Saatnya Umat Islam Serius Bantu Palestina
Pertempuran di Palestina, tepatnya di kawasan Jalur Gaza sangat tidak berimbang. Ibarat David melawan Goliat. Sudah pasti, Palestina dalam hal ini diwakili kelompok garis keras Hamas tidak mampu berbuat banyak, sementara lawan seenaknya membombardir kawasan-kawasan yang dicurigai merupakan basis pejuang rakyat Palestina.
Persenjataan perang keduanya tidak seimbang. Pejuang Hamas menggunakan misil jarak jauh berulang-kali menemui sasaran perkampungan sipil Israel, namun jumlah yang tewas dilaporkan hanya seorang saja. Secara sporadis pemuda Palestina melempari tentara Israel dengan batu atau menggunakan ketapel, sehingga dampaknya sangat tidak berarti.
Sementara itu, bombardir mesin perang Israel menimbulkan tragedi kemanusiaan luar biasa. Dunia pun terkejut dengan kebiadaban Israel menggunakan pesawat tempur dan helikopter perangnya.
Jatuhnya banyak korban jiwa, lebih 300 orang tewas, bahkan diyakini jumlah korban akan semakin besar, karena masih ratusan jiwa lainnya mengalami luka serius – berat maupun ringan.
Mereka saat ini tidak mendapatkan perawatan sebagaimana semestinya, karena Israel terus-menerus melancarkan serangan, sehingga upaya membantu rakyat Palestina baik yang luka-luka tidak dapat dilakukan sebagaimana mestinya. Rumah sakit setempat tidak mampu menampung begitu banyak korban yang luka parah.
Begitu juga bagi masyarakat Palestina lainnya yang kini ketakutan dan mengungsi ke lokasi-lokasi aman, termasuk mereka yang berupaya ke luar dari negaranya menuju Mesir dan negara tetangga lainnya. Mereka butuh bantuan pangan, kesehatan dll sampai situasinya kelak membaik agar bisa kembali ke kampung halaman. Tak pelak lagi, kini rakyat Palestina khususnya yang mendiami Jalur Gaza
menghadapi krisis kemanusiaan kecuali pembombardiran dihentikan dan Israel dan membuka akses jalan masuk bagi bantuan kemanusiaan, termasuk bahan makanan kebutuhan masyarakat di sana.
Jalan masuk sudah ditutup Israel sejak setahun lalu sehingga warga di sana kesulitan mendapatkan bahan makanan dll. Ratusan ribu penduduk di Jalur Gaza bergantung pada bantuan kemanusiaan dari badan bantuan internasional untuk mendapatkan kebutuhan hidup — air bersih, makanan, sanitasi dll. Kondisi itu semakin diperburuk dengan serangan besar-besaran Israel dalam beberapa hari belakangan ini.
Justru itu, empati yang ditunjukkan masyarakat dunia, termasuk Indonesia yang segera mengirimkan sejumlah sukarelawan, termasuk petugas medis dan obat-obatan patut diberikan apresiasi. Saat ini tiga orang perwakilan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia segera berangkat ke Palestina untuk ikut memberikan bantuan kepada rakyat di sana. Salah seorang relawan medis Mer-C dr. Jose Rizal mengatakan di Jakarta, ketiga perwakilan Mer-C itu akan membawa sejumlah bantun dari Indonesia untuk Palestina. Selain bantuan berupa obat-obatan ada juga sembako. Mer-C akan masuk ke Gaza, Palestina melalui Mesir. Jika Mer-C akhirnya tidak dapat masuk ke Palestina maka bantuan tersebut akan diserahkan di perbatasan.
Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Departemen Kesehatan (Depkes) juga sudah menyiapkan bantuan obat-obatan senilai Rp2 miliar kepada bangsa Palestina menyusul serangan membabi-buta Israel hingga mengakibatkan jatuhnya ratusan korban sipil maupun para pejuang Hamas.
Bantuan dari negara-negara lain, termasuk Arab pun berdatangan. Hanya saja, kedatangan para sukarelawan dari berbagai negara itu terhambat penutupan akses masuk oleh Israel dan semakin diperburuk lagi dengan masih berlangsungnya peperangan di kawasan Jalur Gaza. Israel terus melancarkan operasi di Jalur Gaza hingga kemarin dan gerilyawan Palestina menembakkan roket-roket lebih jauh ke dalam wilayah Israel selatan.
Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1430 H yang diperingati umat Islam seluruh dunia hendaknya bisa menyadarkan pentingnya kekompakan dan kesatuan sesama Muslim untuk saling membantu bagi saudaranya yang dalam kesulitan, seperti rakyat Palestina saat ini. Saatnya umat Islam serius membantu rakyat Palestina.
Jangan hanya sekadar mengucapkan kata-kata prihatin dan ikut bersedih atas terjadinya tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza. Tapi perlu ditunjukkan dengan implementasi di lapangan. Negara-negara Arab perlu menyadari kelemahannya selama ini karena bisa dipecah-belah oleh negara imperialisme dan kapitalisme seperti Amerika. Lihat saja kesepakatan mereka yang baru bersidang Rabu (besok). Padahal, situasi di Palestina sudah begitu memprihatinkan.
Pantaslah kalau Pemimpin Libya Moamer Kadhafi mengecam para pemimpin Arab sebagai “pengecut” atas pemboman mematikan Israel terhadap Jalur Gaza. Hal ini hendaknya dapat menyadarkan umat Islam untuk menunjukkan jati dirinya bahwa saatnya Islam bangkit.=