa daerah seperti pilkada gubernur Jawa Barat yang mencapai 32,7 persen, Jawa Tengah 41,5 persen, DKI Jakarta 34,59 persen. Bahkan tingkat golput pada pemilu 2009 ini diperkirakan mencapai 40 persen,” katanya. “Persoalan lain pada pemilu kali ini adalah bagaimana kedudukan perempuan dalam pemilu 2009,” katanya.

Pemberdayaan partisipasi politik perempuan di parlemen menjadi salah satu agenda bangsa. Tujuannya, tidak hanya menambah jumlah anggota parlemen perempuan, namun peningkatan kemampuannya dalam menegakkan isu-isu publik. Termasuk isu keadilan jender yang selama ini diabaikan.

Tuntutan akan jumlah minimal keterwakilan di parlemen perlu dibarengi peningkatan kapasitas pemahaman, kemampuan dan komitmen keterlibatan perempuan dalam merespon problem masyarakat, katanya.

Ia mengatakan, lahirnya UU no 2 tahun 2008 tentang parpol dan UU no 10 tahun 2008 tentang pemilu makin memberikan jaminan peluang bagi peningkatan keterwakilan perempuan di arena politik.

Namun di sisi lain juga memberikan tantangan bagi perempuan untuk meyakinkan kepada masyarakat maupun partai politik bahwa mereka layak untuk mengisi peluang dan siap berkompetisi dengan mitranya, laki-laki. Kesiapan perempuan dalam pentas politik akan diuji coba dalam pemilu. ( ant )