Makna Tahun Hijriyah Bagi Umat Islam Indonesia


Banda Aceh ( Berita ) :  Tidak ada sesuatu yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.  Perubahan itu terjadi dengan sendirinya karena dimakan usia seperti umur suatu benda yang lama kelamaan terus berubah tanpa harus ada campur tangan manusia.

Namun, perubahan perilaku manusia memerlukan ikhtiar yang diawali niat, termasuk memaknai pergantian tahun baru Islam 1 Muharram 1430 Hijriyah. Apa makna yang mestinya dicermati masyarakat Islam Indonesia menyambut tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1430 Hijriyah?

Rektor IAINB Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh Prof Yusny Saby mengatakan, masyarakat muslim perlu memahami makna Hijriyah yang pernah dilakukan Rasulullah SAW pada 622 Masehi bersama para sahabat dan pengikutnya dari Makkah ke Madinah.

“Sebelum melakukan hijrah, Rasulullah SAW sebelumnya mengkaji  kemungkinan dan mempelajari langkah diplomasi. Menurut sejarah terjadi tiga hijrah pada masa itu. Pertama hijrah Rasulullah sendiri, kedua para sahabat, dan ketiga Rasulullah dan sahabat,” katanya.

Dilihat dari sudut pandang hijrah itu sendiri tidak semuanya berjalan mulus atau sukses. Hijrah yang dilakukan Rasulullah sendiri kurang mendapat perhatian, demikian juga perjalanan hijrah yang dilakukan para sahabat ke wilayah Spayol tidak bertahan lama sebagaimana diharapkan.

Hijrah ketiga yang dilakukan Rasulullah bersama sahabat berjalan sukses karena terprogram baik. Hijrah inilah menjadi cacatan sejarah karena utusan Allah SWT dapat melakukan perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat Madinah dan sekitarnya dari yang tidak baik menjadi baik.

Oleh karena itu, umat Islam Indonesia harus memahami makna hijrah secara makro. Hijrah bukan hanya pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya. Tapi makna hijrah secara luas adalah perubahan, termasuk perubahan pola pikir dalam menempuh perjalanan hidup di dunia ini.

“Perubahan akan bermakna manakala pelakunya berniat ikhlas apa yang dikerjakan bernilai ibadah. Bertasbih sambil bekerja juga mengandung makna hijrah apabila sebelumnya kita biasa mengerjakan sesuatu tanpa nilai ganda atau suka  bernyanyi sambil bekerja,” katanya.

 

Bernilai ganda

Karena itu masyarakat muslim negeri ini hendaknya dapat memaknai tahun baru Islam 1 Muharram 1430 Hijriyah bagi perubahan bernilai ganda. Budaya kurang baik tidak bernilai ganda apalagi tidak berguna dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat sudah waktunya ditinggalkan.

“Jadi, memperingati tahun Islam bukan hanya sebatas kata tanpa makna tapi kita hendaknya memaknai Hijriyah dengan tindakan perubahan sesuai dinukilkan Rasulullah SAW saat melakukan hijrah. Momentum tahun baru Islam ini sejatinya disahuti perubahan bernilai ganda,” katanya.

Harus dipahami bahwa makna pergantian tahun baru Islam itu sebagai momentum perubahan budaya secara individual (ibda’ binafsih), keluarga dan masyarakat yang selama tahun sebelumnya mungkin masih ada kekurangan atau kealpaan, diarah lebih baik di masa mendatang.

Perubahan ini dapat dilakukan manakala setiap individu mampu “menghijrahkan” pemikirannya bagi kemajuan dalam kehidupan secara pribadi. Itu langkah minimal yang sejatinya dilakukan setiap muslim dalam memaknai tahun baru Islam, kata Rektor Yusny Saby. 

Secara makro, sejalan makna tahun hijrah dapat dilakukan melalui upaya menciptakan perubahan sistem pendidikan di setiap jenjang. Kurikulum pendidikan yang selama ini belum memuat makna berupa pernik-pernik hijriyah agaknya perlu diaktualisasikan agar peserta didik memahaminya.

“Ini dapat dilakukan masyarakat Aceh melalui pendidikan dengan muatan lokal sesuai syariat Islam yang diberlakukan secara kaffah (menyeluruh) dalam segala sisi kehidupan, termasuk bidang pendidikan sebagai pencipta perubahan di kalangan masyarakat,” katanya.

Banyak cara dapat dilakukan untuk memasyarakatkan kata hijriyah kepada masyarakat seperti sosialisasi nama-nama bulan dalam hitungan Islami (hijriyah) kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan formal dan informal, organisasi sosial dan lembaga Pemerintah.

Perubahan yang dimulai dari rumah tangga dan dilanjutkan  melalui lembaga pendidikan akan membawa dampak positif sejalan dengan perkembangan. Semua itu harus dimulai dari sekarang sebagai menciptakan negerasi muda Islami yang mampu melakukan perubahan dalam kehidupan.

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang akan mengubahnya,” katanya sambil menambahkan, ada tidaknya perubahan dalam kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat sangat tergantung pada individu atau kelompok tersebut.

 

Makna hijrah

Secara makro makna hijrah itu luas. Bisa jadi bermakna sebagai momentum penyatuan persepsi bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kesejahteraan maupun perubahan secara kaffah (menyeluruh), termasuk organisasi sosial dan politik.

Agar makna hijrah lebih kentara dalam kehidupan, menurut Prof Suwito, perubahan dalam segala bidang penting sebagai upaya penyatuan umat Islam Indonesia. Momentum hijriyah ini dinilai tepat untuk mengukit prestasi secara individu serta kelompok, ujarnya.

Jika ini dapat diwujudkan tentu makna hijrah lebih menjadi lebih representatif bagi kontribusi pemikiran berkualitas untuk pembangunan umat Islam Indonesia, kata Suwito, yang juga guru besar Filsafat Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN)B Syarief Hidayatullah Jakarta itu.

Kontribusi pemikiran bagi kemajuan umat Islam itu penting dilakukan melalui berbagai kegiatan dan media, sehingga perubahan dalam kehidupan sesuai dengan harapan, yakni maju pemikiran dan kreatifitas pekerjaan, termasuk sosialisasi budaya Islami kepada masyarakat muslim negeri ini.

Seperti nama bulan Arab Muharram, Shafar, Rabi’ul-awwal, Rabi’ul-akhir, Jumadil-awwal, Jumadil-akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zulka’edah, dan Zulhijjah sudah saatnya  disosialisasikan, sehingga generasi muda Islam negeri ini dapat memaknainya dalam kehidupan.

Iwan Gayo dalam “Buku Pintar Seri Senior” menyebutkan, tahun ini

dihitung menurut perjalanan bulan, yaitu terbit tenggelamnya bulan ketika mengedari bumi, yang lamanya 29 hari, 12 jam, 44 menit, 9 detik. Lamanya setahun kira-kira 354 hari, yang terbagi dalam 12 bulan dan setiap bulan antara 29-30 hari.

Zulhijjah merupakan bulan terakhir dalam hitungan Islam dan dimulai setiap 1 Muharram. Tahun Islami dihitung sejak berlangsungnya hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Menurut perkiraan tahun Gregorian, hijrah itu jatuh pada 15 Juli 622 Masehi.

Manakala kontribusi pemikiran representatif dikembangkan dan diimplementasikan dalam kehidupan, tentu lebih makna dibanding memberi informasi pro-kontro yang sulit dipahami masyarakat. Makna seperti ini sejatinya menjadi perhatian ulama dan pakar Islam Indonesia. (ant )